Buku Rumi

Buku Rumi Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Buku Rumi, Book shop, Bantul.

05/05/2026

Setiap pengorbanan yang dilakukan dengan tulus tidak pernah benar-benar hilang. Apa yang dilepaskan—baik itu harta, waktu, ego, atau keinginan—akan kembali dalam bentuk karunia yang sering kali lebih bermakna, meski tidak selalu dalam bentuk yang sama. Dalam logika spiritual, memberi dan melepaskan justru membuka ruang bagi anugerah yang lebih besar untuk masuk ke dalam hidup.

Sebaliknya, hal-hal yang paling kita lekatkan dan sulit kita lepaskan justru berpotensi menjadi sumber ujian. Keterikatan yang berlebihan pada sesuatu—baik itu manusia, harta, maupun ambisi—akan diuji untuk mengukur sejauh mana ketulusan dan ketergantungan kita kepada Allah. Melalui petuah ini, Rumi mengingatkan bahwa kebebasan jiwa terletak pada keikhlasan melepaskan, dan kedewasaan spiritual tumbuh ketika kita mampu menghadapi ujian dari apa yang paling kita cintai.

Dapatkan buku-buku karya Jalaluddin Rumi di marketplace kami (Shopee - Tiktoshop/Tokopedia) : bukurumi

28/03/2026

Manusia sering terjebak dalam dua arah waktu: masa lalu yang penuh penyesalan dan masa depan yang dipenuhi kekhawatiran. Keduanya membentuk “simpul mati” dalam batin—ikatan yang membuat jiwa kehilangan kebebasannya. Masa lalu tidak bisa diubah, dan masa depan belum tentu terjadi, namun pikiran manusia terus berputar di antara keduanya, menciptakan beban yang sebenarnya bersumber dari ilusi waktu dalam kesadaran.

Rumi mengajak manusia kembali ke satu-satunya ruang yang nyata: saat ini. Kedamaian tidak ditemukan dengan mengoreksi masa lalu atau mengendalikan masa depan, melainkan dengan hadir sepenuhnya di momen sekarang. Ketika manusia mampu melepaskan keterikatan pada penyesalan dan kecemasan, ia akan merasakan keluasan batin yang selaras dengan alam semesta. Dalam kehadiran yang utuh itulah, jiwa menjadi ringan, jernih, dan damai.

27/03/2026

Tidak ada pertemuan yang benar-benar kebetulan; setiap orang yang hadir dalam hidup kita membawa resonansi batin—sebagian dari diri kita yang mungkin belum kita sadari. Mereka bisa menjadi pantulan dari luka, harapan, nilai, atau potensi yang tersembunyi dalam diri, sehingga kehadiran mereka terasa “akrab” meski baru dikenal.

Dalam makna yang lebih dalam, Rumi mengajarkan bahwa hubungan adalah jalan untuk mengenal diri. Orang lain tidak hanya hadir sebagai sosok di luar, tetapi sebagai jembatan menuju pemahaman batin kita sendiri. Ketika kita mencintai, terluka, atau belajar dari seseorang, sesungguhnya kita sedang berjumpa dengan bagian diri kita yang dititipkan dalam jiwa mereka. Dengan demikian, setiap pertemuan adalah undangan untuk lebih mengenal, menerima, dan menyempurnakan diri.

Follow Follow Follow Rumi menggunakan bahasa alam untuk menyampaikan hukum ruhani yang sederhana namun mendalam: hidup s...
02/01/2026

Follow
Follow
Follow

Rumi menggunakan bahasa alam untuk menyampaikan hukum ruhani yang sederhana namun mendalam: hidup selalu bekerja melalui sebab dan akibat. “Daun-daun” digambarkan seakan memiliki tubuh dan suara, seolah alam sendiri terus mengingatkan manusia bahwa setiap perbuatan, niat, dan sikap hati akan kembali kepada pelakunya. Apa yang ditanam—baik berupa kata, tindakan, maupun niat tersembunyi—pada akhirnya akan tumbuh dan dipanen, entah sebagai kedamaian atau sebagai penyesalan.

Lebih dalam lagi, Rumi menekankan bahwa cinta adalah satu-satunya benih yang layak ditanam. Menanam cinta berarti menghadirkan kasih, keikhlasan, dan kebaikan dalam setiap gerak hidup, bahkan ketika tanah terasa keras dan hasilnya belum tampak. Dalam pandangan Rumi, cinta tidak pernah sia-sia; ia mungkin tumbuh perlahan, tetapi buahnya selalu menyejukkan jiwa. Dengan menanam cinta, manusia bukan hanya menyiapkan panen kebahagiaan bagi dirinya sendiri, melainkan juga menebar kehidupan bagi orang lain dan bagi semesta.

Rumi ini menggambarkan hati manusia sebagai pengelana ruhani yang tidak pernah diam, selalu bergerak mencari makna dan k...
31/12/2025

Rumi ini menggambarkan hati manusia sebagai pengelana ruhani yang tidak pernah diam, selalu bergerak mencari makna dan kebenaran. “Makrifat mengalir” menandakan bahwa pengetahuan sejati tentang Tuhan tidak datang dari hafalan atau logika semata, melainkan dari perjalanan batin yang terus berlangsung. Hati yang hidup adalah hati yang berjalan, mengalami, tersesat, lalu menemukan kembali arah—dan dalam proses itulah makrifat hadir sebagai aliran kesadaran yang lembut namun mendalam.

Sementara itu, tubuh digambarkan bukan sebagai bangkai yang mati, melainkan sebagai sesuatu yang kesepian, “seperti garam di puncak gunung”. Garam tetaplah bernilai, namun terasing dari tempat asalnya, jauh dari lautan. Metafora ini menegaskan bahwa tubuh tanpa keterhubungan dengan hati dan makrifat akan terasa hampa, bukan mati, tetapi tercerabut dari sumbernya. Bagi Rumi, manusia baru menjadi utuh ketika tubuh, hati, dan perjalanan ruhani saling terhubung—ketika yang lahiriah kembali bersatu dengan samudra makna yang melahirkannya.

Rumi menggunakan istilah riba sebagai metafora yang sengaja dibalik maknanya. Dalam kehidupan materi, riba dipandang seb...
25/12/2025

Rumi menggunakan istilah riba sebagai metafora yang sengaja dibalik maknanya. Dalam kehidupan materi, riba dipandang sebagai sesuatu yang tercela karena melahirkan ketidakadilan dan keserakahan. Namun dalam perkara cinta, Rumi justru mengatakan bahwa “riba diperbolehkan”, sebab cinta tidak tunduk pada hukum hitung-hitungan dunia. Ketika seseorang memberimu cinta, membalasnya dengan kadar yang sama saja belum cukup; cinta sejati justru menuntut kelapangan hati untuk memberi lebih dari yang diterima, tanpa takut rugi atau berkurang.

Lebih dalam lagi, Rumi ingin menegaskan bahwa cinta adalah energi ruhani yang semakin dibagikan justru semakin bertambah. Membalas cinta dengan berlipat ganda berarti menanggapi kebaikan dengan kebaikan yang lebih luas, kasih dengan kasih yang lebih dalam, dan kehadiran dengan kesungguhan jiwa. Dalam logika spiritual Rumi, cinta tidak pernah miskin karena memberi; ia hanya miskin ketika ditahan. Maka, “riba” dalam cinta bukanlah penindasan, melainkan bentuk tertinggi dari kemurahan hati dan jalan menuju kelimpahan batin.

Jalaluddin Rumi mengingatkan bahwa pencarian akan kesempurnaan dalam diri orang lain sering kali berujung pada kesepian....
23/12/2025

Jalaluddin Rumi mengingatkan bahwa pencarian akan kesempurnaan dalam diri orang lain sering kali berujung pada kesepian. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang rapuh, penuh kekurangan, dan selalu berada dalam proses menjadi. Ketika seseorang menuntut teman atau pasangan yang tanpa cela, ia sesungguhnya sedang menolak realitas kemanusiaan itu sendiri. Akibatnya, relasi tidak pernah benar-benar terjalin, karena yang dicari bukan manusia yang hidup, melainkan gambaran ideal yang tak pernah ada.

Lebih dalam, Rumi menegaskan bahwa cinta sejati lahir dari penerimaan, bukan dari tuntutan. Menerima kekurangan berarti melihat seseorang secara utuh—kelebihan dan kelemahannya—lalu memilih untuk tetap mencintai. Di sanalah cinta berubah menjadi jalan pendewasaan jiwa, karena ia menuntut kesabaran, pengertian, dan kerendahan hati. Dalam pandangan Rumi, cinta bukanlah pelarian dari ketidaksempurnaan, melainkan keberanian untuk tinggal dan bertumbuh bersama di dalamnya.

Ajakan mendalam untuk mempraktikkan kesadaran penuh (mindfulness) dan kepasrahan kepada Tuhan. Dalam paragraf pertama, R...
22/12/2025

Ajakan mendalam untuk mempraktikkan kesadaran penuh (mindfulness) dan kepasrahan kepada Tuhan. Dalam paragraf pertama, Rumi menekankan bahwa terjebak dalam masa lalu adalah kesia-siaan, karena asal-usul dan penyesalan masa lalu berada di luar kendali manusia—bahkan misteri penciptaan semesta pun tetap menjadi rahasia Ilahi. Begitu p**a dengan masa depan; rasa takut akan hari esok dianggap tidak relevan karena segala sesuatu di dunia ini bersifat fana. Dengan menyadari bahwa penderitaan maupun kebahagiaan duniawi tidak ada yang abadi, seseorang seharusnya bisa melepaskan beban kecemasan yang sering kali melumpuhkan langkah.

Rumi menyoroti pentingnya menghargai "saat ini" (the present moment) sebagai satu-satunya realitas yang kita miliki. Ketika pikiran seseorang terpecah antara bayang-bayang masa lalu yang sudah berlalu dan kekhawatiran masa depan yang belum terjadi, ia secara tidak sadar kehilangan kesempatan untuk mensyukuri dan menjalani hidup yang sedang berlangsung hari ini. Bagi Rumi, waktu sekarang adalah pintu menuju kedekatan dengan Sang Pencipta. Dengan berhenti menoleh ke belakang dan berhenti merasa gentar terhadap hari esok, manusia dapat menemukan kedamaian batin dan kebahagiaan sejati dalam setiap helaan napas yang ia miliki saat ini.

Maulana Jalaluddin Rumi ini mengajarkan bahwa cinta yang paling murni tidak selalu harus dipamerkan atau diumumkan, mela...
19/12/2025

Maulana Jalaluddin Rumi ini mengajarkan bahwa cinta yang paling murni tidak selalu harus dipamerkan atau diumumkan, melainkan dijaga dalam keheningan dan kedalaman batin. “Mencintai dengan penuh kerahasiaan” melambangkan keikhlasan, ketulusan, dan kesabaran dalam mencintai—baik kepada manusia maupun kepada Tuhan—tanpa dorongan untuk diakui atau dipuji. Seperti benih yang ditanam di dalam tanah, cinta yang disimpan dengan rendah hati justru memiliki kekuatan untuk tumbuh secara alami, karena ia tidak terpapar oleh gangguan ego, riya, atau kepentingan duniawi.

Lebih dalam lagi, Rumi menegaskan bahwa segala sesuatu yang ingin bertumbuh membutuhkan ruang sunyi dan waktu. Benih yang tersembunyi memperoleh nutrisi, perlindungan, dan proses pematangan sebelum akhirnya muncul ke permukaan. Demikian p**a harapan dan cita-cita yang dilandasi cinta sejati: ia akan tercapai jika dijalani dengan kesabaran, keteguhan, dan kepercayaan kepada proses ilahi. Dalam pandangan Rumi, keheningan bukanlah kelemahan, melainkan tempat di mana rahasia Tuhan bekerja, menumbuhkan apa yang kelak akan hadir sebagai buah yang matang dan bermakna.

Kesalahan atau dosa adalah bagian dari kondisi manusiawi, namun yang menentukan nasib seseorang bukanlah jatuhnya, melai...
17/12/2025

Kesalahan atau dosa adalah bagian dari kondisi manusiawi, namun yang menentukan nasib seseorang bukanlah jatuhnya, melainkan sikapnya setelah jatuh. “Jatuh ke dalam air” melambangkan perbuatan dosa atau kekeliruan yang bisa menimpa siapa saja. Rumi ingin menekankan bahwa dosa itu sendiri bukan akhir dari segalanya, selama manusia masih memiliki kesadaran untuk bangkit, menyesal, dan kembali kepada jalan yang benar melalui taubat. Dengan demikian, harapan dan rahmat Tuhan selalu terbuka bagi siapa pun yang mau kembali.

Lebih dalam lagi, “tenggelam karena tidak bisa keluar dari air” menggambarkan keadaan batin seseorang yang terjebak dalam dosa karena keputusasaan, pembenaran diri, atau penundaan taubat. Yang menghancurkan manusia bukanlah dosanya, melainkan keengganan untuk berubah dan kembali. Dalam perspektif Rumi, taubat bukan sekadar pengakuan kesalahan, tetapi gerak jiwa menuju kesadaran dan penyucian diri. Selama seseorang masih mau berusaha keluar dari “air” itu, ia sesungguhnya sedang bergerak menuju keselamatan dan kedewasaan spiritual.

Rasa syukur adalah fondasi kedewasaan batin dan kebijaksanaan hidup. Seseorang yang tidak mampu menghargai apa yang tela...
16/12/2025

Rasa syukur adalah fondasi kedewasaan batin dan kebijaksanaan hidup. Seseorang yang tidak mampu menghargai apa yang telah dimilikinya cenderung memandang hidup dengan kacamata kekurangan, sehingga ketika kehilangan terjadi, ia lebih sibuk menyalahkan keadaan daripada bercermin ke dalam diri. Dalam pandangan Rumi, kehilangan sering kali bukan sekadar peristiwa lahiriah, melainkan cermin yang menyingkap kualitas hati: apakah ia dipenuhi rasa terima kasih atau dikuasai keluhan.

Lebih dalam lagi, ungkapan ini mengajarkan bahwa hakikat kehilangan tidak dapat dipahami tanpa kesadaran akan karunia yang telah lebih dulu hadir. Syukur melatih jiwa untuk melihat makna, bukan sekadar kepemilikan, dan membuat seseorang mampu menerima hilangnya sesuatu dengan kebijaksanaan, bukan kepahitan. Bagi Rumi, orang yang bersyukur akan memahami bahwa apa yang datang dan pergi adalah bagian dari pendidikan ruhani, sedangkan orang yang lalai dari syukur akan terus terjebak dalam pertanyaan dan penyesalan tanpa pernah menemukan jawaban yang menenangkan.

Address

Bantul
55711

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Buku Rumi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category