12/08/2016
Hari hari kawan saya ini yang dipenuhi kerjaan rumah tak henti henti. Mulai dari sarapan pagi, anter sekolah sana sini, cuci gosok, sampai membereskan rumah di malam hari. Semua benar benar dikerjakan sendiri.
"Anak anak kenapa gak pake anter jemput sekolah aja, Kak?" tanyaku padanya suatu hari. Pikirku, mungkin akan sedikit meringankan kerjanya.
"Ngurangin duit belanjaan aku aja itu mah, mbak Tamii.. kata Ayahnya kalau mau pake ojek, bayarnya dari uang belanja yang dikasih. Tekor. Mending anter sendiri.."
Aku diam. Mencoba maklum, mungkin anggaran suaminya memang terbatas.
Tapi.., setiap bertandang kesana, kulihat hampir tak pernah beliau turun tangan membantu pekerjaan istrinya. Hari liburnya diisi dengan membaca koran, atau sibuk dengan konsol permainan..
**
Ini salah satu restoran favorit kami dan anak anak. Malam itu, lagi lagi kami berkunjung ke sana. Sama seperti belasan keluarga lainnya.
Selesai dengan makanannya, suamiku beralih pegang anak anak. Bergantian.
Sembari makan, iseng ku edarkan pandanganku ke sekeliling restoran. Menarik saat ku lihat para ibu yang berjuang setengah mati untuk menikmati makanannya, sekaligus menyuapi anak anak dan mengejar mereka kemana mana.
Sang suami ada di sebelahnya. Asyik dengan hapenya. Entah situs atau percakapan apa yang ia buka, sehingga jauh lebih menarik ketimbang bercengkrama dengan istri dan anak anaknya.
Dan ini tidak satu. Kuhitung dua.. tiga.. wajah wajah ibu yang kewalahan, tanpa pertolongan..
***
"Aaah, kalo gw mah, ada sama gak ada Ayahnya di rumah sama aja!"
Begitu salah seorang tetangga berkomentar, saat saya urun pendapat agar acara masak masak bergeser hari supaya bisa tektok gantian pegang bocah sama Abinya.
"Eh, maksudnya gimana?" selidik saya penasaran.
"Ya sama aja. Ayahnya mana mau disuruh jagain bocah. Yang ada ujung ujungnya gw gembol juga itu bocah ngikut semua.."
Memori saya berkelebat. Di keseharian yang saya tau, anak tetangga ini memang hampir tak pernah terlihat nempel sama ayahnya.
Bahkan di hari libur saat ibunya sibuk di dapur pun, mereka hanya akan berteriak minta tolong mencari ibunya. Padahal si ayah, persis ada di hadapan mereka.
Ayahnya, ada tetapi tiada..
****
Saya jadi membayangkan, dengan pola relasi seperti itu, apa yang anak anak pelajari dari Ayah Ibu mereka?
Mungkin saat dewasa nanti, si anak lelaki akan tunbuh jadi sosok suami yang serba dilayani tapi tak pernah ringan tangan membantu istri.
Baginya rumah tangga adalah dikotomi peran : tugas Ibu seputar rumah dan anak anak, tugas bapak hanyalah tentang penghasilan.
Ia lakukan itu, persis seperti ayahnya
Mungkin saat dewasa nanti, si anak perempuan menjelma jadi istri yang serba melakukan semuanya sendiri. Lidahnya kelu, meski hanya sekedar meminta dibantu suami.
Pagi sampai malamnya sibuk dengan pekerjaan rumah tangga yang tak usai usai. Ia kelelahan, tetapi tidak tau caranya berbagi beban. Semua ia simpan dan tahan.
Ia lakukan itu, persis seperti Ibunya.
****
Mungkin saatnya kita mengevaluasi diri, pola rumah tangga seperti apa yang sedang kita tanamkan pada mereka?
Tahukah kawan.. mereka, anak anak kita, membangun persepsi tentang pernikahan pertama kali adalah dari kita, dari ayah ibunya..