7Heaven Bookstore

7Heaven Bookstore guyz!! bwat kalian yang punya hobi baca,, dan menginginkan suasana toko buku yang ramah dan hommy bgt??? buku asing
-. novel indonesia
-. majalah-majalah import
-.

lngsung dateng aja ke 7heaven bookstore,, dsini kita punya :

-. novel classic asing (inggris, jerman, prancis, dll )
-. dvd original

harganya dijamin murah2,, for ex ( majalah import : teen vogue IDR.35000, nylon IDR.40000 ) soooooo,,, yg lainnya juga pasti murah2 kaaannn,,,

buat kalian yg bingung nyari toko kita,, atau di luar daerah bandung,, kita juga bisa anterin buku atau majalah pesenan k

alian koq,,, dengan biaya GRATIS!!!,,, enak kan??? kecuali kl bukan di kota bandung yah, kita kenain biaya antar kaya paket biasanya,,, (cuman sekitar 5000an koq) hoho,,

buruan pesen dan berlangganan di toko kita,,,
bisa lewat wall page ini,,, atau juga lewat creator page ini,,,,

call us : 022 - 93373193
follow us

cheers!!!

Taraksa [Nomor 4 : Yang Diam]Naskah : Sutansyah Marahakim Ilustrasi : Fadhel AdamAdaptasi Twitter : Anissa Rahma Sukardi...
20/11/2012

Taraksa [Nomor 4 : Yang Diam]
Naskah : Sutansyah Marahakim
Ilustrasi : Fadhel Adam
Adaptasi Twitter : Anissa Rahma Sukardi
--
Serial Taraksa adalah kisah yang terinspirasi dari petilan . Digagas pertama kali oleh Majalah EPIK, cerita ini akan diangkat sebagai naskah seni pertujukan : Teater EPIK vol. 5. Cerita bersambung ini akan terus berlangsung sampai mendekati waktu pertunjukan. Hingga saat itu, kami akan turut memediasi cerita ini. Juga silakan ikuti linimasa untuk mengetahui lebih jauh pergulatan diri seorang Taraksa. Mari nikmati rangkaian cerita Taraksa ini, selamat membaca!
--
Berdiri dengan kokoh, memandang semua yang terjadi di sekitar. Hanya mengamati. Kadang bergerak pelan mengikuti arah angin. Menyediakan tempat untuk burung-burung beristirahat, hingga mereka mampu pergi melintasi dunia. Menyediakan jalur pergerakan semut-semut yang sedang bertualang, membiarkan mereka berjelajah ke tempat baru seiap saat. Sebuah tempat berteduh bagi mereka yang menelan terlalu banyak peluh.
Di utara padang ini, berdiri ia yang sabar. Senantiasa menjadi sandaran bumi, sebagai pelepas letih dunia. Lapisan ketiga adalah tempat bernaung Sang Pelindung tanpa lidah, tak pernah pindah apalagi lelah. Disana hening tak pernah dirusak kata karena ia tak pernah berbicara. Ia hanya menaungi dengan setia. Berdiri tegap, kuat, tanpa pernah mengeluh. Mendamaikan kehidupan dengan bertahan dari tombak ultraviolet kuning kerajaan matahari. Ia disana tanpa perlu diminta, sesosok yang akan setia dan terus selalu ada.
Ialah yang diam, ialah yang berkorban.
Dalam bungkam, aku melihat sebuah langit yang memerah di atas. Menyala-nyala, sesekali membiarkan jilatannya turun, namun tak satupun yang bisa menembus deretan anggun kanopi sang pelindung. Pohon raksasa itu tak bergeming, namun aku bisa rasakan kuatnya ribuan tusukan, nyaringnya erangan langit robek, tombak patah yang terus kalah; pasukan surya yang putus asa. ‘Kerajaan terkuat menyerang tanpa ampun, meledakkan hijau menuju legam, merontokkan dedaunan sembari menihilkan udara, niscaya tak mampu menundukkan ketabahan Drumdaara’. Mereka yang gagal pun turun, sekedar sisa-sisa namun itulah yang dibutuhkan manusia. Membawa hangat kesuburan, mengusir salju menuntun semi, biarkan terang selimuti bumi.
Dibawah dahan kokoh yang menghitam, aku memandangi betapa semua yang sejuk ini adalah buah karya sang tumbal. Sebuah dunia yang sama sekali tak aku kenal, meninggalkanku tanpa kuasa untuk berbuat apa apa. Aku yang begitu lama memandang terpana, seringkali mencoba untuk masuki cangkang tempat pengetahuan Purna tersimpan, mencari tahu, memilah ilmu, berusaha memahami namun pada akhirnya tak mampu mengerti apa yang harus kulakukan untuk menembus lapisan ini. Seolah setiap aku berhasil tenggelam dalam tempurung penuh jawaban, dindingnya perlahan retak lalu hancur, disergap luapan rasa kagum seraya melihat suatu kebesaran agung, tanah yang secara tak langsung terus mengajakku untuk tinggal.
Kegagalan memahami seringkali berujung putus asa. Dari putus asa, manusia akan mulai bertanya-tanya. Seperti aku. Setelah sekian lama mematung di bawah tarian lembut daun gugur, terbuai guratan cahaya di permukaan rumput yang empuk, diayun lembut suara angin yang berlarian menyusup di antara juntai tangkai, kegelisahan membawaku mencapai puncak ragu yang akhirnya enggan membisu.
Siapakah aku? Lalu perjalanan ini. Mungkin ego telah melahap habis Sang Nalar, hingga berani kususuri perjalanan tak masuk akal. Apakah tempat ini nyata? Atau diriku yang membangunnya, berusaha suapi terus sang ego kelaparan dengan khayalan. Mungkinkah selama ini aku terlalu sombong? Menganggap seluruh bagian dunia berputar mengelilingi kehendakku. Apakah aku gagal melihat diriku sendiri? Yang berlarian tanpa mengindahkan takdir. Berkoar, berseru, jatuh namun terus memaksa bangkit, menentang langit seorang diri, sekuat tenaga memperkosa alam untuk tunduk pada satu keinginan. Mengembalikan Chiandra
Chiandra.
Apakah aku benar-benar mencintainya?
Cukup lama aku terdiam. Namun tak sedetikpun jiwaku duduk tenang. Ada kecamuk tak beraturan, ada sambaran pertanyaan demi pertanyaan, ada jawaban yang dihujam dengan ketidakyakinan. Terkurung dalam belenggu, aku seolah terputus dari dunia, aku tenggelam amat dalam, tanpa menyadari sesosok hitam yang terus menggeram.
Aku berlari. Aku berlari dan kukejar kucing besar itu. Bukan ia yang sebenarnya kukejar, namun sebuah tombak yang tertancap di punggungnya. Tombak itu mencuat, tidak bersinar namun begitu menarik perhatian. Tombak itu tidak melukainya, seolah merupakan bagian dari tubuh meski aku tahu senjata itu sama sekali bukan miliknya. Bisikan legenda, kisah tentang bilahan cakar gelap penembus udara, memaksaku untuk mengejarnya. Ingin kucoba ingat berapa menit detik atau jam yang lalu kucing hitam itu hujamkan kedua taringnya ke tanganku, namun relativitas waktu menjadi tak terukur disini. Yang aku tahu aku harus mengejarnya. Aku terus berlari karena tanpa tombak itu aku takkan bisa melewati langit selanjutnya. Tombak itulah jawabannya. Kurasakan sebuah kaki yang mendahului kaki lainnya, berulang terus mengarungi ribuan tahun atau sebelas detik saja. Kaki itu mengejar keempat cakar yang berayunan, meninggalkan dengan kecepatan sama persis, membentuk jarak yang tak bertambah juga tak berkurang. Diriku yang tidak perduli. Aku harus terus berlari. Aku terus berlari. Aku berlari.
Aku bisa saja berhenti.
Aku tersentak. Aku bisa saja berhenti namun selama entah berapa lama aku tetap berlari. Apa yang kukejar? Sama sekali tidak pasti. Pelarianku justru bertumpu pada suatu kepercayaan, nihil apa dan siapa. Yang menentukan pasti-tidak pasti pun pada akhirnya hanya keyakinan. Dalam tohokan tiba tiba, kubiarkan kaki kiri tidak lagi mendahului kaki lainnya. Bahwa yang aku kejar bukanlah tombak, bukanlah kucing atau kunci menuju ke langit berikutnya, melainkan keyakinan itu sendiri. Akan Chiandra. Akan perasaannya. Akan perjalanan ini. Akan perasaanku. Aku berlari demi menemukan jawaban, dan akhirnya berhenti karena telah kutemukan jawaban. Aku yang bertanya tentang Chiandra mungkin lupa. Demi dirinya aku terbang, aku jatuh, terjerumus dalam gamang kemudian mencoba belajar. Dan aku berlari. Aku berlari di saat aku bisa berhenti. Maka tentu pertanyaanku tak sepatutnya dipertanyakan kembali.
Kucing itu hilang. Ia hanya sosok di kejauhan yang tak mungkin terkejar. Kurasa telah lama kusadari itu namun baru di titik ini aku mau menerimanya. Kuangkat kepalaku, kupandangi jemari Sang Willow yang masih setia menaungiku. Ia masih disana. Masih melindungi dunia, masih berperang dalam diam. Kutatap dirinya yang seolah menatap balik, berkata dengan wajah hangat, ‘sekarang kau mengerti?’. Kubiarkan mataku berlama-lama menikmati arti dibalik segala keindahan, segala keraguan, dan disana, meski tak satu bagian tubuhku menyentuh Drumdaara, aku tahu aku sedang memeluknya. Ia sambut diriku perlahan, memeluk balik lalu melepaskanku demi terus jalankan tugas. Aku tersenyum. Kubiarkan tubuhku tak lagi bergerak banyak, sekedar memalingkan dari Sang Kucing besar dan kembali p**ang ke ujung dahan. Aku yang berjalan perlahan, menyusuri kaki-kaki Drumdaara, mencari tempat tubuh bisa diistirahatkan. Aku duduk, sadari itulah satu satunya cara untuk lewati tanah suci, menyelami kembali kontras dunia Purna yang terbang. Di sayap-sayapnya, ia membagi pengetahuan, ia biarkan jatuh segala ilmu malam, ia ceritakan segala sudut terlupakan, setiap peristiwa yang hilang. Purna adalah perekam yang mengajarkan setiap kemungkinan wawasan, namun Drumdaara adalah sosok yang sama sekali berbeda. Sayup kicauan pepohonan, sulur melintang dan bius lembut cahaya temaram, memintaku untuk paham, memintaku untuk melihat dirinya yang sunyi, mengajariku kebijaksanaan sebuah diam.
‘Pertapaan tanpa gerakan, sebuah pencarian. Disana mereka terpejam dalam sila, bahkan mungkin sesekali membiarkan denyut beristirahat. Menemukan makna tidak selalu dengan berlari, tidak dengan melompat apalagi mencoba terbang melayang. Kadang diam. Sebuah keniscayaa.
Yang diam. Tidak hanya tubuh namun juga jiwa, adalah satu-satunya yang bisa menerima makna, satu-satunya yang menjadi bijaksana lalu bersiap untuk peperangan selanjutnya.’
Disana, di kaki pohon terbesar yang pernah ada. Kutiupkan seruling Chiandra. Kulepaskan pertanyaan-pertanyaan, kutanggalkan ragu, kukuburkan ketidakpastian dalam sebuah lagu. Kusadari arti tempat ini sebagai sebuah peristirahatan. Mereka yang gelisah justru gagal, mereka yang tak tenang, tak akan temukan apa yang dicari. Aku yang berhenti bergumul, sesapi tenang temukan yakin. Akan Chiandra. Akan dunia. Akan tombak yang kucing besar itu persembahkan sendiri kepadaku saat itu, tanpa perlu cucur keringat pengejaran, tanpa perlu otot-otot yang memaksakan.
Kuselesaikan lagu Chiandra. Kuangkat tombak, mengikatkannya di punggung kemudian pergi menuju tempat semua takdir dipertaruhkan. Bukan hanya nasibku, nasib Chiandra, nasib rembulan atau desa. Namun langit yang juga ikut gemetar, seraya takdirnya terguncang halilintar.

Taraksa [Nomor 3 : Yang Bersiap]Naskah : Sutansyah Marahakim Ilustrasi : Fiona Priscilla TambunanAdaptasi Twitter : Anis...
12/11/2012

Taraksa [Nomor 3 : Yang Bersiap]
Naskah : Sutansyah Marahakim
Ilustrasi : Fiona Priscilla Tambunan
Adaptasi Twitter : Anissa Rahma Sukardi
--
Serial Taraksa adalah kisah yang terinspirasi dari petilan . Digagas pertama kali oleh Majalah EPIK, cerita ini akan diangkat sebagai naskah seni pertujukan : Teater EPIK vol. 5. Cerita bersambung ini akan terus berlangsung sampai mendekati waktu pertunjukan. Hingga saat itu, kami akan turut memediasi cerita ini. Juga silakan ikuti linimasa untuk mengetahui lebih jauh pergulatan diri seorang Taraksa. Mari nikmati rangkaian cerita Taraksa ini, selamat membaca!
--
Aku melihat seekor kupu-kupu, begitu besar ujung sayap serta sungutnya hingga garis cakrawala pun robek lalu tunduk dibawah keberadaannya. Ia bergerak membumbung melewati batas pandang, mengepak-ngepak seraya mengucurkan pengetahuan.
Cerita tentang dua ratus lima puluh ribu tahun yang lalu, ketika manusia tidak lagi berlari melindungi kekasih dari taring kelaparan. Mereka nyalakan yang tadinya gelap, memasuki gua dan berlindung di satu atap. Ia bercerita tentang masa sebelum cahaya, tentang potongan-potongan tubuh orang tua yang dirobek serigala, tentang doa pertama, lima ratus ribu tahun yang lalu Tuhan turun ke benak manusia.
Kupu-kupu raksasa menunjukkan sosok wanita, yang dikutuk karena mempertahankan keperawanannya. Ular kuil Apollo menjilati telinga Cassandra malam itu, membuat masa depan mengalir dengan jelas ke pendengaran. Sebuah pemberian dewa berlanjut sebuah paksaan menikah, dan kutuk itu lagi-lagi datang berkat satu kejadian di kala malam. Disana, di salah satu ruas kaki kurus sang rama-rama, tercerminkan Achlys sebagai personifikasi malam tanpa akhir. Ia tersenyum melihat kisah Cassandra yang membangkang dari mukjizat Apollo. Senyumnya seolah berkata bahwa bahkan Raja segala dewa tak mampu mengalahkan kehendak dirinya sebagai makhluk yang lahir sebelum kekacauan pertama.
Aku bisa melihat di kaki-kaki lainnya, berbagai dari mereka yang dahulu dilahirkan manusia, sekarang mati tergantikan gemerlap euforia. Kedua Zorya yang dahulu membukakan dan menutup gerbang untuk kereta tempur matahari, terlupakan bahkan di Rusia dan Makedonia. Peperangan teritori politis menyingkirkan segala puji untuk Shalim sang pembawa malam, begitu p**a saudara kembarnya Shahar yang selalu datang tepat waktu untuk memulai hari. Di kala Edison menemukan perangkat penembus gelap, Nyx berdiri tenang dalam lemah, kengerian sebuah malam sekarang takluk, Erebus hanya mampu duduk meringkuk, Cicero atau Kaisar Claudius pun tetap gagal menyelamatkan Artames dari hiruk pikuk. Inilah nasib para tuhan yang terus melantun namun tak lagi dilantukan.
Pojok yang terlupakan pun kembali bergeliat, tergantikan berbagai tragedi dari pelosok masa. Seorang Ibu memeluk bayi yang telah mati tiga jam lamanya. Mayat itu berusaha ia susui, namun cairan putih itu tak lagi tertelan, bermuncratan ke p**i kurus sang buah hati. Wanita berambut kecoklatan, dengan gemetar berusaha melepaskan simpul tambang dari langit langit. Sungguh ia tak pernah berniat menyakiti pria yang tegantung disana. Mereka tidak cocok, itu saja. Namun yang ia tidak sadari adalah bahwa dirinya telah menjadi dunia bagi sang pria. Kerumunan pemburu berbadan tegap berdiri mengitari seorang yang menangis, memeluk sosok dengan perut menganga terbuka. Tanah luntur berubah merah, begitu p**a air mata yang bercampur darah. Malam itu harimau tua menyantap sahabatnya.
Pada sayap aku pun melihat, berbagai kilat yang berubah menjadi gelak tawa dan pesta pora. Di malam-malam, manusia yang telah terlalu lama khawatir akhirnya lelah. Kita bunuh setan yang katanya berkeliaran dengan denting persulangan, kita lupakan mitos-mitos mencekam dengan perayaan, sedangkan untuk serigala, manusia temukan benda praktis bernama senapan. Di sini, aku pelajari malam yang meriah, cermin akan dunia yang tak lagi marah, kemudian memutuskan untuk bermabuk-mabukan. Manusia yang telah berdiri di puncak rantai, hanya takut pada kaum mereka sendiri, pada dunia yang sekarang terpolitisasi, atau sesederhana norma sosial dan konsensus lazim-tabu. Maka di malam yang gelap, mereka lakukan aksi reproduksi dalam sembunyi. Beberapa di kamar tertutup, yang lain mencuri waktu karena aksi ini tak selalu demi keturunan, hanya demi pemuasan candu kenikmatan. Mereka hisap halusinogen bersama teman-teman, tanpa sepengetahuan orang tua atau pasangan. Mereka hidup di kala malam sebanyak di kala siang, di dunia ini secara tidak sadar, manusia dihantui sesuatu yang bahkan lebih mengerikan dari rahang kelaparan atau iblis berwajah hitam, yaitu makna hidup yang terlupakan.
Aku terpaku. Bertumpu pada keyakinan bahwa cahaya terbang dari lembah gulita telah menuntunku keluar. Karena disini aku telah melihat cahaya. Bukan hanya satu warna namun jutaan jumlahnya. Merah yang tertabrak hijau kekuningan, bertemu belasan biru ungu, saling silang dan bergantian menari dalam sayap kupu-kupu. Warna-warna tersebut kemudian menyeruak ke dalam pori pori, sebagai ilmu dalam ceramah sejarah akan malam, seolah memohon untuk dipahami, dengan paksa, dengan siksa, karena selama ini tubuhku dihirup perlahan, ke dalam belitan kencang ilmu dan ingatan. Inilah lapisan ketiga. Tempat tinggal Purna yang manusia sebut aurora. Dengan anggun ia cipratkan setiap detik yang dialami setiap jiwa, ialah cermin dari segala memori akan malam.
‘Siapakah yang tinggal diantara sebuah pertemuan dan perpisahan? Adalah yang terlupakan manusia kemudian terlimpahkan padanya. Purna yang mengingat lalu menyesap peristiwa, sungguh lupa hanya sifat dari mereka yang (mampu dan dapat) hancur.’
Aku melihat setiap kejadian dunia datang dari sela sela kakiku. Butiran laksana salju itu mengkristal sembari bergerak menuju kedua sayap Purna. Namun setiap ingatan seolah tidak melayang tetapi berguguran. Seperti aku yang berdiri terbalik di sebuah langit langit, menatap kejadian jatuh tertelan kepakan Purna yang terbang terlentang. Tempat refleksi setiap ingatan disimpan, terhindar dari hilang, menjadi bagian dari kibasan yang dilemparkan ke setiap yang memandangnya. Keindahan yang manusia pandang dengan sia sia di kutub utara, nyatanya menjanjikanku ilmu tak berujung. Aku berdiri, mengingat, memahami, memandang, begitu lama hingga tubuhku terlepas dari arus waktu.
Sekelilingku hanya hampa. Dunia tanpa atribut yang bukan hitam atau putih, tidak p**a abu-abu, sekedar tanpa warna. Semua warna terhisap oleh satu satunya penghuni tempat ini, termasuk warna pijakan yang seharusnya menjadi alas langkahku. Seperti melayang namun jejak, seperti berdasar namun kosong, jalan yang kutapaki setelah kupu kupu itu berhenti mengajari, berada di batas ada dan tiada.
Tapi aku tidak butuh warna, aku tidak butuh kepastian akan ada atau tiada.
Karena aku siap. Lebih tepatnya aku mengerti.
Setiap bagian dari tubuhku kini penuh dengan data dunia, berdenyut menuntunku menuju sebuah pohon besar di utara.
--
Info lebih lanjut :


www.majalahepik.com

Taraksa [Nomor 2 : Yang Terjatuh]Naskah : Sutansyah Marahakim Ilustrasi : Wicky SyailendraAdaptasi Twitter : Anissa Rahm...
12/11/2012

Taraksa [Nomor 2 : Yang Terjatuh]
Naskah : Sutansyah Marahakim
Ilustrasi : Wicky Syailendra
Adaptasi Twitter : Anissa Rahma Sukardi
--
Serial Taraksa adalah kisah yang terinspirasi dari petilan . Digagas pertama kali oleh Majalah EPIK, cerita ini akan diangkat sebagai naskah seni pertujukan : Teater EPIK vol. 5. Cerita bersambung ini akan terus berlangsung sampai mendekati waktu pertunjukan. Hingga saat itu, kami akan turut memediasi cerita ini. Juga silakan ikuti linimasa untuk mengetahui lebih jauh pergulatan diri seorang Taraksa. Mari nikmati rangkaian cerita Taraksa ini, selamat membaca!
--
Kelopak mata yang kubuka seolah tidak berpengaruh apa-apa pada jumlah cahaya yang retina terima.
Tidak ada apa-apa. Itu yang kukira. Kemudian pikiranku mulai berputar dan menanyakan apakah arti tidak ada apa-apa. Bukankah ada berarti terasa. Terukur secara zat, dan kemudian kepalaku mulai berpindah pada pertanyaan-pertanyaan mengenai makna kasat mata.
Tanpa mata, dunia ini seolah tidak ada.
Setelah sekian lama aku mencoba memahami apa yang terjadi, satu hal yang kusadari adalah buliran pasir di kaki ku terasa terlalu besar untuk kusebut pasir dan tetap terlalu rapuh untuk kusebut kerikil. Beberapa diantaranya merangkak ke pergelangan, yang lain masih tetap terkulai mati seperti sebagaimana seharusnya bulir pasir. Namun aku kira ini hanya fase awal dari inderaku yang memberontak dari tidur.
Bukan hanya kulit pergelangan kakiku yang mencoba menipu, namun telinga ini pun mulai menggaungkan nyanyian merdu tak selesai, berganti-gantian datang dan menyelesaikan satu sama lain. Bulu kudukku merinding ketika punggungku mengucurkan keringat sembari bergetar karena menggigil. Aku mencoba berkata kata namun suara yang kukeluarkan sama sekali berbeda dengan apa yang kuharapkan. Satu demi satu perangkat tangkap-duniaku mengamuk tak terkontrol, mereka membabi buta meninggalkan akal sehat, seolah marah akan diskriminasi yang kulakukan selama bertahun-tahun pada mereka, lelah menjadi anak tiri dari bola mata. Hingga setelah berjam jam aku kehilangan pegangan akan apa yang nyata dan pura-pura, mereka hentikan protes serta demonstrasi.
Yang aku bayangkan aku meringkuk di sebuah pojok yang bukan pojok, dikurung dalam kegelapan menakutkan. Sungguh ketika semua hal yang terjadi sama sekali tak terjawab alasan serta pasti, maka kita hanya bisa menyerah pada balada kegelisahan yang panik. Dan disana aku berdiam; aku rasa itu yang tubuhku lakukan meski dalam pikiran, keempat inderaku masih riuh melakukan makar sepihak, menyiksaku dalam tiap detik yang kuhitung dari ketukan tetes air yang jatuh.
Tetes air.
Aku tersadar bahwa semenjak pertama aku jatuh ke tempat ini, tetap ada ketukan tetes air.
Lalu hening.
Lalu aku merasakan sesuatu yang besar, bersiap-siap untuk mengarungi realita yang sama sekali berbeda.
Aku dengar batu kerikil yang jatuh menggelinding di sebelah kiriku. Aku mendengar namun bisa kulihat jatuhnya dengan amat jelas meski komposisi warna dan bentuknya sama sekali berbeda. Kerikil itu tidak berwarna selayaknya kerikil, tidak berbentuk seperti kerikil, juga sama sekali tidak bergulir jatuh sebagaimana kerikil jatuh. Aku tahu itu kerikil. Seperti aku tahu dinding berlumut abu abu mengelilingi seluruh tempat ini dari harumnya, juga air terjun setinggi 20 meter di atas kepalaku yang kucicipi ketika tetesan air dari stalagnit gua menelusup ke bibir. Aku melihat. Tapi kali ini tidak dengan bantuan cahaya.
Perlahan-lahan mulai terasa arti dari segala penipuan para indera. Mereka tidak mengkhianatiku, paling tidak niatnya tidak seperti itu. Ini adalah sebuah penyesuaian diri besar-besaran, sebuah persiapan akan apa yang akan datang. Beberapa siap lebih cepat, sisanya harus melewati pergulatan tanpa akal yang nyaris menghancurkanku. Hanya hampir.
Salah satu indera yang tidak menipuku semenjak awal adalah kulit yang mengelilingi pergelangan. Aku tidak pernah salah. Bulir-bulir yang kuinjak memang bukan pasir dan bukan kerikil. Beberapa diantaranya merayapi kaki karena masih menyisakan sedikit nyawa, masih mencoba bergerak meski tak menyala. Seratus juta atau lebih kunang kunang tanpa cahaya tergeletak, menghampar di sekujur gua ini. mereka tak bergerak dan terinjak injak oleh makhluk pertama di tempat ini semenjak entah kapan. Mereka tidak tidur, mereka mati. Sebuah kuburan raksasa dari salah satu makhluk suci desaku, Sang Khadyota.
‘Dari yang menyala akan mati di lembah gulita. Bangkit kemudian aku tanya; manusia dan perjuangan. Khadyota dan pembimbing malam. Sang kelinci putih bersinar lebih gelap demi reruntuhan dan penyelamatan. Kembali. Kembali. Kembali, Berhentilah terlena (kemudian) pahami bahwa melihat tak selalu berarti tahu’
Jadi ini awal dari perjalananku. Sebuah tempat yang mati. Yang sepenuhnya gelap namun justru mengajariku untuk melihat. Aku pun sekarang dengan jelas membangun sebuah dunia yang sama sekali berbeda. Semua bentuk yang tidak seharusnya, warna-warna salah tempat, gerakan gerakan tak logis dan mungkin seluruh langit akan terus menguak ‘kesalahan’ ini terus menerus.
Namun salah-benar, kata kepala desa, harus perlahan kulepaskan. Standar itu semua milik dunia fana, dan ini bukanlah perjalanan mengarungi salah satunya.
Sekarang aku mengerti mengapa kepala desa membiarkan kedua sayap meninggalkan punggungku. Orientasi arah dunia ku berbalik berkat kejatuhan ini. Atas menjadi depan dan bawah menjadi belakang. Maka perjalanan langitku pun dimulai tepat ketika salah satu kunang-kunang mulai menyala dan terbang. Tidak begitu dengan diriku. Aku tidak butuh terbang untuk menuju langit. Yang aku lakukan adalah meniti langkah demi langkah.
Aku berjalan.
--
Untuk info lebih lanjut :

www.majalahepik.com

01/11/2012
03/02/2012
10/10/2011



Satu lagi acara bedah buku dari kami, akan bercerita tentang buku "Kedai 1001 Mimpi" karya Valiant Budi Yogi alias Vabyo

Pembicara :
-. Vabyo ()
-. Windy ariestanty (author "Life Traveler")

Moderator :
-. theoresia rumthe ()

Sabtu, 15 Oktober 2011
16.00 - sampai selesai
Jalan Bengawan no.34 Bandung

FREE
be there guys
CHEERS :

terimakasih laughonthefloor.com untuk liputan nya :)
04/09/2011

terimakasih laughonthefloor.com untuk liputan nya :)

LOTF [LAUGH ON THE FLOOR] is three people love to laugh often. We’re impulsive friends influenced by our young spirit. We talk what we like, also what we found in our way back to home. An imaginary tailor as flamingo 1 , day dreamer necklace maker as flamingo 2, and part time photographer full time ...

02/08/2011
22/07/2011
22/07/2011
22/07/2011

Address

Jalan Bengawan 34
Bandung
40114

Opening Hours

Monday 10:00 - 21:00
Tuesday 10:00 - 21:00
Wednesday 10:00 - 21:00
Thursday 10:00 - 21:00
Friday 10:00 - 21:00
Saturday 10:00 - 21:00
Sunday 10:00 - 21:00

Telephone

022 - 93373193

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when 7Heaven Bookstore posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share