18/04/2021
DI MALKA, AKU MENEMUKANMU
Oleh Gol A Gong
Malka
Jl. Sukabumi 28D
Bandung
Aku berdiri di pinggir jalan. Membaca kutipan Pramoedya Ananta Toer:
"Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, maju karena pengalamannya sendiri."
Seorang lelaki yang mendekati usia setengah abad, membuka rolling door.
Ketika aku masuk, bukan hawa AC atau musik berdentum mendengung merusak telinga yang kudengar, tapi seolah menemukan kerinduan yang selama ini aku cari: perjuangan. Membentuk huruf "L"; dindingnya dihiasi rak buku dan "wall of fame" cover buku. Ada meja kerja, meja untuk meeting sekitar 4-6 orang dan WC. Minimalis.
Terasa sekali olehku, bahwa Malka adalah tempat pertemuan gagasan yang kemudian jadi buku. Di Malka ada lini usaha penerbitan bernama Epigraf. Daniel Mahendra sebagai CEO Epigraf tidak membiarkan gagasan itu menguap sia-sia. “Sudah 60-an judul buku diterbitkan Epigraf," Daniel menceritakan.
Para penulis berkumpul di sini. Ada penulis pemula, penulis yang sudah menulis banyak buku, dan calon penulis yang masih bermimpi. Lalu gagasan itu dijadikannya buku, seolah prasasti, diukirnya jadi kenangan untuk masa depan dan mewarnai era disruptif ini.
Di iklim digitalisasi ini, kehadiran Malka sebagai ruang pertemuan gagasan dari hati ke hati sekaligus "toko buku" seolah "David melawan Goliath". Jika kamu menonton film "You've Got Mail' (1998) yang diperankan Meg Ryan (toko kecil) dan Tom Hanks (toko besar), Malka adalah toko buku kecil di pinggir jalan, pemiliknya bekerja keras seperti kios makan di sebelahnya. Sementara ratusan meter ada sebuah mall tentu dengan toko buku besar alias si Goliath.
Ketika Jum'at malam 16 April 2021 hingga bergeser ke dini hari, aku berada di Malka, seolah sedang menuntaskan kerinduan melihat proses perjuangan seorang manusia yang bekerja keras meraih mimpinya.
Bagiku, Malka sebuah kios kecil yang sering kita jumpai di pinggir jalan seperti kios fotokopi dengan rolling door yang berisik saat dibuka-tutup. Daniel mengubahnya jadi "toko buku kecil" seperti oase di gurun Sahara. Jika ingin membeli buku, kita tidak perlu menyusuri jebakan lantai demi lantai mall yang hedonis dan konsumtif, tapi langsung fokus kepada tujuan semula: membeli buku.
Terasa sekali kedekatan antara penerbit dengan penulis buku. Keduanya diberikan kesempatan yang sama untuk bekerja keras mewujudkan mimpi jadi orang sukses.
Tak terasa sudah pukul 03:00. Kami harus sahur. Di dalam hati, setiap ke Bandung, aku akan upayakan singgah ke Malka untuk bertukar gagasan. Seperti tadi: outline sebuah buku sudah kami diskusikan.
Bandung, 17 April 2021