14/02/2026
| Kisah ini terjadi saat Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur untuk menghindari kejaran kaum kafir Quraisy.
Saat pemuda kafir Quraisy yang berniat memenggal kepala Rasulullah, mereka kehilangan jejak Rasulullah dan hanya menemukan seorang pemuda bernama Ali bin Abi Thalib di bilik Rasul, Abu Bakar mendampingi Rasul berlari dan bersembunyi di gua kecil di bukit Tsur.
Inilah suatu pengorbanan yang ditunjukkan oleh Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq Ra. Sebagai seorang sahabat kepercayaan Rasulullah, ia merelakan semua yang dimilikinya demi keselamatan dan perjuangan dakwah Rasulullah. Bahkan ia merelakan nyawanya terancam demi menemani Rasulullah, ketika dikejar-kejar oleh para kaum Quraisy untuk dibunuh.
Abu Bakar tetap setia mendampingi Nabi Muhammad menginap di dalam gua.
Sebelum beliau memasuki gua, Abu Bakar dengan sigapnya mengecek dan menutup lubang-lubang yang ada di dalam gua agar mereka terhindar dari binatang buas.
Di dalam gua, mereka sepakat untuk bergantian berjaga.
Dalam tidurnya, Rasulullah melabuhkan kepalanya di pangkuan sang sahabat.
Di dalam gua yang dingin dan remang-remang, tiba-tiba seekor ular mendesis keluar dari salah satu lubang yang belum ditutup oleh Abu Bakar. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini.
Namun, keinginan itu dienyahkan dari benaknya, karena tak ingin ia mengganggu tidur Rasulullah Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih Allah Swt itu?
Abu Bakar menutup lubang itu dengan saian satu kakinya.
Lalu ular itu menggigit jari kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun dalam hening.
Sekujur tubuh Abu Bakar terasa panas, ketika bisa ular menjalar cepat di dalam darahnya.
Abu Bakar tak kuasa menahan isak tangis ketika rasa sakit itu tak tertahankan lagi dan tanpa sengaja air matanya menetes mengenai p**i Rasulullah yang sedang berbaring.
Rasulullah terbangun lalu berkata, "Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?"
"Tentu saja tidak ya Rasulullah, Saya ridha dan ikhlas mengikutimu ke mana pun," jawab Abu Bakar.
"Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?" tanya Rasulullah dengan bersahaja.
"Seekor ular baru saja menggigit saya, wana! Rasulullah, lalu bisa nya menjalar begitu cepat ke dalam tubuhku," jawab Abu Bakar dengan suara tercekat.
Lalu Rasulullah berbicara kepada ular itu. "Wahai Ular, tahukah kamu? Jangankan daging atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram kau sentuh"
Dialog Rasulullah dengan ular itu menjadi mukjizat beliau, sehingga Abu Bakar mampu mendengarnya.
"Ya aku mengerti." Jawab ular
Bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan "Barang siapa memandang kekasih-Ku, Muhammad fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga," kata ular.
"Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah, "Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal
mahabbah," lanjutnya
Lalu, apa kata Allah Swt.? tanya Rasulullah
Kata Allah "Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu di sana, kekasih-Ku akan datang pada waktunya," Kenang Ular
"Ribuan tahun aku menunggu di sini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Wahai Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Rasul Allah," jawab ular.
"Lihatlah ini. Lihatlah wajahku," kata Rasulullah
Singkat cerita, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah meraih pergelangan kaki Abu Bakar. Dengan mengagungkan nama Allah Swt.
Sang Pencipta Alam Semesta, Nabi Muhammad mengusap bekas gigitan itu
dengan ludahnya.
Maha suci Allah Swt., seketika rasa sakit itu hilang tak berbekas.
Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah berjaga.
Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya untuk beristirahat.
Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.
Wallahu a'lam.