20/01/2024
Konsekuensi Iman
Keimanan adalah syarat pertama yang harus dimiliki oleh setiap manusia agar kelak mendapatkan keselamatan di akhirat. Tanpa didasari iman, segala perbuatan baik akan menjadi sia-sia dan tidak bernilai, karena iman adalah legalitas amal.
Di dalam Alquran Allah Swt. berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Sebaliknya, keimanan bukanlah sekedar pengakuan, namun dituntut adanya pembuktian. Di dalam sebuah hadits riwayat Imam Ath-Thabrani dari Ibnu Umar, Rasulullah Saw. bersabda,
لا يقبل إيمان بلا عمل ، ولا عمل بلا إيمان
“Allah tidak menerima iman tanpa amal, demikian p**a tidak menerima amal tanpa iman”. (HR. Ath-Thabrani) (Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Said bin Zakarya, yang diperselihkan ketsiqahannya)
Di dalam Alquran Allah Swt. menyatakan bahwa ada diantara manusia yang menyatakan keimanan namun sebenarnya dia bukanlah orang yang beriman.
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ
“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Baqarah: 8)
Ayat ini berkenaan dengan orang-orang munafik yang berpura-pura sebagai yang beriman.
Seorang mukmin hendaklah membedakan diri dan tidak terdapat pada dirinya karekteristik orang munafik. Ketika seseorang menyatakan bahwa dirinya telah beriman kepada Allah Swt., maka dia memiliki tanggung jawab moral untuk membuktikan keimanannya.
Sedikitnya ada beberapa hal yang harus ada pada diri seseorang sehingga terbukti bahwa dia adalah orang yang beriman.
Pertama, keyakinan yang kuat.
Di dalam Alquran Allah Swt. berfirman:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)
Kedua, penyerahan diri.
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبْرَٰهِيمَ خَلِيلًا
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”. (QS. An-Nisa: 125)
Sikap berserah diri telah dibuktikan oleh Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail ketika mereka hendak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah Swt.
Ketiga, mendengar dan taat.
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An-Nur: 51)
Keempat, tidak berpaling dari syariat
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (p**a) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzab: 36)
Allah Swt. telah menetapkan syariat bagi orang-orang yang beriman. Menurut Syekh Dr. Yusuf Al-Qardhawi, tujuan dari syariat adalah untuk mewujudkan kemaslahatan dan mencegah mafsadat bagi manusia.
Demikianlah diantara sikap yang harus ada pada diri seorang mu’min. Semoga Allah senantiasa memberikan kita hidayah-Nya. Wallahu ‘alam bishowab. DKS.