31/10/2018
Aku dan sakit maag.
Penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah kondisi yang ditandai dengan nyeri ulu hati atau sensasi terbakar di dadaakibat naiknya *asam lambung* menuju esofagus/kerongkongan (bagian saluran pencernaan yang menghubungkan mulut dan lambung).
Ini pengertian yang aku dapat ketika search di gugel.
Bahasa yang aku pake sehari2 yaitu penyakit maag.
Dulu aku jarang banget sakit maag, paling setahun sekali yang berasa perut perih. Tapi semenjak ada "sesuatu" yang menguras pikiran sekitar tahun 2014, jadi sering rutin ke dokter untuk minta resep obat maag.
Kenapa harus ke dokter ? Kan obat maag yang dijual bebas banyak.
Karena memang obat2 tersebut sudah tidak mampu menghilangkan rasa sakit ketika maag menyerang.
Awal2nya sakit ini kasih tanda2 sebelum menyerbu. Seperti perut panas, sedikit perih (padahal tidak habis makan pedas).
Tapi lama2 seringnya dia memberikan serangan mendadak bahkan ketika posisiku sedang santai.
Dan ketika sudah menyerang, bernafas pun susah.
Sakit maag selalu identik dengan perut perih, panas, mual dan muntah.
Sebelumnya aku tidak tahu kalau Diare adalah salah satu gejala sakit maag juga.
Suatu waktu, perutku mulas luar biasa berasa akan diare. Dan ketika di km memang cair yang keluar. Namun ternyata, mulasnya tidak hilang2. Sampai yang ketiga kalinya terjebak di km sampai 1 jam. Mulas tapi tidak ada yg keluar.
Untuk keluar dari km pun harus dibantu ibu karena kondisi sudah lemas. Konon untuk menghentikan diare harus minum teh pahit hangat. Jd aku minumin teh pahit hangat. Ternyata rasanya malah ngga karuan. Berasa mual dan muntah, tapi tidak ada muntahan yg keluar. Sampai harus ke klinik dan diberi obat maag dan diberitahu kalo aku tidak boleh minum teh pahit lagi.
Ok, langsung ke momen dimana aku mengalami maag paling parah.
Tahun 2015 di bulan September tepatnya aku menjalani operasi dan opname di rs di Jakarta (bukan karena sakit maag ya). Setelah pulih, aku kembali ke kota Surabaya dan menjalani rawat jalan di rs di kota tercinta ini dengan diberi surat pengantar dari dokter yang merawat aku pas di Jakarta.
Setelah memutuskan di sebuah rs untuk rawat jalan dan waktunya periksa, aku serahin semua berkas dokumen ketika aku operasi sebelumnya. Dibaca deh dengan seksama oleh dokternya. Singkat cerita, ketika diberi resep obat ngga lupa aku bilang kalo punya riwayat sakit maag yg lumayan ngga ringan. Dokter bilang kalo obat2nya aman untuk lambung. Tenang deh rasa hati.
Tapi eh tapi, ketika salah satu obat tsb aku minum, kumatlah sakit maagku dan ngga tanggung2 rasanya. Nafas susah sekali karena sesak, ulu hati terasa nyeri, keringat dingin bercucuran, mual, muntah, semua datang di saat bersamaan. Suami melihat sampai kebingungan harus bagaimana. Untung ada obat maag sisa resep dahulu, jd lumayan reda setelah meminumnya. Tapi ternyata, rasa nyerinya tidak mau hilang bahkan setelah 3 hari. Aku disuruh sama suami untuk kembali ke dokter yg memberi resep tapi aku menolak. Rasa hati sudah jengkel karena jelas2 aku sudah infokan kalo aku punya sakit maag yg ga ringan tapi kok tetep dikasih obat yg bikin sakit maagku kambuh (ga boleh ditiru yaaa π).
Karena rasa nyeri nya sangat mengganggu, bahkan untuk bernafaspun terasa nyeri, aku memutuskan utk cari info dokter yang biasanya nanganin masalah lambung. Dan nemu lah 1 nama. Cari2 ternyata beliau praktek di sebuah rs bersejarah di Surabaya. Malemnya datenglah ke tempat praktek di rs tsb, eeeh ternyata uda penuh. Dibatasi hanya 20 pasien aja (kalo ga salah). Suami berusaha melobi dengan mengatakan kondisiku yg sedang sakit. Sama staf disarankan utk opname. Tapi karena bahkan rasa ngilu tangan bekas ditusuk jarum infus kanan dan kiri yg baru hilang (ketika operasi sebelumnya), aku mundur. Aku pun berusaha utk daftar di tempat praktek beliau, eh malah sudah penuh sampai 3 bulan ke depan π¨π². Suami sedikit memaksa agar aku mau opname, karena beberapa temannya meninggal juga dikarenakan penyakit maag.
Bergelut dengan rasa masih trauma ditusuk jarum infus dan rasa nyeri yang aku rasakan. Hingga besoknya aku memutuskan untuk bersedia opname (kembali) π. Rasa nyerinya telah mengalahkan rasa trauma ditusuk jarum hihihi.
Singkat cerita, di rs tsb dimasukkan ke igd. Dicek-cek, ditanya ini itu. Langsung kami bilang ingin ditangani oleh dokter yang kami inginkan.
Setelah masuk ruangan, serangkaian pemeriksaan sudah menanti. Dari rekam jantung, usg, paru2, bahkan gigi pun diperiksa. Lha, bingunglah aku. Wong sakit maag aja kok pake periksa ini itu. Ternyata setelah dijelaskan oleh Beliau bahwa sakit maag itu bisa jadi dikarenakan oleh gangguan kesehatan yang sebelumnya sudah ada. Jadi, kalau memang ada sakit harus disembuhkan dulu. Wah, ini yang aku baru tahu.
Alhamdulillaah, hasil pemeriksaan semua normal. Bahkan hasil operasi sebulan sebelumnya pun sudah membaik. Jadi memang sepertinya lambungku ada masalah π.
Dokter menyarankan dilakukan gastroscopy. Duh, langsung aku sampaikan ke dokter kalo sebulan sebelumnya aku jg habis operasi dan masih takut utk operasi lagi. Ternyata Beliau bilang kalo gastroscopy itu menggunakan alat yg dimasukkan ke mulut. Jd tidak ada tindakan membedah. Karena aku sendiri jg penasaran dg kondisi di dalam tubuhku, jd aku langsung bersedia.
Daaaannn, alhamdulillaah semua berjalan lancar.
Sehingga aku masih disini dan sharing.
Ternyata di dalam lambungku terdapat polip dan sudah diambil.
Selain itu, bentuk lambungku ternyata berbeda dari orang pada umumnya, dan ini bawaan dari lahir. Jd ngga bisa diapa2in selain bersyukur π.
Besoknya aku sudah diperbolehkan pulang setelah diberi resep obat.
Layaknya pasien habis opname, pasti nanya d**g kapan periksa pasca operasi. Eh, Beliau bilang ngga perlu karena kalau aku jaga kondisi ya ngga akan kambuh.
Tapi kalo memang masih sakit, Beliau sudah pesan agar ketika daftar harus bilang pasien yg habis penanganan agar bisa didahulukan. Hihihi, ngeri aja sih kalo kudu nunggu 3 bulan utk periksa π.
Jadi setelah usai operasi, aku dan suami diberi kuliah singkat mengenai sakit maag. Bener2 kayak kuliah karena pake artikel dan harus mencatat aku nya π.
Dari situ aku jadi sedikit tahu apa dan bagaimana sakit maag itu.
Yang aku ingat dan aku pegang hingga saat ini, bahwa setiap orang memiliki keunikan sendiri2. Jadi tidak bisa disamakan antara yang satu dengan yang lainnya.
Tapi intinya tetap sama, yaitu (ini yang Beliau sampaikan) :
1. Aku harus bisa mengontrol stres pikiran. Karena sumber segala penyakit adalah dari pikiran.
2. Makan tidak boleh kenyang. Harus berhenti makan sebelum terasa kenyang. Sedikit tapi sering.
3. Makan harus dikunyah minimal 30x. Kalo ga bisa, makan yg lunak agar ketika masuk kondisinya lembut untuk dicerna.
4. Setelah makan, tidak boleh berbaring apalagi tidur. Posisi perut harus tegak.
5. Tidur malam minimal 2 jam sesudah makanan terakhir masuk.
6. Tidur miring kanan dan letak dada harus posisi lebih tinggi.
7. Sebelum tidur, ada senam yang harus aku lakukan (ini yg aku lupa dan kertasnya aku cari ngga ketemu hihihi).
Selama opname, aku diberi makanan rendah serat, alias bukan sayur2an. Lebih ke daging. Menurut ahli gizinya, untuk sakit maag harus makan yg begitu untuk meringankan kerja lambung. Dan aku praktekkin sampai sekarang.
Sakit maag itu bisa disebabkan karena penyakit lainnya yang sudah ada. Dan sakit maag juga bisa menyebabkan penyakit lainnya.
Untuk makanan atau minuman yang harus diperhatikan, ada di foto di bawah.
Setiap orang berbeda2 ya. Jadi harus dicari yang mana yang memang tidak cocok untuk tubuh.
Kalo aku, makanan pedas (yang normal pedasnya) masih bisa toleran. Tapi kalo sebangsa kopi, coklat, keju, asam, memang harus dalam kondisi tubuh benar2 prima. Kalo kelelahan, aku ngga berani makan2 itu. Segala yang pahit juga harus hati2 untukku. Padahal aku ini s**a banget tumis pare dan tumis sayur daun pepaya π
.
Semoga sharingku ini bisa bermanfaat.
Tolong diperhatikan bahwa ini berbagi pengalaman pribadi ya, tidak untuk menggurui karena aku hanyalah orang awam akan dunia kedokteran.
Jangan remehkan sakit maag hanya karena ini adalah penyakit umum yang diderita banyak orang.
Catatan : kurang dan lebihnya mohon dimaafkan.