23/05/2026
MORI
Mori melambangkan Ngunduh Wonging Pakerti yaitu siapa yang berbuat pasti akan menerima hasil perbuatannya.
Mori sebagai sabuk tingkat warga PSHT yang atau bermakna bahwa manusia hidup itu hanya sementara, setelah melalui proses kehidupan semua manusia bakal mati, untuk itu setiap insan PSHT harus selalu ingat mati agar tadak ada rasa sombong sok kuat dan selalu berprilaku sesuai ajaran dan tujuan PSHT yaitu berbudi luhur tahu benar dan salah.
Dalam jiwa warga PSHT ditanamkan bahwa mati adalah suatu yang lumrah bagi manusia, maka jika telah menyandang gelar warga Terate, kapanpun dan dimana pun harus senantiasa ingat mati dan tidak perlu takut akan kematian.
Warga Terate telah dibekali sabuk mori/kain kafan sebagai simbol kepasrahan kepada Allah SWT jika sewaktu-waktu sang Khalik memanggil.
Setinggi apapun ilmu seseorang, sebanyak apapun harta seseorang, jika sudah waktunya akan tetap mati dan kembali menjadi gundukkan tanah, saat itulah manusia secara ragawi hanya membawa seikat kain mori, maka saat itulah puncak dari tujuan belajar beladiri dan kerohanian di PSHT bukanlah untuk menjadi orang yang sakti pandai berkelahi, bukan juga untuk mencari sebanyak-banyak saudara, melainkan untuk menjadi seorang kesatria yang sewaktu-waktu selalu siap dipanggil Allah SWT untuk menghadap ke singgasana Tuhan Yang Maha Esa.
Salam Persauadaraan