Galeri Kawanua

Galeri Kawanua Bergabunglah menjadi distributor pulsa dengan modal kecil dan keuntungan besar.

Kami bergerak di bidang multioperator pulsa dan mencari agen distributor di seluruh Indonesia. Usaha yang ditawarkan adalah menjadi agen pulsa elektrik dan pembayaran tagihan online.

Menerima paket ultah ☺️
16/10/2022

Menerima paket ultah ☺️

Dari sini saya belajar bahwa jika kita belajar dengan tekun maka kita bisa mendapatkan banyak ketrampilan. Saya yang dul...
20/04/2021

Dari sini saya belajar bahwa jika kita belajar dengan tekun maka kita bisa mendapatkan banyak ketrampilan. Saya yang dulunya kurus kerempeng dan dikatakan tidak bisa memasak ditertawakan bahkan dicemooh oleh orang lain saat ini setidaknya sudah diakui memiliki keterampilan dalam hal kuliner dan salah satunya adalah keterampilan membuat roti.

14/04/2021
04/07/2020

Karena iman, runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya (Ibrani 11:30)

Alkitab kerap menegaskan kepada pembacanya bahwa jalan-jalan Allah “sungguh tak terselami” (Roma 11:33) oleh pikiran manusia.
Kisah kejatuhan Yerikho (Yosua 6:2-5) adalah satu contohnya. Mengapa Allah tidak langsung saja meruntuhkan tembok kota itu dengan kekuatan-Nya yang dahsyat? Mengapa harus disuruh-Nya orang Israel mengelilingi kota itu sampai tujuh hari?
Apa sulitnya Allah meruntuhkan Yerikho setelah dikelilingi bangsa Israel dalam satu hari saja?

Sebagai jawabannya,
Ibrani 11:30 menyatakan bahwa waktu tujuh hari itu bersangkut paut dengan iman orang Israel.
Artinya, Allah memang berkuasa menumbangkan Yerikho secepat Dia mau, tetapi Dia memutuskan untuk memberi jangka waktu yang agak panjang untuk melatih iman umat-Nya.
Jadi, setiap kali orang Israel berjalan keliling dalam tujuh hari itu, tembok-tembok Yerikho yang masih berdiri kokoh menantang iman mereka: Benarkah Allah akan merobohkannya?
Syukurlah mereka bersabar dan tidak undur.
Tembok-tembok tebal akhirnya runtuh dan penulis Ibrani di kemudian hari dapat bersaksi bahwa itu terjadi “karena iman”.

Saat ini, barangkali Allah tengah membuat kita melewati waktu yang panjang untuk mencapai sebuah sasaran.
Kita yakin bahwa Allah ingin kita mencapai hal itu, tetapi kita bertanya-tanya mengapa kita harus melalui waktu yang demikian panjang.
Kuatkan hati dengan bercermin pada pengalaman bangsa Israel di Yerikho.
Allah ingin kita bersabar, berketetapan hati, dan tidak undur. Bertekunlah, agar pada waktu-Nya, kita akan berhasil mencapai sasaran itu “karena iman”.

WAKTU KERAP MENJADI GURU TERBAIK YANG DIBERIKAN ALLAH UNTUK MELATIH IMAN KITA

22/02/2020

BAB 36—GEMBALA YANG BAIK
Kristus, contoh yang besar bagi semua pelayan, menyamakan diri-Nya sendiri dengan seorang gembala. “Akulah gembala yang baik,” kata-Nya memaklumkan, “gembala yang baik memberikan nyawanya bagi dombadombanya.” “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba Ku, dan domba-domba-Ku mengenal Aku. Sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi dombadomba-Ku” (Yohanes 10:11, 14, 15).

Sebagaimana seorang gembala di bumi mengenal domba-dombanya, begitu p**a Gembala Ilahi mengenal kawanan domba-Nya yang tersebar di seluruh dunia. “Kamu adalah domba-domba-Ku, dan gembalaan-Ku, dan Aku adalah Aliahmu, demikianlah firman Tuhan Allah” (Yehezkiel 34:31).

Dalam perumpamaan domba yang hilang, gembala pergi mencari saru domba yang hilang itu-yang sangat tak berarti menurut jumlahnya. Ketika mengetahui bahwa satu dari domba-dombanya telah hilang, ia tidak memandang dengan malas ke atas domba-domba yang selamat di dalam kandang, dan berkata, saya mempunyai sembilan puluh sembilan, dan akan menyebabkan banyak sekali kesulitan bagi saya untuk pergi mencari satu domba yang hilang itu. Biarlah dia kembali, dan saya akan membuka pintu kandang lalu membiarkan dia masuk ke dalam. Tidak; begitu domba itu hilang, hati gembala itu menjadi sedih dan risau. Sambil meninggalkan yang sembilan puluh sembilan di dalam kandang, ia pergi mencari yang hilang itu. Betapa pun gelap dan berbadai, betapa pun berbahaya dan tidak pasti jalannya, betapa lama dan melelahkan pencarian itu, ia tidak ragu-ragu sampai domba yang hilang itu ditemukan.

Alangkah leganya ia ketika mendengar seruan sayup-sayup domba itu! Sambil mengikuti arah bunyi, ia mendaki tanjakan yang paling curam; ia pergi ke tepi jurang itu; dengan risiko nyawanya sendiri. Begitulah ia mencari sementara seruati yang semakin lama semakin melemah, mengatakan kepadanya bahwa dombanya sudah hampir akan mati.

Ketika domba yang tersesat itu ditemukan, adakah ia memerintah domba itu supava mengikutinya? Adakah ia mengancam atau memukulnya, atau menyuruhnya berjalan di depannya, sambil memikirkan akan kesulitan dan keresah yang telah dideritanya karena harus mencarinya? Tidak, ia menggendong domba yang sudah hampir mati itu, dan dengan rasa syukur yang penuh kegembiraan karena pencariannya yang tidak sia-sia, ia kembali ke kandang. Ucapan syukurnya terdapat dalam nyanyian-nyanyian dan sorak kes**aan. Dan “setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetang-ganya serta berkata kepada mereka, Bers**acitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.”

Jadi ketika orang berdosa yang hilang ditemukan oleh Gembala yang Baik, surga dan bumi bersatu dalam s**acita dan ucapan syukur. Karena “demikian juga akan ada s**acita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada s**acita karena sembilan puluh sembilan yang tidak memerlukan pertobatan” (Lukas 15:6, 7).

Gembala Agung itu mempunyai gembala yang bertugas, kepada siapa Ia mempercayakan pemeliharaan domba-domba dan anak-anak domba-Nya. Pekerjaan pertama yang dipercayakan Kristus kepada Petrus, ketika memulihkan dia kepada pekerjaan pelayanan, adalah memberi makan kepada domba-domba. (Lihat Yohanes 21 :15). Inilah pekerjaan di mana Petrus belum berpengalaman. Pekerjaan itu akan memerlukan kepedulian dan kelembutan, kesabaran besar dan ketabahan. Pekerjaan itu memanggilnya untuk melayani anak-anak dan orang-orang muda, dan kepada mereka yang masih muda dalam iman, mengajar yang belum tahu, membuka Kitab Suci di hadapan mereka, dan mendidik mereka supaya berguna dalam pelayanan Kristus. Sebelum ini Petrus belum layak untuk melakukan pekerjaan ini, bahkan belum mengerti akan pentingnya.

Pertanyaan yang diajukan Kristus kepada Petrus penting sekali. Ia hanya menyebutkan satu syarat menjadi murid (kemuridan) dan pelayanan. “Apakah engkau mengasihi Aku?” tanyanya. Ini adalah kemampuan yang penting. Walaupun Petrus memiliki yang lain lagi, tanpa kasih akan Kristus ia tidak dapat menjadi seorang gembala yang setiawan terhadap kawanan domba Tuhan. Pengetahuan, kebajikan, kepandaian berbicara, bersyukur, dan keberanian semuanya merupakan bantuan dalam pekerjaan yang baik; tetapi tanpa kasih akan Kristus dalam hati, pekerjaan pendeta Kristen akan mengalami kegagalan.

Pelajaran yang diajarkan Yesus padanya di tepi Laut Galilea, dibawa Petrus seumur hidupnya. Ketika menulis kepada gereja-gereja atas pimpinan Roh Kudus, ia berkata: “Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak: Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan s**arela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri; Janganlah kamu berbuat seolaholah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu” (I Petrus 5:1-4).

Domba yang tersesat dari kandang adalah yang paling tidak berdaya dari antara semua makhluk, la harus dicari; karena ia tidak dapat menemukan jalannya untuk p**ang. Begitu p**alah dengan jiwa yang tersesat jauh dari Allah; ia sama tidak berdaya seperti domba yang hilang itu; dan kecuali kasih Ilahi datang untuk menyelamatkannya, ia tidak pernah akan menemukan jalannya untuk datang kepada Allah. Jadi dengan kasih sayang yang bagaimana, kesusahan bagaimana, ketekunan yang bagaimana, gembala yang bertugas itu harus mencari akan jiwa-jiwa yang hilang? Betapa relanya ia harus menanggung penyangkalan diri, kes**aran, dan kemelaratan.

Amat diperlukan gembala, yang berada di bawah tuntunan Gembala Agung, yang akan mencari yang hilang dan yang sesat. Ini artinya menanggung kesengsaraan jasmani dan mengorbankan kesenangan. Itu berarti suatu perhatian yang lembut bagi yang bersalah, suatu kasih sayang dan ketabahan Ilahi. Itu artinya suatu telinga yang dapat mendengarkan dengan simpati akan cerita tentang kesalahan yang menyakitkan hati, tentang kemerosotan, dan tentang kekecewaan serta kemalangan.

Roh gembala yang sejati adalah yang melupakan diri sendiri. Ia kehilangan pandangan terhadap diri sendiri supaya ia dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Allah. Dengan memberitakan firman itu dan dengan pelayanan pribadi di rumah-rumah orang banyak, ia mempelajari keperluan mereka, kesusahan mereka, pencobaan mereka; dan bekerja sama dengan Pemikul Beban besar itu, ia ikut merasakan penderitaan mereka, menghibur kesusahan mereka, memulihkan jiwa mereka yang lapar, dan menarik hati mereka kepada Allah. Dalam pekerjaan ini pendeta disertai oleh malaikat-malaikat surga, dan ia sendiri diberi penyuluhan serta diterangi dalam kebenaran yang membuat bijaksana sampai kepada keselamatan.

22/02/2020

Setiap pergaulan hidup perlu menggunakan pengendalian diri, ketabahan, dan simpati. Kita berbeda begitu luas dalam watak, kebiasaan, pendidikan, sehingga pemandangan kita terhadap hal-hal yang berbeda. Kita menimbang dengan berbeda. Pengertian kita terhadap kebenaran, gagasan kita sehubungan dengan tingkah langkah hidup, dalam segala hal tidaklah sama. Tidak ada dua orang yang pengalamannya sama secara khusus. Kesusahan satu orang bukanlah kesusahan orang lain. Kewajiban yang ringan untuk satu orang, bagi orang lain paling s**ar dan membingungkan.

Begitu lemah, begitu bodoh, begitu rapuh terhadap salah paham adalah sifat manusia, sehingga masing-masing harus berhati-hati dalam perkiraan yang ditujukannya pada orang lain. Kita mengetahui sedikit saja bahwa tindakan kita terhadap pengalaman orang lain. Apa yang kita lakukan atau katakan tampaknya bagi kita sekilas, bilamana mata kita dapat dicelekkan, maka kita harus melihat bahwa di atasnya bergantung hasil-hasil yang paling penting demi kebaikan atau kejahatan.

Pertimbangan Pemikul Beban

Banyak orang yang telah memikul begitu sedikit beban, hati mereka hanya mengenal begitu sedikit penderitaan yang sesungguhnya, mereka begitu sedikit merasakan kebingungan dan kesusahan demi orang lain, sehingga mereka tidak dapat mengerti pekerjaan pemikul beban yang benar. Mereka tidak lebih sanggup untuk menghargai beban daripada si anak mengerti asuhan dan kerja keras ayahnya yang menanggung beban. Si anak mungkin tidak tahu kekhawatiran dan keresahan ayahnya. Hal-hal ini tampaknya tidak perlu baginya. Tetapi bilamana pengalamannya semakin bertambah, bilamana ia sendiri sudah harus memikul beban itu, maka ia akan menilik kembali kepada kehidupan ayahnya, dan mulai memahami apa yang tadinya tidak begitu dimengerti. Pengalaman pahit telah memberinya pengetahuan.

Banyak pekerjaan orang yang menanggung beban itu yang tidak dipahami orang lain, pekerjaannya tidak dipedulikan, sampai kematian menimpanya. Ketika orang lain mengambil alih beban itu ia telah terbaring, dan orang yang mengambil alih pekerjaan itu pun mengalami kesulitan, dan barulah mereka dapat mengerti bagaimana iman dan keberaniannya telah diuji. Jadi sering kesalahan yang tadinya begitu mudah menjadi bahan celaan mereka lenyap dari perhatian. Pengalaman mengajarkan pada mereka tentang simpati. Allah mengizinkan manusia ditempatkan pada jabatan yang penuh tanggung jawab. Bilamana mereka bersalah, Ia berkuasa membetulkan atau memindahkan mereka. Kita harus hati-hati jangan sampai mengambil alih pekerjaan menghakimi milik Tuhan....

Juruselamat meminta kita, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Matius 7:1, 2). Ingatlah bahwa catatan hidupmu akan lewat dalam pemandangan Allah. Ingatlah juga, bahwa Ia berkata, “Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, enekau sendiri tidak bebas dari salah:...karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama” (Roma 2:1).

Ketabahan di Bawah Kesalahan

Kita tidak tahan membiarkan roh kita luka atas setiap kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja yang dilakukan pada orang lain. Diri kita sendiri adalah musuh yang sangat perlu kita waspadai. Tidak ada bentuk kejahatan yang mempunyai pengaruh terselubung atas tabiat melebihi nafsu manusia yang tidak berada di bawah pengendalian Roh Kudus. Tidak ada kemenangan lain yang dapat kita raih yang lebih berharga daripada kemenangan atas diri sendiri.

Kita tidak boleh membiarkan perasaan kita dengan mudah tersinggung. Kita harus menghayati, bukan sekadar menjaga perasaan kita atau nama baik kita, tetapi untuk menyelamatkan orang. Manakala kita tertarik kepada keselamatan orang lain, maka kita tak akan memikirkan lagi perbedaan kecil yang sering timbul dalam pergaulan kita satu dengan yang lain. Apa saja yang mungkin orang lain pikirkan tentang kita, itu tidak perlu mengganggu kesatuan kita dengan Kristus, yakni perhubungan dengan Roh itu. “Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah” (1 Petrus 2:20).

Janganlah membalas dendam. Sebaik-baiknya, hindarilah semua penyebab kesalahpahaman. Hindarilah kejahatan, lakukan apa yang dapat kaulakukan, tanpa mengorbankan prinsip, untuk berdamai dengan orang lain. “Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalarn hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali mempersembahkan persembahanmu itu” (Matius 5:23, 24).

Jikalau kata amarah diucapkan kepadamu, jangan menjawab dengan roh yang sama. Ingatlah bahwa “jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman” (Amsal 15:1). Dan memang ada kuasa yang luar biasa dalam sikap berdiam diri. Kata-kata yang diucapkan kepada orang yang marah kadangkadang hanya menimbulkan kejengkelan; tetapi amarah yang dihadapi dengan berdiam diri, dengan roh lemah lembut yang sabar, dengan cepat padam.

Di bawah semburan kata yang menyengat dan mencari-cari kesalahan, tetapkan pikiran supaya tetap pada firman Allah. Biarlah pikiran dan hati diisi dengan janji-janji Allah. Jikalau engkau diperlakukan dengan buruk atau dituduh dengan salah, gantinya membalas dengan amarah, ulangi pada dirimu sendiri janji-janji yang indah:

“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (Roma 12:21).

“Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak. Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang” (Mazmur 37:5, 6).

“Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui” Lukas 12:2).

“Engkau telah membiarkan orang-orang melintasi kepala kami, kami telah menempuh api dan air, tetapi Engkau telah mengeluarkan kami sehingga bebas” (Mazmur 66:12).

Kita cenderung memandang kepada sesama kita untuk memperoleh simpati dan keringanan, gantinya memandang kepada Yesus. Dalam rahmat dan kesetiaan Tuhan, Tuhan sering membiarkan orang yang kita percayai mengecewakan kita, supaya kita dapat mempelajari betapa bodohnya berharap pada manusia, dan menghidupkan senjata kita. Marilah kita berharap sepenuhnya kepada Tuhan dalam kerendahan hati, dengan tidak mementingkan diri. Ia mengetahui kesusahan yang kita rasakan sampai ke lubuk jiwa, yang tidak dapat kita ungkapkan. Bilamana segala sesuatu tampak gelap dan tak dapat diterangkan, ingatlah perkataan Kristus, “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak” (Yohanes 13:7).

Pelajarilah kisah tentang Yusuf dan Daniel. ‘Tuhan tidak mencegah rencana orang yang berusaha membahayakan mereka, tetapi Ia menyebabkan semua rencana ini bekerja demi kebaikan bagi hamba-Nya, yang berada di tengahtengah kes**aran dan pertentangan, memelihara iman dan kesetiaan mereka.

Selama kita masih berada di dunia ini, kita akan menghadapi berbagai pengaruh yang kurang baik. Mungkin ada provokasi yang menguji watak; menghadapinya dengan cara dan roh yang tepat membuat anugerah Kristiani berkembang. Jikalau Kristus tinggal dalam diri kita, maka kita akan menjadi sabar, ramah, dan tahan banting, gembira di tengah-tengah keresahan dan kejengkelan. Hari demi hari dan tahun demi tahun kita harus menaklukkan diri, dan bertumbuh menjadi pahlawan yang mulia. Ini adalah tugas kita yang dibagikan; tetapi tugas itu tidak dapat diselesaikan tanpa pertolongan dari Yesus, keputusan pasti, maksud yang tidak menyimpang, kewaspadaan yang terus menerus, dan doa yang tidak berkeputusan. Setiap orang mempunyai peperangan pribadi untuk bertempur. Bahkan Allah pun tidak dapat membuat tabiat kita mulia atau kehidupan kita berguna, kecuali kita menjadi teman sekerja dengan Dia. Mereka yang mundur dari perjuangan akan kehilangan kekuatan dan s**acita atas kemenangan.

Tidak perlu kita menyimpan catatan tentang kes**aran, kesulitan, kesedihan dan kesusahan kita. Semua hal ini tertulis dalam buku surga, dan surga yang akan menjaganya. Sementara kita menghitung-hitung hal-hal yang tidak menyenangkan, banyak hal yang menyenangkan untuk dipantulkan berlalu dari ingatan; antara lain seperti kebaikan Allah yang penuh rahmat yang mengelilingi kita setiap saat, dan kasih di atas mana malaikat-malaikat kagum, yaitu Allah mengaruniakan Anak-Nya mati demi kita. Jikalau sebagai pekerja Kristus engkau merasa bahwa engkau telah mengalami kekurangan dan kes**aran yang lebih besar daripada yang telah menimpa orang lain, ingatlah bahwa bagimu ada kedamaian yang tidak diketahui oleh mereka yang menolak beban ini. Terdapat hiburan s**acita dalam pekerjaan Kristus. Biarlah dunia melihat bahwa hidup bersama Dia tidak pernah gagal.

Jikalau engkau tidak merasa hati senang dan gembira, janganlah berbicara tentang perasaan-perasaanmu. Janganlah lontarkan bayang-bayang ke atas kehidupan orang lajn. Agama yang dingin, yang tidak bercahaya tidak pernah menarik jiwa kepada Kristus. Justru itu mengusir mereka jauh dari pada-Nya, kepada jaring yang telah dibentangkan Setan untuk kaki orang yang kesasar. Gantinya memikirkan kekeccwaanmu, pikirkanlah kuasa yang dapat engkau tuntut dalam nama Kristus. Biarlah imajinasimu tetap teguh atas hal-hal yang tidak tampak. Biarlah pemikiranmu diarahkan kepada bukti-bukti kasih Allah yang besar untukmu. Iman dapat menahan kes**aran, menolak pencobaan, benahan di bawah kekecewaan. Yesus hidup sebagai pembela kita, berkat jaminan pengantaraan-Nya semua menjadi milik kita.

Tidakkah engkau memikirkan bahwa Kristus menghargai mereka yang hidup sepenuhnya bagi Dia? Tidakkah engkau memikirkan bahwa Ia melawat mereka yang sama seperti Yohanes yang dikasihi di pembuangan karena nama-Nya, menghadapi kes**aran berat dan pencobaan? Allah tidak akan membiarkan salah seorang dari pekerja-Nya yang benar hatinya ditinggalkan sendirian, untuk bergumul melawan ketidakberesan dan dikalahkan. Ia memelihara seperti menjaga permata yang mahal setiap orang yang hidupnya terlindung dalam Kristus. Kepada setiap orang yang seperti itu, Ia mengatakan, “Aku...akan menjadikan engkau seperti cincin meterai; sebab engkaulah yang Kupilih” (Hagai 2:24).

Kemudian bicarakanlah tentang janji-janji; bicarakanlah tentang kemauan Yesus untuk memberkati. Ia tidak melupakan kita biar seketika saja lamanya. Dengan tidak memandang keadaan lingkungan yang tidak menyenangkan, bilamana kita berhenti dengan keyakinan dalam kasih-Nya dan menyembunyikan diri kita dalam Dia, perasaan terhadap kehadiran-Nya akan mendorong suatu kes**aan yang dalam dan sentosa. Tentang diri-Nya sendiri Kristus berkata: “Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. la tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (Yohanes 8:28, 29).

Pupuklah kebiasaan membicarakan yang baik tentang orang lain. Tetaplah dengan kualitas yang baik dalam pergaulanmu, dan lihat sesedikit mungkin kesalahan dan kegagalan mereka. Bilamana tergoda untuk mengeluh terhadap apa yang dikatakan atau dilakukan seseorang, pujilah sesuatu dalam kehidupan atau tabiat orang itu. Kembangkan rasa syukur. Pujilah Allah karena kasih-Nya yang ajaib dalam mengaruniakan Kristus untuk mati bagi kita. Tidak ada gunanya memikir-mikirkan tentang kesengsaraan kita. Allah meminta kita untuk memikirkan kemurahan-Nya dan kasih-Nya yang tiada taranya, sehingga kita dapat digerakkan pujian.

Para pekerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai waktu untuk memikir-mikirkan kesalahan orang lain. Kita tidak dapat hidup di atas kulit kesalahan atau kegagalan orang lain. Berbicara jahat adalah kutuk ganda, yang jatuh lebih berat ke atas si pembicara daripada ke atas si pendengar. Barang siapa menyebarkan benih perpecahan dan pertengkaran, akan menuai buah yang mematikan. Perbuatan mencari-cari kejahatan orang lain berarti mengembangkan kejahatan pada diri mereka yang mencari-cari itu. Dengan memikir-mikirkan kesalahan orang lain, kita diubah kepada gambaran yang sama. Tetapi dengan memandang kepada Yesus, mereguk kasih dan kesempurnaan tabiat-Nya, kita menjadi berubah kepada citra-Nya. Dengan merenungkan cita-cita tinggi yang ditempatkan-Nya di hadapan kita, maka kita akan ditinggikan kepada suatu suasana yang murni dan suci, dan di hadapan hadirat Allah. Bilamana kita tinggal di sini, akan keluar dari kita terang yang menyinari semua orang yang berhubungan dengan kita.

Gantinya mengeritik dan menyalahkan orang lain, katakan, “Saya harus mengerjakan keselamatan saya sendiri. Jikalau saya bekerja sama dengan Dia yang rindu menyelamatkan jiwa saya, maka saya harus menjaga diri saya sendiri dengan tekun. Saya harus menyingkirkan setiap kejahatan dari kehidupan saya. Saya harus mengalahkan setiap kesalahan. Saya harus menjadi seorang makhluk yang baru di dalam Kristus. Barulah, gantinya melemahkan mereka yang bergumul melawan kejahatan, saya dapat menguatkan mereka dengan kata-kata yang memberi semangat.”

Kita bersikap terlalu acuh tak acuh kepada satu dengan yang lain. Terlampau sering kita lupa bahwa sesama kerja kita memerlukan kekuatan dan kegembiraan. Perhatikan dan peliharalah mereka yang berada di dalam simpatimu. Tolonglah mereka dengan doamu, dan biarlah mereka mengetahui bahwa engkau melakukannya.- Ministry of Healing, hlm. 483-493.

Semua yang mengaku anak-anak Allah harus ingat bahwa selaku misionaris mereka akan dibawa berhubungan dengan segala jenis kelas pikiran. Ada yang halus dan kasar, yang rendah hati dan sombong, yang beragama dan acuh tak acuh, yang terdidik dan bodoh, yang kaya dan miskin. Pikiran-pikiran yang beranekaragam ini tidak dapat diperlukan sama; namun semua memerlukan kebaikan dan simpati. Dengan kontak timbal balik pikiran kita akan menerima gosokan dan penghalusan. Kita saling bergantung satu dengan yang lain, terikat erat bersama-sama dengan ikatan persaudaraan manusia ...

Melalui hubungan sosiallah agama Krisren dapat berhubungan dengan dunia’ Setiap pria atau wanita yang telah menerima penerangan Ilahi harus memancarkan terang ke atas jalan yang gelap dari mereka yang belum mengenal jalan yang lebih baik. Kekuatan sosial, yang disucikan oleh Roh Kristus, harus ditingkatkan dalam membawa jiwa-jiwa kepada Juruselamat. Kristus tidak boleh disembunyikan di dalam hati sebagai suatu harta yang dirindukan, kudus dan manis, untuk dinikmati semata-mata hanya oleh si pemilik. Kita harus memiliki Kristus di dalam diri kita sebagai sebuah sumur air, yang muncul sampai kepada hidup yang kekaJ, menyegarkan semua orang yang dapat berhubungan dengan kita .- Ministry of Healing, hlm. 496.

19/10/2019

🌾🌾 *KEHIDUPAN*🌾🌾

Pada suatu hari, seorang yang bijak meminta kepada seorang tukang emas yang sudah tua renta untuk membuat cincin dan menuliskan sesuatu di dalamnya.
Sang bijak berpesan, *"Tuliskanlah sesuatu yang bisa di simpulkan dari seluruh pengalaman dan perjalanan hidupmu supaya bisa menjadi pelajaran bagi hidupku."*

Berbulan-bulan si tukang emas yang tua membuat cincin tersebut merenung... kalimat apa yang patut diukir di cincin emas yang kecil itu.
Akhirnya, si tukang emas mengukir sepotong kalimat, dan menyerahkan cincinnya pada sang bijak.

Dengan tersenyum,
sang bijak membaca tulisan kecil di cincin itu.
Bunyinya,

*"THIS TOO, SHALL PASS"*

_(Yang inipun, akan berlalu_)

Awalnya sang bijak tidak terlalu paham dengan tulisan itu.
Tapi suatu ketika, tatkala menghadapi persoalan hidup yang pelik, tak sengaja ia membaca tulisan di cincin itu

*"YANG INI PUN AKAN BERLALU,"*

lalu ia pun menjadi lebih tenang

Dan tatkala ia sedang bersenang-senang, ia pun tak sengaja membaca tulisan di cincin itu

*"YANG INI PUN AKAN BERLALU,"*

lantas ia menjadi rendah hati kembali.

Ketika kita mempunyai masalah besar ataupun sedang dalam kondisi terlalu gembira, ingatlah kalimat :

*"YANG INI PUN AKAN BERLALU "*

Tidak ada satupun di dunia ini yang abadi.
Jadi, ketika kita punya *masalah*, jalanilah & janganlah terlalu bersedih.
Demikian juga tatkala kita sedang senang, nikmatilah dan syukuri, jangan lupa diri.

Ingatlah, apapun yang kita hadapi saat ini, *semuanya akan berlalu*.

Untuk itu :
• Tetaplah SEJUK di tempat yang Panas..
• Tetaplah MANIS di tempat yang begitu Pahit..
• Tetaplah merasa KECIL meskipun telah menjadi Besar.. dan
• Tetaplah TENANG di tengah Badai yang paling Hebat..

Semua yang ada di dunia ini tak ada yang abadi, kecuali yang Empunya Kehidupan yakni Tuhan.

*"THIS TOO, SHALL PASS"*

Selamat menikmati *hari sabat yg indah ini....*🌿🌤🌸

07/10/2016

:: Jangan Anggap Diri Anda Lebih Pintar ::

Pada suatu hari, seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.

Tukang cukur berkata, "Itu Benu, dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal"

"Masak, apa iya?" jawab pengusaha

Lalu tukang cukur memanggil si Benu, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp.2.000 dan koin Rp.1.000, lalu menyuruh Benu memilih, "Benu, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil!"

Benu melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp.1.000.

Tukang cukur dengan perasaan bangga lalu melirik dan berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, "Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya ngetes dia seperti itu tadi dan dia selalu mengambil uang logam yang nilainya lebih kecil."

Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan p**ang dia bertemu dengan Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Benu dan bertanya, "Benu, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp.2.000 dan Rp.1.000, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp.1.000, kenapa tak ambil yang Rp.2.000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp.1.000?"

Benu pun tertawa kecil berkata, "Saya tidak akan dapat lagi Rp.1.000 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang seribu. Kalau saya ambil yang Rp.2.000, berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari."

Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga mereka sering menganggap remeh orang lain. Ukuran kepintaran seseorang hanya TUHAN yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya jika kita tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain. Di atas langit masih ada langit yang lain.

23/05/2016

KERETA KEHIDUPAN

Hidup bagaikan sebuah perjalanan menaiki kereta...
Dengan stasiun-stasiun pemberhentiannya...
dengan perubahan-perubahan rute perjalanan...
dan dengan peristiwa-peristiwa yang menyertainya…

Kita mulai menaiki kereta ini ketika kita lahir ke dunia…
Orangtua kita yang memesankan tiket untuk kita...
Kita menduga bahwa mereka akan selalu bersama kita di dalam kereta...
Namun, di suatu stasiun, orangtua kita akan turun dari kereta dan meninggalkan kita sendirian dalam perjalanan ini...

Waktu berlalu, dan penumpang lain akan menaiki kereta ini...
Banyak di antara mereka akan menjadi orang yang berarti dalam hidup kita
Pasangan kita, teman-teman, anak-anak, dan orang-orang lain yang kita sayangi...
Banyak di antara mereka yang akan turun dari kereta selama perjalanan ini...
Dan meninggalkan ruang kosong dalam hidup kita..
Banyak di antara mereka yang akhirnya pergi tanpa kita sadari…
Bahkan, kita tak tahu dimana mereka duduk dan kapan mereka meninggalkan kereta...

Perjalanan kereta kehidupan ini penuh dengan s**a, duka, impian & harapan, ucapan "hallo", "selamat tinggal", cinta & airmata...

Perjalanan yang indah akan diwarnai dengan saling menolong, saling mengasihi dan hubungan baik dengan seluruh penumpang kereta...
Dan memastikan bahwa kita memberi yang terbaik agar perjalanan mereka nyaman...
Satu misteri dalam perjalanan yang mempesona ini adalah,
kita tak tahu di stasiun mana kita akan turun...
Maka kita harus hidup dengan cara yang terbaik,
menyesuaikan diri, memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain,
dan memberikan yang terbaik yang kita miliki!

Sangatlah penting untuk melakukan semua itu,
Sebab, bila tiba saatnya bagi kita untuk meninggalkan kereta...kita harus meninggalkan kenangan indah bagi mereka yang meneruskan perjalanan setelah kita tiada.

15/05/2016

Kita tidak mendapat keselamatan dengan penurutan; karena keselamatan itu sendiri adalah pemberian Allah dengan cuma-cuma, yang diterima oleh karena percaya. Tetapi penurutan itulah buah iman. “Maka kamu mengetahui bahwa Kristus itu diberi nyata supaya Ia melenyapkan segala dosa; maka di dalamnya itu tiada ada dosa. Barangsiapa yang tinggal di dalam Dia, tiadalah berbuat dosa; maka barangsiapa yang berbuat dosa, belum nampak Dia dan belum kenal Dia.” 1 Yahya 3:5,-6. Inilah ujian yang benar. Jika kita tinggal di dalam Kristus, jika kasih Allah tinggal di dalam diri kita, perasaan kita, pikiran-pikiran kita, maksud-maksud dan perbuatan-perbuatan kita, haruslah sesuai dengan kehendak Allah sebagaimana yang dinyatakan di dalam peraturan-peraturan hukumNya yang suci itu. “Hai anak-anakku, janganlah ada barang seorang membawa kamu kepada jalan yang sesat. Maka orang yang berbuat barang yang benar itu, ialah benar, seperti Kristus benar adanya.” 1 Yahya 3:7. Kebenaran dijelaskan oleh ukuran hukum Allah yang suci, sebagaimana dinyatakan di dalam sepuluh hukum yang diberikan di Gunung Sinai.

Address

Talawaan Bantik Jaga 3 Kec Wori
Airmadidi
95376

Opening Hours

Monday 08:00 - 21:00
Tuesday 08:00 - 21:00
Wednesday 08:00 - 21:00
Thursday 08:00 - 21:00
Friday 08:00 - 17:00
Saturday 18:30 - 23:45
Sunday 08:00 - 21:00

Telephone

+6281243166678

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Galeri Kawanua posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Galeri Kawanua:

Share