XCellent

XCellent XCellent Store Online
Supplies over millions household products into your door step.Can't find any product?Please contact us.

LATRIA, HYPERDULIA, PROTODULIA, DULIA*Mandra: Dul...Dul...DulOleh: Pdt.Dr.Wanda DumaisPertanyaan, diskusi, doa, konselin...
12/06/2026

LATRIA, HYPERDULIA, PROTODULIA, DULIA
*Mandra: Dul...Dul...Dul

Oleh: Pdt.Dr.Wanda Dumais
Pertanyaan, diskusi, doa, konseling, pelayanan lanjutan atau ingin berbicara secara langsung dapat menghubungi: WA +61 433 535 015

Gereja Katolik sangat akrab dengan pengkultusan. Maka untuk membela bahwa pengkultusan itu berbeda dari penyembahan mereka berusaha bermain terminologi.

Menurut gereja Katolik, pengkultusan itu tidak sama dengan penyembahan.

Ada beberapa terminologi yang disukai gereja Katolik (mereka melagukan ini dengan menggunakan suara satu).

LATRIA: tindakan penghormatan dan penyembahan hanya kepada Allah Tritunggal, Bapa, Putra dan Roh Kudus

HYPERDULIA: tindakan pengkultusan dan penghormatan kepada Perawan Maria yang diberkati

PROTODULIA: tindakan pengkultusan dan penghormatan kepada ayah angkat Yesus dan suami Maria yaitu Santo Yusuf

DULIA: tindakan pengkultusan dan penghormatan kepada semua orang kudus di sorga

Terminologi-terminologi tersebut muncul dari pemikiran Thomas Aquinas dalam essay terkenal yang berjudul "the Summa Theologiæ (Summation of Theology". Thomas Aquinas adalah seorang Dominican friar-priest yang nama aslinya adalah Tommaso d’Aquino; A.D. 1225–1274.

Thomas Aquinas mengatakan bahwa karena Yesus adalah Allah-Manusia, maka baik kemanusiaan dan keilahian Yesus harus disembah secara bersama-sama. Menyembah kemanusiaan Yesus sama artinya juga dengan menyembah keilahian Yesus (Aquinas, STh., III q.25 a.1 resp).

*point ini saya setuju

Maka penyembahan itu terbagi dalam dua bentuk:

1. Adoration - menghormati/Latria
2. Veneration - pengkultusan/Dulia

Menurut Thomas Aquinas, Latria adalah bentuk penyembahan yang tertuju hanya kepada Allah pencipta, mengakui kedaulatan Allah yang supreme.

Sementara Dulia, adalah bentuk penyembahan, Thomas Aquinas tidak memakai kalimat ini sebab tidak akan konsisten. Dulia digunakan untuk ciptaan Allah.

Thomas Aquinas memperluas Latria kepada hal-hal yang merefleksikan Allah seperti jubah Yesus, Salib Yesus dan bahkan Ekaristi, dimana Kristus hadir.

*Disini penjelasan Thomas Aquinas menjadi kabur karena Ekaristi yaitu hosti berubah menjadi Latria, padahal Latria dalam konsepnya adalah penyembahan yang tertuju kepada Allah. Lalu mengapa Ekaristi, hosti buatan manusia harus disembah dan menggugurkan konsep Latria?

Dalam kasus Maria, Aquinas lebih tidak konsisten lagi. Thomas katakan Maria harus dihormati dalam bentuk Dulia, bukan disembah Latria. Tetapi karena statusnya sebagai Theotokos, Bunda Allah, maka Maria harus dihormati dalam bentuk Hyperdulia, lebih tinggi dari orang kudus lainnya.

Thomas Aquinas menggunakan konsep ini dari Alkitab Septuaginta. Menurut Thomas Aquinas, Dulia itu dilakukan untuk ciptaan Allah karena ciptaan Allah itu memancarkan kemuliaan Allah, jadi digunakan untuk orang-orang kudus dan para malaikat.

*Bantahan saya, Alkitab Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama hanya mengenal bentuk penyembahan kepada Allah. Alkitab bahkan melarang kita memberikan penyembahan kepada ciptaan.

Keluaran 20:3-4

(3) Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. (4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,

"Jangan.....beribadah kepadanya"

Tetapi konsep Thomas Aquinas menjadi senjata ampuh untuk Hyperdulia:

Salam Maria penuh rahmat (tidak ada di dalam Alkitab: full grace/gratia plena dari Alkitab Vulgata, Jerome), Tuhan sertamu
Terpujilah engkau di antara semua wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus

Santa Maria (tidak ada di dalam Alkitab),
Doakanlah kami yang berdosa ini (jangan sujud menyembah dan beribadah kepadanya), sekarang dan sampai kami mati (berdoa kepada orang mati, meminta keselamatan).

Thomas Aquinas justru membantah teologi gereja Katolik. Dia sendiri menjadi bingung ketika ingin menjelaskan konsep penyembahan kepada manusia yang dia samarkan dalam istilah "veneration/venerasi".

Ketika konsep venerasi Maria diserang karena dianggap Maria disembah sebagai Allah, Thomas Aquinas mengatakan bahwa Maria hanya disembah dalam konteks Dulia bukan Latria. Tetapi ketika dihadapkan pada penyembahan orang kudus lainnya maka Thomas Aquinas mengatakan Maria itu disembah sebagai Hyperdulia, bukan penghormatan biasa. Posisi Maria akhirnya terombang ambing, manusia bukan, Tuhan bukan. Akhirnya menjadi Hyperdulia - Kultus Hyper kepada Maria akhirnya atau Mary Cult Hyperdulia.

Maranatha Blessings,

Pdt.Dr.Wanda Dumais
WA +61 433 535 015

Di dalam kitab Wahyu, Yohanes berbicara mengenai 4 wanita yang sama sekali tidak menunjuk pada orang tertentu atau wanit...
12/06/2026

Di dalam kitab Wahyu, Yohanes berbicara mengenai 4 wanita yang sama sekali tidak menunjuk pada orang tertentu atau wanita tertentu melainkan mengenai system agama dan perkembangannya. Kalau anda setia baca Alkitab dan mempelajari isinya maka anda akan tahu siapa salah satu wanita yang disebut Yohanes di dalam Wahyu pasal 12, yang jelas bukan Maria, Ibu Yesus.

Itulah pentingnya membaca Alkitab dan belajar Alkitab dengan system Sound Doctrine, supaya anda tidak disesatkan dan menyesatkan.

Kelas berlangsung 1 jam, dibuka dengan berdoa bersama, ada diskusi hangat. Kelas ini untuk guru agama, pendeta, teolog, mahasiswa teologi dan awam.

Objective:

Menghasilkan Apologet Kristen, Teolog, Gembala, Guru Agama, Missionaries dan Perintis Gereja

TUHAN YESUS TIDAK MENYURUHMU MEMBAYAR PERSEPULUHAN DARI SEMUA PENGHASILANMU.Oleh: Pdt.Dr.Wanda DumaisPertanyaan, diskusi...
11/06/2026

TUHAN YESUS TIDAK MENYURUHMU MEMBAYAR PERSEPULUHAN DARI SEMUA PENGHASILANMU.

Oleh: Pdt.Dr.Wanda Dumais
Pertanyaan, diskusi, doa, konseling, pelayanan lanjutan atau ingin berbicara secara langsung dapat menghubungi: WA +61 433 535 015

Banyak gereja mengutip perkataan Yesus ini untuk mendukung ajaran Persepuluhan Uang di gereja mereka:

Lukas 18:12

aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

Ayat ini jelas menulis mengenai: "sepersepuluh dari segala penghasilanku"

Maka banyak gereja segera menafsirkan bahwa Yesus sedang mengajarkan prinsip "Persepuluhan dari semua penghasilan".

Di gereja segera dikhotbahkan bahwa Persepuluhan dibayar dari semua penghasilan, entah itu gaji pokok, bonus, pendapatan dari usaha, pendapatan sampingan dan semua hal yang menghasilkan uang harus dikenakan Persepuluhan.

Tetapi Lukas 18:12 bukan tentang prinsip Persepuluhan dari segala penghasilan meskipun ayatnya berbunyi seperti itu.

Yesus sedang mengajar dengan menggunakan perumpamaan dengan dua model manusia yaitu Pemungut Cukai dan Orang Farisi.

Yesus sedang menyampaikan apa yang orang Farisi katakan yaitu membayar Persepuluhan dari segala penghasilan.

Apa maksud Yesus dengan hal tersebut?

Yesus adalah seorang rabi Farisi, maka Yesus mengetahui latar belakang perkataan orang Farisi tersebut.

Orang Farisi memperluas prinsip Persepuluhan bukan hanya pada hasil panen biasa di tanah pertanian tetapi juga Persepuluhan dari bumbu-bumbu dapur yang tumbuh di halaman rumah. Prinsip ini bukan berasal dari Torah tetapi dari penafsiran kelompok Farisi sendiri.

Tetapi orang Farisi tetap menerapkan prinsip utama Persepuluhan yaitu Persepuluhan dibayar dari increase atau dari keuntungan/profit.

Orang Farisi memperluas prinsip Persepuluhan sampai kepada bumbu-bumbu dapur di halaman rumah tetapi mereka tetap berpegang pada prinsip utama yaitu Persepuluhan tetap dipungut berdasarkan increase, keuntungan atau profit. Apabila bumbu-bumbu dapur tersebut hanya untuk dipakai sendiri atau dimakan sendiri maka bumbu-bumbu dapur itu tidak dikenakan persepuluhan.

Prinsip utama Persepuluhan:

Imamat 27:30-33

(30) Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN. (31) Tetapi jikalau seseorang mau menebus juga sebagian dari persembahan persepuluhannya itu, maka ia harus menambah seperlima. (32) Mengenai segala persembahan persepuluhan dari lembu sapi atau kambing domba, maka dari segala yang lewat dari bawah tongkat gembala waktu dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi TUHAN. (33) Janganlah dipilih-pilih mana yang baik dan mana yang buruk, dan janganlah ditukar; jikalau orang menukarnya juga, maka baik hewan itu maupun tukarnya haruslah kudus dan tidak boleh ditebus."

Ulangan 14:22

Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun.

Prinsip utama Persepuluhan adalah dibayar dari hasil keuntungan, increase atau profit. Maka kalau hasil panen itu gagal, hanya cukup untuk makan, hasil panen tersebut tidak dipungut Persepuluhan.

Saat orang Farisi berkata bahwa dia membayar sepersepuluh dari segala penghasilan di dalam Lukas 18:12, dia tidak memaksudkan Persepuluhan dari gaji, bonus atau hasil usaha lainnya yang bersifat uang tetapi dia membayar dari tanaman rempah di halaman rumahnya yang bisa dijual atau menghasilkan keuntungan. Bila tanaman rempah itu hanya cukup untuk dimakan maka tidak ada Persepuluhan dari hal itu.

Dalam hal perumpamaan mengenai Pemungut Cukai dan Orang Farisi, Tuhan Yesus tidak mengajarkan prinsip yang baru melainkan prinsip yang sudah diajarkan Torah.

Persepuluhan harus dibayar dari increase atau dari keuntungan, dari profit dan Persepuluhan tidak pernah dibayar dari uang.

Orang Farisi memperluas prinsip Persepuluhan karena mereka menerapkan prinsip Membuat Pagar di sekitar Torah. Sebelum orang jatuh berdosa melanggar Torah, maka di sekeliling Torah dibuat aturan berlapis untuk mencegah orang jatuh pada dosa yang sesunggugnya.

Tidak ada yang berubah dari prinsip Persepuluhan yaitu dibayar dari hasil panen di tanah Israel dan dibayar dari hasil keuntungan atau hasil benih.

Apabila tanah tersebut menghasilkan benih yang hanya cukup untuk dimakan maka prinsip Tevel tidak berlaku. Orang Israel boleh memakan hasil pertaniannya dan menggunakan hasil benih itu untuk ditanami kembali tetapi hasil pertanian itu tidak boleh dijual.

Persepuluhan bukan dibayar dari semua penghasilan, jangan memotong kalimat ayat Alkitab atau memfabrikasi maksud ayat Alkitab. Persepuluhan dibayar dari semua tanaman yang menghasilkan baik itu ditanam di tanah pertanian maupun ditanam di sekitar rumah.

Tuhan Yesus tidak menyuruhmu membayar Persepuluhan dari semua penghasilanmu atau dari semua uangmu.

Maranatha Blessings,

Pdt.Dr.Wanda Dumais
Kontak WA +61 433 535 015

MARIA VERSI KATOLIK ROMA TIDAK BERDOSA, BAGAIMANA MUNGKIN DITAFSIRKAN SEBAGAI PEREMPUAN DI DALAM WAHYU PASAL 12, YANG ME...
11/06/2026

MARIA VERSI KATOLIK ROMA TIDAK BERDOSA, BAGAIMANA MUNGKIN DITAFSIRKAN SEBAGAI PEREMPUAN DI DALAM WAHYU PASAL 12, YANG MENGALAMI SAKIT BERSALIN HEBAT?

Oleh: Pdt.Dr.Wanda Dumais
Pertanyaan, diskusi, doa, konseling, pelayanan lanjutan atau ingin berbicara secara langsung dapat menghubungi: WA +61 433 535 015

Bagaimana menafsirkan Wahyu 12?

Penglihatan Yohanes dalam Wahyu Pasal 12 merupakan kelanjutan dari Wahyu Pasal 11

Wahyu Pasal 11 adalah penglihatan mengenai dua saksi yang bernubuat sambil berkabung untuk seluruh dunia selama 1260 hari lamanya.

Wahyu 11:3

Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.

Pada akhirnya kedua saksi ini terbunuh, setelah menyelesaikan kesaksian atau nubuat mereka.

Wahyu 11:6

Dan apabila mereka telah menyelesaikan kesaksian mereka, maka binatang yang muncul dari jurang maut, akan memerangi mereka dan mengalahkan serta membunuh mereka.

Kalau kita melihat ciri pelayanan kedua saksi ini, kesaksian kedua orang ini tertuju kepada orang Yahudi.

Sebab Wahyu 11:1-2 menjelaskan hubungan pelayanan kedua saksi dengan Bait Allah di Yerusalem, dimana pelataran luar atau outer court diserahkan kepada bangsa non Yahudi selama 42 bulan untuk dinajiskan.

(1) Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: "Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya. (2) Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya."

Konteks penajisan pelataran luar Bait Allah selama 42 bulan cocok dengan pelayanan kedua saksi yaitu 1260 hari atau 42 bulan dan pelayanan kedua saksi ini tertuju kepada orang Yahudi. Pelayanan kedua saksi ini dalam rangka pemulihan bangsa Israel atau untuk menjangkau orang-orang Yahudi yang belum percaya kepada Yesus Kristus.

Saya sendiri menafsirkan kedua saksi ini adalah Musa dan Elia.

Maka kalau kita lihat Wahyu Pasal 11 adalah penglihatan yang tujuannya khusus untuk orang Yahudi. Penglihatan ini kemudian berlanjut pada Wahyu Pasal 12, yang berbicara hal sama yaitu KeYahudian.

Perempuan yang disebut di dalam Wahyu pasal 12, yang mendapat ancaman dari Naga Merah Padam berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh dengan tujuh mahkota, menunjuk hal yang sama yaitu KeYahudian. Jadi tidak ada hubungan dengan Gereja atau tafsiran gereja Katolik Roma bahwa perempuan itu adalah Maria.

Apakah Yohanes benar-benar melihat seorang perempuan di langit berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan memakai mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya?

Wahyu 12:1-2

(1) Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. (2) Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.

Perhatikan kata-kata Yohanes yaitu ada tanda besar di langit atau dalam bahasa Yunani adalah Semeion.

Semeion artinya tanda figurative atau symbolic.

Jadi Yohanes bukan mau mengatakan bahwa dia benar-benar melihat seorang perempuan di langit tetapi Yohanes sedang berbicara sesuatu yang simbolik atau bahasa figurative.

Yohanes sedang memberitahu kita apa yang telah terjadi di bumi dan akan terjadi di bumi melalui bahasa simbolik atau bahasa figurative. Tentu Yohanes memberikan referensi berdasarkan Perjanjian Lama atau Torah yang telah dia pelajari,

Perempuan yang dikatakan Yohanes dalam Wahyu pasal 12 adalah perempuan yang sedang mengandung, mengalami kesakitan bersalin dan mengalami penderitaan besar saat hendak melahirkan karena begitu sakitnya bahkan perempuan ini berteriak kesakitan.

Kalau gereja Katolik Roma konsisten dengan tafsiran mereka bahwa Maria dikandung tanpa dosa maka perempuan yang disebutkan Yohanes tidak cocok dengan Maria sebab Maria tidak mengalami sakit bersalin karena dosa, Maria Katolik Roma tidak berdosa. Maria Katolik Roma tidak berdosa maka Maria tidak mengalami sakit bersalin. Perempuan yang disebut Yohanes dalam Wahyu 12 justru berteriak keras karena kesakitan hendak melahirkan anak sebagai konsekuensi manusia yang jatuh dalam dosa.

Hanya perempuan berdosa saja yang mengalami sakit bersalin.

Kejadian 3:16

Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu

Yohanes sedang memikirkan Hawa saat dia menjelaskan tentang perempuan yang sedang mengandung, sakit bersalin hebat dan akhirnya melahirkan Anak laki-laki.

Yohanes sedang memikirkan tentang penebus yang dilahirkan oleh seorang wanita dan janji penebusan yang diterimanya. Maka Kejadian 3:15 mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Wahyu Pasal 12.

Gambaran perempuan yang disampaikan Yohanes juga tidak cocok dengan Maria, perempuan yang dilihat Yohanes muncul di langit, berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan memakai mahkota dari dua belas bintang. Kalau Katolik Roma menafsirkan perempuan di Wahyu 12, justru Maria akan terlihat seperti Queen Mother, ini akan menguatkan pendapat saya bahwa Katolik Roma menyembah dewa pagan yaitu Queen Mother.

Tetapi yang saya bilang Yohanes mengatakan Semeion atau tanda simbolik atau figurative, maka tidak bisa ditafsirkan sebagai perempuan sungguhan. Symbol dalam kitab Wahyu harus ditafsirkan sesuai makna Symbol.

Yohanes di dalam kitab Wahyu berbicara tentang Izebel, bukan tentang perempuan tetapi tentang ajaran sesat di gereja Tiatira.

Yohanes di dalam kitab Wahyu berbicara mengenai pelacur besar bukan perempuan tertentu dalam Wahyu 17

Yohanes di dalam kitab Wahyu berbicara mengenai pengantin perempuan bukan perempuan tertentu tetapi mengenai gereja.

Maka simbol yang sama dipakai Yohanes terkait perempuan di dalam Wahyu 12.

Yohanes sedang berbicara mengenai spiritual sistem ketika dia mengatakan tentang perempuan di dalam kitab Wahyu, bukan menunjuk pada pribadi wanita tertentu yang ditafsirkan Katolik Roma sebagai Maria.

Pada akhirnya Yohanes berbicara bahwa perempuan ini akan melarikan diri ke padang gurun selama 1260 hari lamanya.

Wahyu 12:6

Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.

Kalau ayat ini ditafsirkan sebagai Maria maka Maria melarikan diri ke padang gurun selama 1260 hari lamanya. Peristiwa Maria lari ke Mesir sudah terjadi sedangkan Yohanes berbicara mengenai nubuat yang belum terjadi. Yohanes menyebut perempuan itu lari ke padang gurun seorang diri, tidak ada suaminya dan tidak ada anaknya. Katolik Roma menggunakan cocoklogi Maria lari ke Mesir bersama Yusuf dan bayi Yesus. Yohanes tidak pernah menyebut padang gurun sebagai Mesir. Maria, Yusuf dan bayi Yesus lari ke Mesir bukan ke padang gurun. Maria, Yusuf dan bayi Yesus lari ke padang gurun selama 1260 hari pasti mati disitu. Buat apa tinggal di padang gurun selama 1260 hari, sambil membawa bayi yang belum genap 2 tahun? Suami mana yang begitu bodoh lari ke padang gurun dan tinggal di sana bersama istri dan bayi yang masih kecil selama 1260 hari?

Pengajaran lengkap mengenai exegesis Kitab Wahyu secara khusus pasal 12 sudah disampaikan di dalam kelas Eleos Theological School oleh Pdt.Dr.Wanda Dumais.

Maranatha Blessings,

Pdt.Dr.Wanda Dumais
Kontak WA +61 433 535 015

TEOLOGI ASBUN, NGAWUR DAN SESAT: WAHYU 12:1 DITAFSIRKAN SEBAGAI MARIAOleh: Pdt.Dr.Wanda DumaisPertanyaan, diskusi, doa, ...
10/06/2026

TEOLOGI ASBUN, NGAWUR DAN SESAT: WAHYU 12:1 DITAFSIRKAN SEBAGAI MARIA

Oleh: Pdt.Dr.Wanda Dumais
Pertanyaan, diskusi, doa, konseling, pelayanan lanjutan atau ingin berbicara secara langsung dapat menghubungi: WA +61 433 535 015

Para rasul di Perjanjian Baru mengajar dengan tegas dan jelas bahwa Yesus adalah Allah. Pengajaran ini bersumber dari pengakuan Petrus yang terkenal, ketika Yesus bertanya kepadanya, "Siapakah Aku?" Petrus menjawab: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" - Matius 16:16

Tetapi tidak seorangpun dari rasul-rasul Yesus pernah mengajar bahwa Maria adalah ibu Allah.

Logika ini sering dipakai:

Jesus was God, Mary was the Mother of God.

Logika ini dipakai oleh gereja Katolik Roma.

Tetapi Alkitab Perjanjian Baru yang kita miliki yang berisi pengajaran para rasul atau Paradosis tidak pernah mengajar tentang ibu Allah. Mereka dengan jelas mengajar bahwa Maria adalah ibu Yesus.

Sampai saat Yesus tentang menuntaskan pelayanan-Nya di bumi dan naik ke surga, pandangan para rasul kepada Maria, tetap sama yaitu ibu Yesus.

Lihat disini informasi dari Lukas:

Kisah Para Rasul 1:14

Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.

Pandangan para rasul mengenai Yesus sudah berubah dan mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup artinya Yesus setara dengan Allah pencipta langit dan bumi, Yesus memiliki dua natur yaitu natur Allah dan natur Manusia, Yesus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, tetapi pandangan para rasul tetap sama yaitu Maria adalah ibu Yesus.

Konsep Ibu Allah tidak pernah ada di dalam pikiran para rasul. Para rasul mengetahui bahwa Allah bukan manusia sehingga Allah tidak mungkin dilahirkan oleh seorang manusia. Konsep Ibu Allah membantah seluruh teologi Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Konsep Ibu Allah adalah konsep yang lahir dari agama pagan. Agama Yahudi dan agama Kristen tidak pernah mengenal konsep Ibu Allah.

Para rasul tidak pernah memperlakukan Maria sebagai manusia istimewa. Ketika para rasul memberitakan tentang Yesus atau memberitakan Injil, para rasul tidak pernah memberitakan tentang Maria tetap perawan seumur hidupnya. Sesungguhnya tidak ada pemberitaan tentang Maria di dalam pemberitaan para rasul. Para rasul memberitakan kelahiran Yesus dari seorang perawan tapi para rasul tidak pernah menyatakan bahwa Maria tetap perawan seumur hidupnya.

Matius 1:18

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

Bahkan Matius mengajar dari Torah yaitu mengutip perkataan nabi:

Matius 1:23

"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" yang berarti: Allah menyertai kita.

Lukas 1:34-35

(34) Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (35) Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.

Para rasul mengajar bahwa Yesus dikandung dari Roh Kudus. Yesus dikandung oleh seorang Perawan, wanita yang belum pernah disentuh pria dan belum pernah berhubungan seks. Yesus dilahirkan dari seorang Perawan yang bernama Maria.

Para rasul tidak pernah mengajar tentang Maria dan keistimewaan Maria sebab bukan itu pusat pemberitaan para rasul. Para rasul tidak pernah mengajar bahwa Maria adalah Perawan Sampai Akhir Hidupnya dan Maria adalah Manusia Tanpa Dosa. Para rasul tidak pernah mengajar bahwa Maria diangkat Allah ke surga dalam tubuh manusia. Para rasul tidak pernah mengajar bahwa Maria adalah ibu Allah. Catatan Alkitab yang paling jelas mengatakan bahwa Maria adalah ibu Yesus.

Pengajaran para rasul selalu konsisten di sepanjang Alkitab Perjanjian Baru.

Ketika Yohanes, rasul Yesus mendapatkan penglihatan mengenai perempuan yang lahir ke padang gurun di dalam Wahyu 12:1-6, penglihatan itu BUKAN tentang Maria.

Sejak bersama dengan Yesus, para rasul mengetahui bahwa Yesus sendiri tidak pernah mengajar tentang Maria.

Para Rasul meneruskan kebiasaan Yesus, mengajarkan dengan tepat apa yang Yesus ajarkan sesuai dengan kebiasaan murid-muri dari seorang Rabi Farisi yaitu meneruskan secara lisan dengan tepat apa yang guru mereka telah ajarkan.

Saya ingin beritahu bahwa teologi Katolik Roma mengatakan perempuan di dalam Wahyu 12 berbicara mengenai Maria. Alasan ini tentu sudah bisa ditebak. Teologi Katolik Roma cuma berada di seputar Mariologi. Katolik Roma tidak mempunyai apapun yang mereka bisa ajarkan selain Mariologi. Sistematik teologi Katolik Roma cuma berkisar tentang Maria. Katolik Roma hanya mempunyai ajaran Mariologi. Katolik Roma mengajar bahw Maria dah berada di surga saat ini dan pekerjaan Maria masih sama yaitu mengadakan intersesi bagi semua orang percaya yang ada di dunia. Vatican II dalam Lumen Gentiuj, 62, Documents of Vatican II mengatakan (saya tidak kutip semua):

"......Taken up to heaven she did not lay aside this salvifiv duty but by her constant intercession continue to bring us the gifts of eternal salvation...."

"....Diangkat ke surga dia (Maria) tidak meninggalkan tugas keselamatan tetapi melalui tugas intersesinya yang terus menerus tetap membawa bagi kita karunia keselamatan kekal..."

Teologi Katolik Roma mengatakan bahwa Keselamatan Kekal datang dari Maria. Oleh sebab itu harus difabrikasi bahwa Maria naik ke surga dan menjadi pengantara untuk membawa keselamatan kekal. Ajaran Katolik Roma ini sangat sesat sekali.

Perhatikan ajaran rasul Paulus:

1 Timotius 2:5

Karena Allah itu esa dan esa p**a Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus

Satu-satunya pengantara kita adalah Yesus Kristus, tidak ada yang lain.

Ibrani 8:6

Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi.

Sampai hari ini Yesus menjadi intercessor bagi umat-Nya dari surga.

Itu sebabnya karena Katolik Roma tahu ajarannya sesat maka dengan segera mereka menetapkan Doktrin Maria diangkat ke surga sebagai doktrin yang Inffalible/tidak boleh diganggu gugat pada tahun 1950 oleh Pope Pius XII.

Untuk mendukung Doktrin Maria diangkat ke surga maka Katolik Rima menggunakan penglihatan rasul Yohanes di p**au Patmos dalam Wahyu 12:1-6, bahwa penglihatan itu meneguhkan Maria sudah berada di surga.

Wahyu 12:1

Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.

Pope John Paul II menjelaskan bahwa "Seorang perempuan berselubungkan matahari" yang disebut dalam Wahyu 12:1 berbicara mengenai Keutamaan Maria, Wanita Yang Penuh Kemuliaan.

Inilah bahayanya teologi asbun dan ngawur sebab bukan saja bodoh tetapi sangat menyesatkan.

Sejak awal Yesus dan para rasul tidak pernah mengajar tentang Maria, tapi tiba-tiba teolog Katolik Roma yang bernama Pope John Paul II dalam Redemptoris Mater nomor 103 menafsirkan Wahyu 12:1 menunjuk kepada Maria dan Keutamaan Maria, supaya bisa mensupport doktrin Maria diangkat ke surga.

Teolog Katolik Roma yang bernama Pope John Paul II dalam Redemptoris Mater nomor 47 mengatakan:

"By her ecclesical identification as the woman clothed with sun (Rev 12:1), it can be aaid that in the Most Holy Virgin the Church has already reached that perfection whereby she exists without spot or wringkle."

"Melalui identifisi eklesikal sebagai seorang perempuan berselubungkan matahari (Wahyu 12:1), dapat dikatakan bahwa dalam Kesucian Perawan Gereja telah mencapai kesempurnaan dimana dia/Maria muncul tanpa noda atau kerut"

Wahyu 12:1-6 adalah sebuah nubuat futuris mengenai seorang perempuan yang mengandung dan melahirkan anak laki-laki dan anak laki-laki itu hendak dirampas naga lalu setelah melahirkan perempuan itu melarikan diri ke padang gurun 1260 hari lamanya.

Penglihatan Yohanes tidak pernah berkaitan sedikitpun dengan Maria, ibu Yesus.

1260 hari atau 42 bulan atau 3,5 di padang gurun berbicara mengenai kesulitan besar yang akan dialami oleh bangsa Israel, sebagai moment yang disebut sebagai Masa Kesusahan Besar/The Great Tribulation.

Sejak awal penglihatan Yohanes sudah menunjuk:

Wahyu 12:1

Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.

Matahari, bulan dan 12 bintang semuanya menunjuk pada bangsa Israel.

Mimpi Yusuf dapat menjelaskan penglihatan Yohanes:

Kejadian 37:9

Lalu ia memimpikan p**a mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. Katanya: "Aku bermimpi p**a: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku."

Mimpi Yusuf menjelaskan semua elemen yang ada yaitu Matahari, Bulan dan 12 Bintang.

Wanita yang dimaksud adalah Bangsa Israel bukan Maria.

Perhatikan penjelasan Yohanes dalam Wahyu 12:6

"Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya."

Perempuan itu atau bangsa Israel akan dipelihara oleh Allah selama 1260 hari atau 42 bulan atau 3,5 tahun lamanya dari murka naga atau Satan/Iblis. Peristiwa ini belum terjadi tetapi akan terjadi dalam masa futuris.

Wahyu 11:2

Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya."

Yohanes berbicara hal yang sama dalam Wahyu 11:2 mengenai Kota Suci atau Yerusalem secara khusus Bait Allah yang akan diserahkan kepada bangsa-bangsa lain selama 42 bulan lamanya.

Peristiwa 42 bulan atau 1260 hari atau 3,5 menunjuk kepada waktu yang sama yaitu bangsa Israel akan dikejar, diusir dari Yerusalem tetapi akan dipelihara Allah di suatu tempat.

Peristiwa ini menunjuk kepada Masa Kesusahan Besar atau Masa Antikris nanti.

2 Tesalonika 2:3-4

(3) Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, (4) yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.

Pada Masa Antikris yaitu 1260 hari/42 bulan/3,5 tahun, Antikris akan duduk di Bait Allah dan disembah sebagai Allah. Masa itu adalah Masa Kesusahan Besar bagi Yakub. Saat itulah Bangsa Israel akan dipelihara Allah dan diungsikan ke suatu tempat selama 1260 hari lamanya.

Wahyu 12:1-6 bukan tentang Maria!

Maranatha Blessings,

Pdt.Dr.Wanda Dumais
Kontak WA +61 433 535 015

BAGAIMANA CARANYA KAMU MENERAPKAN PRINSIP PERSEPULUHAN UANG DI GEREJAMU?Oleh: Pdt.Dr.Wanda DumaisPertanyaan, diskusi, do...
09/06/2026

BAGAIMANA CARANYA KAMU MENERAPKAN PRINSIP PERSEPULUHAN UANG DI GEREJAMU?

Oleh: Pdt.Dr.Wanda Dumais
Pertanyaan, diskusi, doa, konseling, pelayanan lanjutan atau ingin berbicara secara langsung dapat menghubungi: WA +61 433 535 015

Persepuluhan bukanlah sistem keuangan yang Tuhan berlakukan untuk gereja Perjanjian Baru tetapi Persepuluhan adalah sistem keadilan Tuhan yang diatur untuk bangsa Israel agar suku Lewi juga turut mendapat bagian dalam Tanah Perjanjian.

Pada waktu bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian, hanya suku Lewi yang tidak mendapat bagian di dalam Tanah Perjanjian.

Bangsa Israel terdiri dari 12 suku:

Kejadian 35:22b-26

(35-22b) Adapun anak-anak lelaki Yakub dua belas orang jumlahnya. (23) Anak-anak Lea ialah Ruben, anak sulung Yakub, kemudian Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar dan Zebulon. (24) Anak-anak Rahel ialah Yusuf dan Benyamin. (25) Dan anak-anak Bilha, budak perempuan Rahel ialah Dan serta Naftali. (26) Dan anak-anak Zilpa, budak perempuan Lea ialah Gad dan Asyer. Itulah anak-anak lelaki Yakub, yang dilahirkan baginya di Padan-Aram.

Anak-anak Yakub:

1. Ruben
2. Simeon
3. Lewi
4. Yehuda
5. Isakhar
6. Zebulon
7. Dan
8. Naftali
9. Gad
10. Asyer
11. Yusuf
12. Benyamin

Kemudian dari Yusuf, suku terbelah lagi menjadi Manasye dan Efraim. Yusuf diwakili oleh dua suku sehingga jumlah total suku Israel 13.

Suku Lewi dipilih Tuhan untuk menjadi milik pusaka-Nya sendiri sehingga suku Israel yang mendapatkan milik pusaka atau tanah di Tanah Perjanjian berjumlah 12 suku.

Tuhan mengatur sistem keadilan di Tanah Perjanjian dengan cara suku Lewi diberikan profit atau increase dari hasil panen di Tanah Perjanjian yaitu 10% increase/profit hasil panen 12 suku.

Dengan cara ini sistem keadilan dari Tuhan tetap dijaga bahwa meskipun suku Lewi tidak mempunyai tanah tapi setiap tahun panen mereka tetap menerima hasil pertanian yaitu 120% dari hasil panen 12 suku Israel seyiap tahun.

Suku Lewi juga diwajibkan membayar 10% dari semua persepuluhannya kepada Imam yang disebut sebagai Terumot Maaser, Persepuluhan dari Persepuluhan.

Kita lihat bagaimana adilnya Tuhan. Semua suku Israel tanpa terkecuali menikmati semua hasil tanah di Tanah Perjanjian.

Semua suku Israel yaitu 13 suku, semuanya membayar Persepuluhan, tidak ada yang terkecuali.

Ajaran Persepuluhan Torah tidak pernah Persepuluhan dalam bentuk uang tetapi Persepuluhan hasil panen dari Tanah Perjanjian sebagai suatu sistem keadilan Tuhan.

Gereja-gereja tertentu berusaha menkontekstualisasikan Ajaran Persepuluhan dengan mengganti hasil panen dengan uang jadi namanya Persepuluhan Uang.

Satu-satunya kelompok yang tidak membayar Persepuluhan adalah kelompok Imam yaitu semua keturunan laki-laki yang berasal dari Imam Besar Harun.

Konsep Persepuluhan Uang sebenarnya sangat jauh berbeda dengan ajaran Alkitab Persepuluhan sebab ada banyak faktor yang hilang:

1. Israel mempunyai sistem pembagian suku
2. Israel mempunyai kelompok Imam
3. Israel hidup di Tanah Perjanjian
4. Israel mempunyai Bait Allah
5. Israel mempunyai Shmita atau Cycle Sabbath Year

Jadi konsep Persepuluhan Uang yang diterapkan di gereja tertentu hanya mengambil prinsip angka 10%, yang dalam prakteknya sangat susah dijalankan sebab prinsip Persepuluhan sangat tidak jelas.

Tujuan Persepuluhan di Israel sangat jelas yaitu diberikan kepada:

1. Kelompok Imam
2. Kelompok Suku Lewi
3. Kelompok Orang Miskin
4. Kelompok Pemilik Panen atau keseluruhan suku Israel

Shmita atau Cycle Sabbath Year menentukan bagaimana Persepuluhan Israel dipungut.

Persepuluhan Israel diberikan setiap tahun dari tahun ke-1 sampai tahun ke-6 lalu pada tahun 7, tahun Sabat, tidak ada pungutan atau pemberian Persepuluhan apapun, sebab tahun ke-7 adalah tahun Sabat artinya tanah tidak ditanami, tanah tidak menghasilkan.

Persepuluhan Israel hanya bisa dijalankan apabila kondisi ini tercapai yaitu:

1. Hasil panen tahunan disisihkan dulu untuk kelompok Imam (minimal 2%) yang disebut Terumah Gadol
2. Sisa hasil panen kemudian dipotong 10%, baru dinamakan Persepuluhan dan wajib diberikan kepada Suku Lewi

Sebelum dua kondisi ini tercapai maka panen apapun disebut dengan TEVEL artinya hasil panen tidak boleh dimakan, tidak boleh dijual, tidak boleh dipakai. Artinya sebelum mencapai dua kondisi utama, hasil panen Israel akan menjadi mubasir dan tidak berguna, hasil panen itu hanya bisa dimusnahkan, menjadi barang yang invalid.

Nabi Maleakhi pernah menegur Israel melalui Firman Tuhan ini

Maleakhi 3:8

Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!

Artinya apabila orang Israel belum melakukan dua kondisi yaitu memberikan Persembahan Khusus/Terumah Gadol dan Persepuluhan/Maaser maka semua hasil panen bangsa Israel menjadi tidak berguna dan invalid. Mereka yang memakan hasil panen, menjual hasil panen atau memakai hasil panen dalam kondisi Tevel artinya menipu Tuhan.

Lalu bagaimana kita menerapkan Prinsip Persepuluhan Uang di dalam gereja?

Bagaimana cara memotong Persepuluhan Uang dari hasil gaji? Dari gaji kotor atau dari gaji bersih?

Siapa yang termasuk golongan Imam dan golongan suku Lewi di dalam gereja? Sebab kondisi utama atau syarat utama Persepuluhan harus dipenuhi dulu.

Lalu Cycle tahun apa yang gereja akan gunakan ketika menerapkan Persepuluhan?

Persepuluhan Israel juga masih ada Persepuluhan Kedua/Maaser Sheni yang dibayar setiap tahun 1,2, 4, 5 - empat kali dalam setahun.

Persepuluhan Israel juga masih ada Maaser Ani, Persepuluhan Orang Miskin yang dibayar setiap tahun ke-3 dan ke-6.

Lalu bagaimana mencapai kondisi kudus dalam Persepuluhan?

Persepuluhan harus dibayar atau dipungut dari hasil pertanian di Tanah Perjanjian. Bagaimana gereja menerapkan prinsip ini?

Kita sulit untuk menghindari Persepuluhan yang dibayar dari hasil pendapatan kotor.

Maranatha Blessings,

Pdt.Dr.Wanda Dumais
Kontak WA +61 433 535 015

Address

Marrickville
Sydney, NSW
2204

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when XCellent posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to XCellent:

Share