11/08/2026
ANATOMI RELASI KUASA DAN MNC
Well, kalau ada yg bilang saya punya "kepentingan" terhadap postingan² saya untuk tema MNC dan HAM, misal : mau kritik pemerintah atau konglomerat, saya bukan orang spti itu.
Nyatanya, membela rakyat dan menyalahkan pemerintah dan aparat tidak selalu membuat kita jadi aman, vice versa.
Di zaman kapitalisme global, dimana seringkali kita dipaksa untuk menerima bahwa relasi dengan setiap orang sifatnya transaksional, sebagian besar orang menjadi sangat kompetitif dan sebagian lagi selalu punya kecemburuan sosial. Dalam 2 situasi sperti itu, bagaimanapun seseorang, tidak akan pernah punya daya tawar. Misalkan sarjana lulusan luar negeri sekalipun, belum tentu itu menjadi bargaining positionnya untuk memenangkan kompetisi.
Dan di zaman yg semakin gila ini, orang bisa melakukan apa saja utk memenangkan kompetisi, atau karena kecemburuan sosial. Jadi, bagaimanapun bagusnya posisi tawar seseorang, misal dia punya keahlian sains, matematika, dll, belum tentu orang lain menghargai, justru dibuat agar ia menurunkan posisi tawarnya.
Setiap orang seperti dituntut utk benar² bekerja keras, dan tetap tidak mendapatkan hasil apa². Setiap orang menyalahkan para pejabat, Presiden, CEO atau Owner Bisnis. Padahal, menurut pengalaman pribadi saya, justru semakin tinggi jabatan seseorang, semakin santun, bijak dan bisa diajak bicara atau diskusi. Kalau mereka susah ditemui karena petugas keamanan anak buah mereka, memang itu tugas petugas keamanan, menjaga boss-nya, Presiden, CEO, dll...😄😂, dan yap, zaman modern kita jadi semakin feodal dlm soal hirarki kekuasaan
Jadi, sejak saya tahu, di zaman serba transaksional dimana kita hampir selalu dipaksa utk kompetitif bahkan sepertinya di keluarga atau bahkan untuk hal² sepele, dipaksa harus menerima bahwa saya ga punya bargaining position apapun or I guess people want me to know that people see me as nothing malah gila,jadi utk hal sepele pun saya harus berjuang mati²an untuk hasil yg belum tentu didapat (karena toh ini dunia kapitalis yg kompetitif), ini justru memberi saya kebebasan.
Jadi saya bebas menulis suatu tema secara objektif dan dengan cara saya sendiri.
Dalam hal pelanggaran HAM dan MNC, maka setiap pihak harus bisa melihat dengan bijak, saya tidak berada di sisi rakyat (yg hampir selalu toxic thd saya) atau pemerintah dan konglomerat (yang saya nggak kenal), saya cuma rakyat biasa yg sudah lama menjadi entitas bebas.
Jadi, kalau ada orang² yg selalu mau mengingatkan saya soal "where is my place", I have known my place since a long time ago, don't worry.
Percuma saja di depan saya, jika ada orang² yg selalu menutup mata dan mengatakan negara ini baik² saja atau pihak yang selalu beranggapan bahwa negara ini/pemerintah dalam kehancuran, bagusnya dibubarkan saja.
Saya orang hukum, dan hukum tidak boleh berat sebelah.
Baiklah, karena hukum itu harus berimbang, saya sertakan juga dampak positif MNC utk negara berkembang :
Dampak Positif MNC:
1. Membuka Lapangan Kerja Baru:
Menyerap tenaga kerja lokal dalam skala besar dan mengurangi pengangguran.
2.Transfer Teknologi dan Ilmu Pengetahuan: Membawa inovasi modern, keahlian teknis, dan sistem manajemen baru ke negara tujuan.
3.Meningkatkan Devisa Negara:
Berkontribusi langsung pada pendapatan negara melalui setoran pajak dan nilai ekspor.
4. Mendorong Pertumbuhan Ekonomi: Menstimulasi bisnis lokal yang menjadi pemasok atau mitra penyedia layanan MNC.
Nah, dampak lain soal MNC dalam kaitannya dengan HAM bisa dibaca di carousel Learn Law with Alde hari ini.
Jangan lupa :
Kalau tulisannya kecil, klik 1-2 kali lalu zoom dengan 2 jari.
Ok, selamat membaca, semoga bermanfaat.