13/02/2019
KARENA SEMUA ANAK AKAN MENGUJI ORANG TUA BUKAN ?
Habis mandi dandan rapi, makan buah naga sendiri belepotan sampe baju tangan kaki.
Habis mandi dandan rapi, nyebur kolam lagi.
Habis mandi dandan rapi, tetiba ilang ternyata lagi berkebun badan belepotan tanah.
Habis ngepel sampe kinclong, maunya makan sendiri dibuat mainan berceceran semua makanan.
Habis beresin mainan bareng, ditinggal kedip mata doang, udah berceceran lagi dimana-mana.
Lagi makan sendiri anteng, makanan dibuang-buang kalau udah kotor ditinggal gitu doang.
Ya begitulah dunia anak-anak.
Kita nggak dituntut anak selalu rapi, imut, kiut, kaya artis-artis endorse itu kok.
Kita nggak dituntut rumah selalu rapi kok.
Kita nggak dituntut semua pekerjaan rumah selalu beres kok.
Kita nggak dilarang ikutan tidur siang sama anak juga kok.
Ah, kalau saya si sekuatnya aja.
Saat saya membaca "Kenapa melarang anak bahagia?"
Benar-benar jadi tamparan tersendiri untuk saya. Sedih rasanya.
Anak tidak boleh main ini, tidak boleh main itu.
Apa hanya karena kita tak mau capek?
Atau hanya karena malas? Malas membersihkannya atau membereskannya.
Tak mau rumah berantakan?
Kalau nggak pengen capek, pengen rumah selalu rapi ya nggak usah punya anak.
Padahal dengan bermain mereka belajar. Mereka bergembira, mereka bahagia.
Lalu kenapa kita sebagai orang tua justru banyak melarangnya?
Kenapa melarangnya bahagia?
Kenapa melarang dunianya?
Tak perlu, kecuali memang membahayakannya.
Biarkan anak-anak menikmati masa bermainnya, karena memang itu dunianya.
Eka Rahma