15/09/2020
Sekali Ibu, Tetap Ibu
Tanpa alarm, tanpa paksaan. Wanita paruh baya itu selalu bangun pukul tiga.
Kabut pun masih malas beranjak, namun rindunya akan munajat malam selalu menanjak. Didoakannya suami dan anak-anaknya satu persatu.
Ia mungkin hanya Ibu rumah tangga biasa, yang jauh dari gengsi dunia apalagi gelenyar mewah sosialita.
Namun doa tulusnya selalu berhasil membuka pintu langit, menyelamatkan keluarganya di saat-saat sulit.
Masih tanpa alarm, dan tanpa paksaan. Wanita di rumah lain terbangun di jam yang sama.
Menyiapkan berbagai keperluan kerja dan bekal untuk suami dan anaknya.
Sebanyak mungkin ia sisipkan cinta, pada baju yang disetrika dan makanan untuk dibawa.
Pundi-pundi rupiah yang ia hasilkan bukan untuk foya-foya dirinya, melainkan untuk penghidupan kerabat yang membutuhkan.
Di balik tembok rumah lain, seorang wanita tidur jauh lebih malam.
Adonan jajan pasarnya sudah rapi, siap digoreng esok pagi hari.
Ia menatap lekat wajah anaknya yang sudah lelap, meminta maaf untuk setiap irisan waktu yang tidak bisa dipergunakan untuk bermain bersama.
Bukan karena ia tidak mau, tapi karena ia tau bahwa tagihan-tagihan selalu menunggu.
(Mantan) suaminya semudah itu berlalu, meninggalkan petak kehidupan yang perlu diisi dengan keringat perjuangan.
Sementara seorang wanita lain terduduk kuyu, lagi-lagi hasil test pack-nya memvonis sendu.
Keguguran berulang membuatnya pilu, belum lagi pertanyaan "kapan" yang membuatnya jemu.
Padahal di luar sana ia sering membantu anak saudara yang tak mampu, laku dan sikapnya sudah pantas membuatnya menjadi Ibu.
Tuhan hanya sedang menggoda batas sabarnya untuk menunggu.
=====
Kau tetap Ibu, sekalipun sehari-hari berdaster dan jauh dari polesan skincare bermutu.
Tanpa alis terukir dengan presisi, kau tetap ayu berseri. Ikhlasmu mundur dari gemerlap dunia, demi membangun pondasi anak dari tangan pertama.
Biarkan Tuhan meracik pahala untukmu, biarkan mereka mencibir betapa konvensionalnya pemikiranmu.
Sungguh surga adalah untu