01/09/2022
Pandangan Politik Kuntowijoya :3 jurus baru politik Umat
Bagi mereka yang tertarik dengan tema pemikiran Islam, nama kuntowijoyo tentunya sudah tidak asing lagi bagi mereka. Beliau terkenal sebagai sejarawan, sastrawan dan budayawan. Buku yang berjudul “identitas politik umat islam” ini hanyalah salah satu dari sekian banyak tulisan-tulisan beliau, yang sebenarnya adalah tulisan-tulisan yang pernah di muat di majalah UMMAT tahun 1996. Meskipun ditulis 16 tahun yang lalu, namun apa yang diwacanakan oleh Kuntowijoyo tentang pemikiran politik di indonesia masih sangat relevan.
Menurut kontowijoyo hampir semua tulisan tentang politik (siyasah) klasik selama ini hanya menyoroti aspek hukum serta akhlak, “sehingga pendekatan itu menyebabkan tidak tersentuhnya kenyataan-kenyataan sejarah, kekinian dan kedisinian.” Karena memang tulisan-tulisan tersebut ditulis pada konteks “kekhilafahan” sedangkan saat ini umat islam berada pada sistem demokrasi, sehingga umat Islam sangat membutuhkan “ijtihad” politik yang betul-betul mampu memberikan semacam pemikiran politik yang dapat di implementasikan pada ruang dan waktunya sendiri, yaitu umat islam di Indonesia.
Tentu tidak mungkin menjelaskan semua pemikiran politik kuntowijoyo dengan tulisan sangat singkat ini, disini saya mencoba fokus pada satu tema yang terdapat di buku ini yaitu tentang “jurus baru”.
Dalam tulisan yang berjudul “jurus baru” di buku ini, kuntowijoyo memandang bahwa umat Islam harus memiliki cara baru dalam berpolitik, baik sebagai rakyat maupun sebagai anggota partai politik. Dengan melihat serta mengkaji perkembangan politik umat dari pemilu 1 tahun 1955 sampai tulisan ini diterbitkan (pada saat itu terjadi trikotomi partai, yaitu PPP, Golkar, dan PDI), kuntowijoyo menawarkan jurus baru, agar umat mendapatkan layanan politik yang layak. Jurus baru itu adalah sebagai berikut :
1. Dari abstrak ke konkret
Umat yang berada di bawah lebih memerlukan yang konkret daripada yang abstrak. Isu-isu abstrak seperti demokratisasi, HAM dll adalah sangat jauh dari keseharian rakyat bawah. “Yang bastrak terlalu mewah bagi mereka ” kata kunto. “mereka akan menyokong rezim apa saja asal dapat memberi mereka yang konkret. Untuk mereka yang di bawah sepasang sepatu, seekor kambing, dan sejumlah kredit kecil lebih terasa daripada isu-isu besar tapi abstrak” tulis kuntowijoyo.
Menurut kunto, di dalam Al-Quran sesuatu yang konkret itu menempati tempat yang mulia, dimana Shalat sering dihubungkan denan zakat, iman dihubungkan dengan amal shaleh. Sebab itu kata kunto, “meskipun dakwah bil lisan tetap penting karena menyangkut pengertian-pengertian, dakwah di masyarakat bawah sudah mengarah ke “dalwah bil hal”. Dakwah-dakwah “pembangunan” lebih menyentuh umat yang berada di bawah ketimbang ceramah-ceramah.”
2. Dari ideologi ke ilmu.
Perbedaan ideologi dan ilmu menurut kunto adalah : ideologi bersifat subjektif, normatif dan tertutup, sehingga bila umat islam masih menggunakan pendekatan ideologi maka umat akan kesulitan dalam menghadapi realitas baru. Sehingga pendekatan ideologi harus bergeser menjadi pendekatan ilmu. Sebab ilmu bersifat objektif, faktual dan terbuka.
Terkait Ilmu, kuntowijoyo memiliki pandangan bawah Islam dapat menjadi bukan hanya sekedar ideologi semata, melainkan sebagai sebuah ilmu yang terbuka (bisa digunakan siapa saja) dan sangat objektif.
3. Dari subjektif ke Objektif.
Pergeseran itu berupa : (1) Menghilangkan egosentrisme umat, (2) pluralisme sosial (3) pluralisme budaya (4) pluralisme agama.
Terkhusus terkait pluralisme agama menurut kuntowijoyo adalah umat Islam tidak perlu menilai benar atau salahnya agama lain, agama-agama lain tidak memerlukan pembenaran teologis secara Islam untuk menjamin eksistensinya masing-masing ditengah masyarakat Islam sebagaimana yang tercantum di dalam surah al-kafirun ayat 6, Bagimu agamamu, bagiku agamaku.
Inilah 3 jurus Baru yang ditawarkan kuntowijoyo di dalam buku ini. Sebenarnya masih banyak lagi hal penting lainnya yang di bahas oleh kuntowijoyo di dalam buku ini, dan semua itu perlu kita pikirkan, atau mungkin bisa menjadi objek kajian agar kita sebagai Umat Islam memiliki Identitas politik yang jelas berdasarkan , khususnya dalam menghadapi kenyataan politik di indonesia yang terus berkembang.