AZ ZAHRA BookStore

AZ ZAHRA BookStore marketer resmi penulis dan buku buku best seller ��

Menikah Dengan MantanPenulis Vika Narendra "Mas nanti di atas, ya," kata Mas Arga sambil menutup pintu kamar mandi.Aku k...
30/08/2021

Menikah Dengan Mantan

Penulis Vika Narendra

"Mas nanti di atas, ya," kata Mas Arga sambil menutup pintu kamar mandi.

Aku kelabakan. Maksudnya apa? Baru juga keluar kamar mandi, udah denger kalimat tidak senonoh seperti ini. Dia lupa perjanjian yang baru saja kita sepakati tadi?

"Apanya yang di atas?" tanyaku dengan gugup.

"Tidurnya."

"Di atas siapa?"

"Di atas kasur. Kamu di lantai. Piktor banget. Katanya gak boleh dulu."

"Ogah! Ini, kan, kamar aku!"

"Mau gimanapun juga kamu, kan, istriku. Harus nurut."

Enak aja!

Aku mendadak gemetar, tubuh rasanya panas dingin ketika Mas Arga hendak membuka handuk yang melilit di tubuh bagian bawahnya.

Spontan aku menutup mata dengan telapak tangan, berjalan miring-miring macam kepiting hingga menjangkau ranjang.

"Jangan buka di sini! Di kamar mandi, kan, bisa?" protesku.

"Emang apa bedanya di sini sama di kamar mandi? Kan, udah suami istri, jangankan lihat, pegang juga boleh. Kamu nafsu?"

"Nafsu kagak, geli iya!"

"Gede, lho ... kakiku." Dia ngakak. Dasar!

"Sana! Sana!" teriakku.

Aku menarik selimut sampai menutupi kepala. Sial! Berawal dari sumpah tidak masuk akal yang tidak sengaja kuucapkan, kini aku harus tinggal bahkan harus menikah dengan mantan. Kalau mantanku sendiri sih gak masalah, lha ini, mantan pacarnya Mbak Aida. Kan, beda urusannya.

***

[Yura, cepetan! Tiga puluh menit lagi kamu gak sampai, kita coret nama kamu dari kartu keluarga!]

Keringatku sudah sebesar biji jagung. Sekarang sudah jam tujuh malam, tapi sama sekali belum ada ojek online yang menerima pesananku. Jam segini juga udah gak ada angkutan umum, taksi pun gak ada satu pun yang lewat. Sial!

Dengan keberanian yang cuma satu setengah persen itu, aku melambaikan tangan pada beberapa kendaraan yang lalu lalang. Berharap dengan cara itu aku akan mendapat tumpangan dan pulang secepatnya.

Aku mondar-mandir sambil melirik jam di tangan. Mungkin sebaiknya aku lari saja agar cepat sampai, tapi kalau pingsan di jalan gimana? Terus diculik orang dan dibuang di hutan? Enggak. Ini ide gila.

"Tolong! Siapa pun yang berhenti dan ngasih saya tumpangan, kalau dia cowok saya jadiin suami. Kalau dia cewek saya ambil suaminya!" Aku meneriaki kendaraan di jalanan.

"Saya bersumpah! Masa gak ada yang mau ngasih tumpangan, sih? Tolongin, d**g!"

Aku makin kalut. Sudah delapan menit waktu yang terbuang sia-sia, sepertinya memang jalan satu-satunya adalah lari sekencang mungkin. Perkara pingsan di jalan itu urusan belakangan.

Tiin!

Spontan aku menutup telinga. Udah mirip banget sama adegan di sinetron yang Ibu tonton semalam dan bodohnya aku malah mengulang kejadian di mana si artis ceweknya itu cuma teriak sambil tutup telinga. Kenapa gak minggir aja? Gak kepikiran!

"Yura? Gak papa, kan?"

Aku menurunkan tangan, menatap lelaki dengan pakaian formal itu dengan dahi berkerut. Kayaknya kenal.

"Mas Arga?"

"Masih inget, Ra? Kirain dah lupa. Mau pulang? Aku anter."

Aku mengangguk, eh tapi gak jadi. Tiba-tiba ingat sama sumpah yang sempat terucap beberapa menit lalu. Tapi, kalau aku gak cepet-cepet pulang, bisa berabe acara pertunangan Mbak Aida nanti.

"Gak usah, Mas. Aku jalan kaki aja," tolakku halus.

"Oh ya udah. Hati-hati."

Aku mengerucutkan bibir. Tega banget nih orang. Pantesan aja diputusin sama Mbak Aida.

"Duluan, ya, Ra."

"E-eh! Ikut, Mas!"

Bodo amat sama sumpah. Toh, Mas Arga juga gak denger, kan? Tinggal mikir urusan dosa aja, bisalah dibicarakan baik-baik dengan Tuhan.

"Kamu dari mana?"

"Ya, kan, tadi di depan toko emas. Berarti dari toko emas, d**g," jawabku sekenanya.

"Jutek amat. Aida banget."

Aku melengos. Dari cerita Mbak Aida, laki-laki ini memang nyebelin. Sudahlah tidak romantis, Mbak Aida minta putus, eh dia malah bilang 'ya udah'. Harusnya, kan, ada usaha atau apa. Bener-bener bukan suami idaman! Untung sekarang Mbak Aida udah nemu pengganti yang jauh lebih baik dan romantis dari Mas Arga.

"Cepetan, Mas. Penting ini. Bisa dicoret dari KK kalau kelamaan di jalan."

"Emang kenapa?"

"Aku yang bawa cincin mereka. Kalau gak sampai rumah dalam waktu tiga puluh menit, bisa bubar acara pertunangan Mbak Aida."

"Tunangan?"

Aku menoleh ke arahnya. Wajah Mas Arga berubah aneh. Biarin ajalah. Salah sendiri dia ngelepasin permata begitu aja.

"Nyesel, ya?" ejekku.

"Enggak. Bukan jodohnya."

"Ya, tapi kan pernah ada kenangan. Masa udah bener-bener hilang perasaan?"

"Biasa aja."

Dih!

Sepertinya Mas Arga memang masih ingat betul jalan ke rumah kami. Itu tandanya dia belum sepenuhnya lupa. Iya, 'kan? Buktinya kami sudah sampai tepat waktu. Tak sempat mengucapkan terima kasih, aku pun segera berlari ke dalam dan menghampiri Mbak Aida yang berada di kamar serta menyerahkan kotak beludru warna merah itu padanya.

"Lain kali lebih teliti bisa gak, sih? Untung ada aku, coba kalau enggak? Malu yang ada! Lagian, nih, ya, di mana-mana itu cincin pertunangan yang bawa cowoknya, bukan malah ceweknya yang ribet!" protesku di belakang Mbak Aida.

"Makasih, Yura. Siapa aja yang bawa cincinnya itu bukan masalah. Yang penting, 'kan, ada."

Aku mencebik. Lantas melesat ke kamarku sendiri dan berganti pakaian biar gak malu-maluin keluarga. Gak mandi gak papa, yang penting wangi. Katanya masih ada lima belas menit lagi sebelum keluarga calon suami Mbak Aida datang, jadi aku masih punya waktu sedikit untuk merebahkan tubuh di ranjang.

"Ra, kamu bawa calon?" Ibu yang tiba-tiba masuk ke kamar itu membuatku mengerutkan dahi.

"Ra, kamu pacaran sama Arga?" Sekarang gantian Mbak Aida yang tanya.

"Apa-apaan, sih, ini?" Aku bangkit berdiri. Menurut saja ketika Ibu menyeret tanganku ke luar dan betapa terkejutnya aku ketika melihat Mas Arga sudah duduk manis bersama tamu undangan. Kenapa dia gak pulang?

"Ngapain tuh orang di sana?" tanyaku pada Mbak Aida. Tapi, bukannya dijawab, malah toyoran di kepala yang kudapat.

"Jadi Nak Arga ke sini mau melamar Yura?" tanya salah satu anggota keluarga.

Dan nyebelinnya ... Mas Arga mengangguk. "Benar, Pak."

Wah. Gak beres ini. Bisa-bisanya dia jawab begitu?

"Ra, serius?" tanya Mbak Aida lagi.

Gawat. Bisa dianggap pelakor aku nanti sama dia. Jangan sampai Mbak Aida berasumsi yang aneh-aneh, aku harus menjelaskan duduk perkaranya. Yang terpenting kita harus duduk dulu, berdiri gini pegel juga.

"Mbak, bukan gitu. Aku bisa jelasin."

"Ai, ayo. Acaranya udah dimulai. Keluarga Imran sudah datang." Ibu menggandeng Mbak Aida ke luar.

Aku menelan ludah. Apalagi ketika melihat Mas Arga berjalan menujuku dan duduk di sampingku.

"Apa-apaan, sih, Mas?" bisikku sambil melotot tajam.

"Kan kamu sendiri yang bilang."

"Bilang apa? Kapan?"

Mas Arga tak menjawab. Sekarang justru asyik dengan HP di tangannya. Aku pun membuang pandangan ke depan.

"Tolong! Siapapun yang berhenti dan ngasih saya tumpangan, kalau dia cowok saya jadiin suami. Kalau dia cewek saya ambil suaminya!"

"Saya bersumpah! Masa gak ada yang mau ngasih tumpangan, sih? Tolongin, d**g!"

Seluruh umat manusia yang seharusnya sedang membicarakan hal serius mengenai pernikahan Mbak Aida itu seketika memandangku. Sial! Rekaman dari mana itu? Bukannya Mas Arga tadi enggak ada di sana?

"Baik. Kalau begitu, kita sekalian nyari tanggal buat pernikahan Yura," ucap Bapak. Lembut tapi tegas dan sialnya lagi, itu mengundang tawa seluruh tamu yang hadir.

"Barengin sama Aida aja, Kang!" usul Om Tirta.

"Iya. Biar sekalian makan duitnya."

Dan satu per satu usulan pun bermunculan.

Aku mengusap wajah, lantas menoleh ke sisi kanan dimana Mas Arga duduk dengan sangat tenang.

"Saya siap. Kapan saja," katanya.

Aku mendelik semakin tajam, tapi dia hanya membalas dengan seringai menyebalkan.

***

"Ngalamun mulu, beneran gak boleh unboxing ini? Rugi, d**g?" Pertanyaan Mas Arga membuatku melempar bantal ke arahnya. Laki-laki itu makin mendekati ranjang, sebelum dia mencapainya, aku pun memintanya berhenti dengan gerakan tangan.

"Jangan ngadi-adi! Udah dibilang gak boleh megang seujung kuku juga! Sana!"

"Biasanya laki-laki malah makin penasaran kalau dilawan." Seringainya membuat bulu kudukku meremang.

Dasar mesum!

--

PO wa.me/6285280110081

Jodoh Sang Superstar (New Version)Penulis: Santy DilianaRayhan adalah seorang superstar!Tidak ada yang mampu menafikkan ...
25/04/2021

Jodoh Sang Superstar (New Version)

Penulis: Santy Diliana

Rayhan adalah seorang superstar!
Tidak ada yang mampu menafikkan pesona lelaki itu.

Sedangkan Raisa hanyalah gadis biasa.
Tidak ada yang menyadari keberadaannya
hingga Raihan menyuntingnya sebagai istri.

Wanita itu tidak mengerti,
dari milyaran wanita di muka bumi,
kenapa Rayhan justru memilihnya?

🍁🍁🍁

Menjadi istri dari aktor yang sedang berada di puncak popularitas, ternyata tidak semudah yang dikira. Raisa harus mengerahkan segala daya dan upayanya untuk beradaptasi.

Sulit.
Namun, cinta yang tumbuh untuk Rayhan membuatnya tangguh.

Raisa tidak mengetahui bahwa Rayhan menyimpan rahasia kelam di belakangnya.
Rahasia yang siap mengoyak hatinya hingga berkeping-keping.

🍁🍁🍁

Prolog : https://www.kwikku.com/novel/read/jodoh-sang-superstar/45868

Part 1 :
https://www.kwikku.com/novel/read/jodoh-sang-superstar/45869

Part 2 :
https://www.kwikku.com/novel/read/jodoh-sang-superstar/45870

Part 3 :
https://www.kwikku.com/novel/read/jodoh-sang-superstar/48913

Part 4 :
https://www.kwikku.com/novel/read/jodoh-sang-superstar/48914

PO
http://wa.me/6285280110081

PROMOOGratis ongkir seluruh Indonesia klik wa.me/6285280110081
13/04/2021

PROMOO

Gratis ongkir seluruh Indonesia klik wa.me/6285280110081

01/03/2021



By Isrina Sumia

Part sebelumnya

Pagi itu ketika semua mata menatapku. Asya hanya diam di pelukan. Tangannya erat mencekram jaketku, ia ketakutan. Dan aku seperti masuk ke dalam dunianya yang gelap. Kosong matanya seakan berusaha menarikku untuk masuk ke dalamnya. Bagaimana bisa aku membayangkan jika adikku telah direnggut kesuciannya.

Bersamanya aku masuk ke dalam rumah, dan dari semua mata hanya Bibi Nati yang kulihat berderai air matanya.

"Bi, tolong bantu siapkan semua kebutuhan Asya," kataku dan kakek seperti mengekor di belakang lalu berkata.

"Andra! Kamu sah di mata hukum, tapi belum sah di mata agama. Kalian tidak bisa tinggal bersama, tunggu sampai Asya melahirkan, baru kalian bisa menikah lagi dan serumah!" seru kakek, dan begitu saja keraguanku padanya muncul.

Entah, apapun yang dikatakan olehnya, mulai saat ini harus kuragukan. Karena hanya dia satu-satunya lelaki di rumah ini. Aku tarik Asya dari pelukan, memegang kedua pundaknya erat lalu mengatakan padanya untuk menungguku di kamar.

"Andra sudah dewasa, Kek. Andra tahu harus apa!" jawabku ketus.

"Justru karena kamu dewasa! Kalian tidak bisa hidup bersama!"

"Andra tak ada sedikit pun berniat menjadikan Asya istri Andra. Selamanya Asya adik Andra. Andra sayang sama dia sebagai kakak bukan suami! Jadi kakek nggak usah cemas, Andra hanya ingin melindungi dia. Itu saja!" kataku dan tiba-tiba saja terlihat Bibi Nati semakin meneteskan air mata di sudut ruang.

"Melindungi dia dari apa? Rumah ini adalah tempat yang aman buat Asya. Di kota kalian akan tinggal di mana? Di kamar kos?" Suara kakek meninggi aku semakin yakin saja jika yang diprediksikan temanku benar.

"Andra akan sewa rumah!"

"Dengan apa? Kuliah kamu saja, kakek yang bayar!"

"Andra punya pekerjaan sampingan, Kek!"

"ANDRA!" Suara Ibu menggelar memotong ucapanku, sementara kakek beringsut dan perlahan duduk di kursi seraya memangku kepalanya. Aku diam, belum pernah aku melawan perkataannya. Lelaki yang selama ini berperan sebagai pengganti Bapak bagiku itu terduduk lemah, napasnya tersengal. Tak ingin merasa bersalah aku masuk ke kamar lalu duduk, menarik napas panjang. Mencoba mengimbangi pikiranku. Sampai tak lama Ibu masuk dan lagi-lagi menegur.

"Kamu itu kenapa mendadak menjadi seperti ini? Nggak sopan dengan kakek! Kamu harus ingat Andra, siapa yang menafkahi keluarga kita!" rutuk Ibuku. Lalu, seperti asap terempas dari lilin yang meredup. Terlepas bayangan ketika Bapak menutup mata. Saat itu, kami kembali dari rumah kontrakan menuju rumah kakek. Tiada harta yang kami bawa, karena Bapak pekerja serabutan. Saat itu sudah ada Asya juga Bibi Nati di rumah, karena Paman Karim sudah meninggal lebih dulu sebelum Bapak.

Masih teringat. Bagaimana Kakek, menerima kami dengan hangat di rumahnya. Dan ketika Paman Abdi datang, sebuah rapat kecil diadakan. Saat itu aku baru saja lulus SMA, sedang Seyna baru duduk di tingkat satu SMP.

[Bagaimana Abdi, kita diberikan lagi amanah untuk merawat anak yatim. Mereka keponakanmu]

[Abdi, sudah habis-habisan membiayai Asya juga Nati, Pak. Kalo ada rezeki Abdi kasih tapi kalo nggak ada gimana? Untuk Sari, Andra, Seyna dan Zahra. Abdi belum ada kepikiran. Bisnis juga lagi susah. Andra sudah besar, dia bisa kerja]

[Sari akan kerja kok Mas, Pak. InsyaAllah masih kuat.]

Aku yang duduk saat itu di samping Ibu, melihat begitu teduh kakek menatapku dengan ketiga adikku.

[Ya sudah begini saja. Urusan keluarga Sari itu tanggung jawab Kakek. Kakek masih ada kebon juga tanah. Sari kalo mau kerja, cari kerja yang ringan-ringan aja. Kasihan Zahra masih kecil.] katanya cukup bijak, sampai kuyakin jika dia adalah penyelamat kami.

Paman Abdi fokus dengan Asya dan Bibi Nati, sedang kakek dengan keluarga kami. Aku paham, Paman Abdi pasti pengeluarannya cukup banyak. Ia harus membiayai Asya sekaligus Bibi Nati yang buta warna juga buta huruf dan sering mendapat omelan dari orang yang mempekerjakannya. Sedang Ibu ada aku juga Seyna yang kuyakin kami lebih stabil dibanding Asya dan Ibunya.

Lalu, dengan keadaan ini apa mungkin kakek pelakunya atau Paman Abdi yang sudah mati-matian menghidupi Asya? Aku diam, sampai tak lama bentakkan Ibu membuyarkan lamunanku.

"Sana minta maaf!" teriak Ibu membuat semua menjadi tak karuan.

Aku keluar lalu melihat kakek sudah tak lagi berada di tempat duduknya. Jika dipikirkan lagi, bagaimana aku bisa menyelidiki jika aku di Jakarta. Kupikirkan ucapan Kakek, mungkin belum saatnya aku kembali ke Jakarta. Ada hal yang harus dicari tahu sebelum aku meninggalkan semua.

Kutepis semua dan beralih ke kamar Asya. Bibi Nati terlihat ragu untuk mengepak barang-barang Asya, sementara gadis bermata sendu itu seakan menghadirkan penuh harap di matanya untuk pergi bersamaku.

"Andra … boleh Bibi bicara?" tanyanya lembut, dan aku mengangguk.

"Asya tunggu di kamar ya. Ibu mau bicara dengan Mas Andra," gadis itu mengangguk lalu menunduk.

Bibi berjalan menuju dapur. Ada bale-bale bambu di sana yang berhadapan persis dengan tungku perapian. Setahun sekali Ibu dan Bibi Nati pasti membuat dodol betawi di tempat ini, mereka akan menggunakan wajan besar dan tertawa bersama saat membuatnya. Aku teringat ketika cipratan dodol panas itu menyentuh kulitku. Bibi Nati adalah orang yang mengobati lukaku, juga Asya.

"Ndra," sapanya membuyarkan semua kenangan yang hampir saja membuatku terjun ke dalamnya.

"Maafkan Bibi. Tapi … sejujurnya Bibi memikirkan nasib Asya nanti."

"Maksud Bibi?"

"Apa kamu sungguh-sungguh takkan menganggap Asya sebagai seorang perempuan? Wanita?" tanyanya dan aku diam mematung melihat matanya yang hampir penuh dengan air yang siap membanjiri wajahnya.

"Andra tak pernah kepikiran ke sana Bi. Bahkan ingin menyentuhnya selayaknya lelaki pun tidak. Andra sayang dengan Asya sama seperti Andra menyayangi Zahra juga Seyna. Tak ada yang beda. Maafkan Andra Bi, Andra paham maksud Bibi. Tapi Andra hanya ingin melindungi Asya. Karena Andra yakin, Asya tak berzina tapi diperkosa!" Air mata itu runtuh juga, ia menunduk mengusap wajahnya kasar dan menarik napas panjang.

"Kalo begitu untuk apa kamu bawa Asya. Sebaiknya tidak usah Ndra. Nanti, Setelah Asya melahirkan kamu ceraikan saja dia," ia terisak, dan kutahu mungkin berat baginya mengetahui jika kelak putrinya akan menjanda, di usianya yang begitu belia. Namun, aku bisa apa. Bahkan sebuah rasa pun tak ada, tidak ada hasrat apalagi keinginan untuk bersama.


"Bukan itu masalahnya Bi. Masalahnya adalah Asya mengalami tekanan mental. Seseorang seperti memaksa dia untuk diam, dan Andra harus tahu siapa orangnya. Asya tak nyaman untuk tinggal di rumah ini. Bi, kita harus cari tahu siapa yang melakukan ini pada Asya. Dan membuatnya menyesali perbuatannya."

"Lalu? Setelah itu, apa semua itu bisa menyembuhkan luka Asya? Tidak Ndra. Yang dia butuhkan hanya masa depan yang lebih baik."

"Itu alasan Andra membawa Asya. Masa depan, selamanya jika orang itu tak dihukum, selamanya Asya akan diam."

"Kamu benar, Asya memang berubah menjadi pendiam sejak dua bulan yang lalu."

"Dua bulan lalu?"

"Ya. Saat itu, dia pulang sekolah begitu sore. Dan dia langsung masuk kamar."

"Apa dia cerita sesuatu?"

"Tidak, maafkan Bibi Ndra. Tapi Bibi justru cemas, jika kenyataan pahit harus ia terima lagi. Saat kamu pergi meninggalkan Asya. Baiknya jika memang kamu tak ingin melanjutkan ini semua, tinggalkan saja Asya dan ceraikan nanti ketika Asya telah melahirkan, " katanya menunduk.

Suara napasku semakin tak karuan, amarahku membara karena beban ini semua berada di pundakku. Keyakinanku tetap, semua harus dipecahkan sebelum terlambat. Orang yang melakukan itu harus mati di penjara atau setidaknya mau bertanggungjawab. Tak terasa tanganku terkepal dan menahan emosi yang begitu perih. Sampai tak lama terdengar suara kakek memanggilku.

Aku bangun dari duduk dan menemuinya yang duduk di ruangan depan. Ia masih terlihat sama, ada raut kecemasan di wajahnya. Ia keluarkan sebuah amplop dan memberikannya padaku. Aku duduk dekat, dan dia terlihat biasa saja, tak gugup atau merasa bersalah seperti yang pernah kusangkakan

"Apa ini Kek?"

"Ajak Bibi Nati juga kalo kamu mau bawa Asya. Sewa tempat yang lebih besar. Biaya hidup di Jakarta tak murah, kakek pinjam uang itu dari Haji Narmin barusan. Tinggallah di sana, tapi ingat pesan kakek. Kalian tidak boleh sekamar," katanya dan begitu saja aku merasa bersalah.

Napasku menjeda sejenak percakapan kami. Kukembalikan uang tersebut lalu memohon maaf atas semua kesalahan yang kulakukan. Tak pantas rasanya menuduh sebelum ada bukti.

"Sepertinya Andra akan menunda dulu untuk ke Jakarta."

Kakek diam, "kenapa?" tanyanya dan aku semakin maju mendekat.

"Ada yang harus Andra selidiki, Kek."

Mata kakek mendelik, "selidiki?"

"Ya," jawabku berharap bisa melihat mimik dan gesture wajahnya.

"Apa yang mau kamu selidiki?"

"Kek. Apa kakek tak merasa, jika Asya bisa saja korban pemerkosaan?" tanyaku dan kakek beringsut, diam.

"Kakek sempat berfikir ke sana. Tapi, masalahnya kejadiannya kapan? Kenapa Asya tak pernah bercerita?"

"Itu yang sedang Andra cari tahu kek."

"Perkuliahanmu bagaimana? Sudahlah, toh juga mereka sudah tahu jika Asya adalah istrimu. Membuka semuanya hanya menyebarkan aib saja."

"Aib? Ini bukan aib! Andra sedang mencari keadilan untuk Asya!"

"Lalu bagaimana kamu mencarinya? Berapa lama kamu harus mengorbankan waktu untuk menyelesaikan masalah ini. Jawaban itu semua hanya ada di Asya. Bawa dia dan ibunya, selesaikan kuliahmu. Tutup kasus ini, anggap anak Asya adalah anakmu. Jika kamu tidak mau, biar kakek yang menafkahinya."

Aku diam, menangkap sesuatu hal yang janggal. Mengapa begitu sulit bagi Kakek untuk membuka suara. Dan mengapa, kakek begitu takut akan sebuah aib. Kecurigaanku semakin bulat.

"Perkuliahan Andra tinggal menunggu sidang proposal setelah itu skripsi dan lulus. Kakek nggak perlu cemas," rutukku seraya pergi meninggalkan lelaki tua itu dan pergi dari rumah.

Motor membawaku kepada angin. Berharap ada petunjuk yang bisa kudapatkan. Meski sedikit kucerna ucapan kakek, jika semua jawaban ada di Asya. Selamanya jika ia tak membuka suara maka masalah ini akan tertutup. Aku berkelana, mengedarkan pandangan, rerumputan liar dan pepohonan jagung terlihat memenuhi sisi kanan dan kiriku. Semilir udara sedikit mengejutkan ruang tengkukku. Sesekali aku menarik napas panjang dan memandang pada langit juga pematang sawah.

Sampai mataku terhenti pada sebuah kumpulan remaja yang sedang asik berkumpul di pelataran rumah tua, di tengah-tengah rerumputan. Motorku melambat, ada beberapa yang kukenal dari mereka. Dan begitu saja napasku menjadi tak karuan saat netra ini berhadapan dengan keberadaan adikku di tengah-tengah pemuda berseragam itu. Seyna duduk tertawa dengan beberapa gadis juga pemuda lainnya, dengan sebatang rokok di tangannya.

Panas. Emosi membakar jiwa. Aku menepi, dan berlari ke arahnya.

"SEYNA!" teriakku. Adikku menoleh ke arahku dan terlihat biasa. Ia jauhkan puntung rokok lalu menginjaknya. Ketika suaraku menggelegar semua diam dan Seyna bangkit menemuiku. Aku tarik lengannya dan menariknya untuk pulang.

"Apaan sih Ka!" rutuknya ketus seraya mengempaskan tanganku.

"Kamu ngapain di sini? Kamu tuh harusnya sekolah!"

"Sekolah pulang cepet, kak!"

"Jangan bohong kamu ya. Ayo pulang!" kataku. Kutarik tangannya dan ia meraung-raung mencoba melepaskan genggaman tanganku.

"Kakak mau apa? Kakak mau ngadu ke kakek?" tanyanya menyeringai.

"Maksud kamu apa sih?"

"Kak, Seyna udah gede. Seyna bisa jaga diri. Lepas!" rutuknya, ia berlari menjauhiku dan mengajak semua temannya pergi dari tempat mereka duduk sebelumnya.

Lalu, begitu saja tengkukku bergidik. Mengapa melihat keadaan Seyna justru membuat batinku lebih hancur dibanding melihat Asya. Gadis itu tak sedikit pun memberi hormat bahkan menghargai ucapanku. Ia pergi dengan santainya bersama kumpulan pemuda itu.

Kupejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan berdoa agar tak terjadi sesuatu apapun yang menimpanya. Aku diam, lalu memutuskan untuk ke sekolah tempat aku, Seyna dan Asya sekolah.

Tina di sekolah, perasaan ini semakin tak karuan, dan semakin menjadi ketika melihat bangunan berwarna hijau ini tertutup rapat dengan tulisan siswa sedang belajar.

Kuparkirkan motor di depan gerbang lalu masuk perlahan. Riuh suara-suara guru mengajar dan siswa membuatku semakin gamang dengan sikap Seyna. Ruang guru terpampang jelas di sana. Aktivitas belajar masih dilakukan. Ketika kumasuk, semua menyambutku karena beberapa dari mereka juga guruku dulu.

"Andra! Alhamdulillah kebetulan kamu datang, Nak. Ibu mau bicara denganmu," wanita paruh baya itu bernama Hanif. Dia guruku yang kini pasti mengenal Asya juga Seyna. Aku diajaknya masuk ke dalam ruangan, dan kami berbicara di sana.

"Kamu pasti mau beritahu alasan Asya dan Seyna tak masuk sekolah kan?"

Aku diam lalu gelagapan.

"Jadi beritahu Ibu, ada alasan apa sampai Asya tak masuk? Ibu sebenarnya sudah mau ke rumah kalian. Kemarin Seyna bilang jika Asya sakit. Tapi ini sudah satu minggu Asya tak datang, dan hari ini Seyna juga tak masuk. Sebenarnya Asya sakit apa Ndra? Ibu mau beritahu dia, jika nilai rapot dia lulus untuk masuk syarat seleksi beasiswa di departemen pendidikan."

Aku beringsut. Lalu menarik napas panjang.

"Beasiswa?"

"Ya."

Kabut kini menutupi pandanganku. Dan semua mimpi Asya telah hancur.

"Terus ada satu hal lagi yang ingin ibu beritahu."

"Katakan Bu."

"Ini tentang Seyna. Belakangan dia juga jarang tak masuk, dengan beberapa teman lainnya. Ibu khawatir, dia justru nongkrong nggak jelas di luar sana. Karena ada yang melapor jika mereka membolos."

Kutarik napas dalam-dalam. Keduanya begitu membuatku sesak.

"Bu, Boleh saya bertanya?"

"Silahkan Ndra."

"Apa Asya di sekolah memiliki musuh? Atau orang yang tidak s**a dengannya?"

"Hmmm, setahu Ibu tak ada. Justru Seyna yang sering membuat ulah."

"Ulah?"

"Ya. Dia sama sekali tak takut dengan siapapun. Saat tidak s**a ia akan bertengkar dengan temannya. Selalu seperti itu."

"Apa Seyna pernah bertengkar dengan Asya?" tanyaku cemas.

"Sepertinya tidak, memangnya ada apa Ndra? Apa terjadi sesuatu dengan Asya?" Mata Bu Hanif mendelik, rasa ingin tahu begitu besar terbaca.

"Tidak ada apa-apa Bu. Maafkan Seyna ya bu. InsyaAllah saya sebagai kakak akan menasehatinya dan mendidiknya lebih baik lagi. Kemudian untuk Asya, sepertinya ia takkan melanjutkan sekolah bu."

"Loh! Kenapa?"

"Asya memutuskan untuk menikah bu. Dia takut saya pergi, makanya meminta agar saya nikahi dan Alhamdulillah kemarin kami sudah sah."

Wanita di depanku diam. Tiada raut wajah kebahagiaan di sana. Karena kuyakin, ia pun berpikir sama. Mengapa seseorang tega menikahkan Asya di usianya yang masih belia.

"Ibu ikut senang. Meski sebenarnya sangat disayangkan kenapa Asya harus memilih untuk menikah muda."

Aku menunduk malu.

"Oh ya, ini surat pemanggilan orang tua untuk Seyna juga Asya. Berhubung kamu sudah datang, jadi surat ini diabaikan saja ya."

"Baik, bu."

Aku bangkit, mendadak begitu saja perasaanku menjadi tak karuan. Mengapa Seyna dan Asya seperti memiliki hubungan khusus. Pelan aku merambat menuju pintu keluar, sampai tak lama Bu Hanif menghentikan langkahku. Ia mendekat lalu berkata.

"Ibu baru ingat, jika tiga bulan lalu Asya pernah melapor jika ada teman-temannya yang merokok di kantin. Dan saat itu, saat guru BK memanggil mereka, ada Seyna di antara mereka. Apa ini ada kaitannya dengan ...."

Mataku kembang kempis mendengarnya. Sesak dan mulai merangkai satu per satu setiap kejadian. Jika benar semua ini terjadi, maka Seyna pun bisa menjadi penyebab kehancuran Asya.

"Tidak bu, terima kasih."

Lemas aku melangkah, sampai kusadari jika penyelidikan justru bermula di sini. Bukan kakek, paman Abdi, tapi Seyna adikku sendiri.

Air mataku terbang, seperti ada beban di dada yang membuatku menjadi tersangka. Aku kembali ke rumah, buru-buru menemui Asya.
Meski sepanjang perjalanan pikiranku terbang memikirkan Seyna. Begitu keras perangainya membuatku begitu berat menanggung kata Imam di pundak. Bagaimana jika aku tak bisa menjaga adik-adikku? Bagaimana jika Seyna penyebab Asya kehilangan masa depannya?

Batinku cemas. Sampai tak sadar aku sudah tiba di rumah. Kakek terlihat duduk di pelataran rumah, jemari dan mulutnya bergerak searah seperti sedang berdzikir. Aku menerabas masuk ke dalam kamar Asya. Dan begitu saja langkahku terhenti. Diam aku mematung pada seorang gadis berkerudung coklat yang tersinari wajahnya dengan cahaya pagi. Ia diam, matanya sendu, terlihat begitu rapi dengan pakaian serba hitam. Tak banyak bicara, ia mendekat ke arahku. Meraih punggung tanganku dan menempelkannya di hidung.

"Asya ... Asya sudah ikhlas dengan keadaan Asya. Mas Andra tak usah mencari tahu, siapa yang salah, karena itu hanya melukai perasan Asya. Asya ikhlas, ikhlas dengan bayi ini, ikhlas dengan Mas Andra. Ikhlas," ucapnya sesenggukan.

"Tapi, jika Mas Andra mau melepas Asya nanti. Asya juga ikhlas. Tak apa Mas. Asya masih ada Ibu, juga punya Allah yang bisa memberikan masa depan yang lebih baik untuk Asya juga anak Asya. Maafkan Asya yang sudah merepotkan Mas Andra ya. Maaf ...."

Kutarik tubuhnya, lalu mendekapnya erat. Ia sesenggukan menangis di pelukanku. Dan aku tenggelam bersamanya. Kukatakan padanya, seraya mengusap kepalanya yang telah terbungkus hijab.

"Mas janji, akan bersama Asya. Asya mau ikut Mas Andra?"

Ia mengangguk-angguk lalu melirih, "Asya sayang Mas Andra." Kulepaskan semua gundah dan ketidaknyamanan. Membiarkan Asya tenggelam bersamaku, setidaknya sampai dirinya telah terbebas dari belenggu, ketika itu aku akan meninggalkannya.

  By Isrina Sumia“Lepas cadar kamu! Ini peraturan baru Universitas,  kami tidak bisa menerima mahasiswa bercadar!”“Maaf ...
27/02/2021




By Isrina Sumia

“Lepas cadar kamu! Ini peraturan baru Universitas, kami tidak bisa menerima mahasiswa bercadar!”

“Maaf Pak, tapi kenapa?”

“Kami ingin berupaya mencegah radikalisme.”

“Cadar tidak radikal, Pak. Bapak tidak bisa menuduh seseorang radikal hanya karena pakaian yang ia kenakan.”

“Ini sudah menjadi keputusan final, maaf Sayyidah kami tidak bisa mempertahankan, jika kamu tetap mengotot. Saat ini hanya kamu satu-satunya mahasiswa yang mengenakan cadar. Saya tidak ingin, yang lain menganggap kami tidak tegas!”

“Tapi … tidak semua kelompok ….”

“Cukup Sayyidah, lepas atau keluar!”

“Maaf Pak, saya tidak bisa!”

“Kalau begitu maaf, kamu tidak bisa melanjutkan studi di kampus ini!”

Seorang lelaki berwajah terang sedikit membuka pintu dan terlihat takjub begitu melihat keteguhan wanita berniqab itu. Sudah setengah jam ia berdiri, menatap lamat-lamat pada perdebatan panjang yang berujung pada kekecewaan.

Ketika kemudian wanita itu memilih keluar dibanding bertahan. Lelaki itu mendadak menjadi geram, tanpa dipersilakannya, ia masuk begitu saja. Membuat semua mata kini menatapnya dengan sorot mata heran. Tanpa ragu-ragu, dia langsung menuju meja dewan dosen dan berdiri di depannya. Lalu turut serta dalam perdebatan, dengan berani pandangannya diarahkan ke dewan dosen, hingga membuat mereka terdiam sesaat.

Pada susunan kursi yang berderet seperti barisan murid. Sayyidah, wanita berniqab itu lebih memilih diam, sesekali tertangkap di matanya air mata jatuh melipir di dua sudutnya.

“Saya rasa, masalah ini bisa kita pertimbangkan kembali, Pak Atmojo,” ucap lelaki itu, ia buka kacamatanya dan wanita itu tersadar jika lelaki itu adalah salah satu dosen baru tempat ia belajar.

“Sayyidah, adalah mahasiswi saya yang tekun. Jangan karena masalah ini, ia dikeluarkan!” lanjutnya tegas.

"Ini peraturan, bahkan kami pun tak bila melawan apalagi anda yang hanya dosen tak tetap!”

“Saya hanya berusaha membela mahasiswi saya,” jawabnya lantang.

Wanita bermata indah itu mend**gak. Hanya sebentar, kegelisahan yang terjadi begitu saja berkurang. Kata-kata lelaki itu meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin. Dia begitu bersemangat, darahnya seakan merasakan panas yang ia rasakan di hati.

Ditolong olehnya, mau tidak mau membuat harapan itu kian nyata. Sayyidah terus menangis, mulutnya begitu berat tak mampu Ia membantu lelaki di sampingnya berargument. Perlahan dengan tenangnya lelaki yang hari itu mengenakan kemeja berwarna biru donker dan celana abu gelap melangkah ke depan. Sedikit terlihat begitu putih kulitnya, ia dekati meja dewan lalu menatap pada salah satu pimpinan.

Kemudian seperti sihir yang merubah arah putusan. Lelaki itu berhasil membuat pimpinan mau mempertimbangkan.

“Baiklah! Akan kami pertimbangkan, dan kami harap Sayyidah. Kamu tidak menyebarkan paham radikalisme di kampus ini!” serunya, seraya mengetuk meja.

“Alhamdulillah … insyaallah Pak, saya hanya ingin belajar.” Tarikan napas itu terlihat dari pundaknya juga saat ia menekan dada.

Ketika akhirnya api padam, wanita itu rasakan ketenangan yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Seperti ada curah hujan yang baru saja membasahi tanah yang gersang.

“Bangunlah,” ucap lelaki yang baru saja membantunya. Diam lelaki itu memandangnya, sampai membuat wanita itu gelagapan dan akhirnya bangkit. Sayyidah bangkit, membuat gaun yang ia kenakan terlihat panjang sampai terjuntai ke lantai. Sungguh apik dia melindungi diri, bahkan dua ujung kaki pun tak terlihat.

Tiada rupa yang bisa ditebak oleh sorot mata tajam itu. Bahkan liuk tubuh sama sekali tak terbentuk, tertutup khimar yang panjang.

Sekejap matanya beradu. Wanita itu mengatupkan dua tangan dan sedikit menunduk seraya berkata, "terima kasih."

"Sama-sama."

“Semoga yang bapak lakukan bisa bermanfaat di kemudian hari. Cadar yang saya pakai bukan untuk menutupi jati diri saya, bukan karena saya kelompok radikal namun ini semata-mata hanya karena kecintaan saya pada sang Khalik, saya hanya berusaha melindungi diri saya dari godaan yang bisa membawa saya ke jahanam!” tuturnya lembut.

“Saya paham, saya salut dengan kamu Sayyidah!”

Mata wanita itu begitu teduh. Celak di Sekeliling mata semakin mempertegas jika dirinya adalah wanita kuat. Kedua tangan dihiasi hena berwarna gelap, kulitnya putih terlihat meski hanya seujung jari. Tanpa basa basi, wanita itu beringsut pamit dan meninggalkannya. Tanpa bersitatap, tanpa terpesona seperti adegan kisah cinta lainnya, saat lelaki membantu seorang perempuan lemah.

Sejenak lelaki itu membayangkan wajahnya, mungkin secantik Aisyah di film Ayat-ayat cinta yang dulu pernah ia lihat atau mungkin lebih cantik dari itu. Ia ikuti wanita itu dari belakang, begitu anggun dirinya mengenakan pakaian yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Gaunnya jatuh ke lantai, mengikis debu di setiap permukaan. Saat berjalan dan menurun tangga ia angkat sedikit roknya tanpa membuat bagian dalam kakinya terlihat karena ada celana panjang juga kaos kaki yang ia kenakan setelahnya. Nyaris sempurna jika ia sedang menutupi jati diri. Atau gemerlap dunia memang tak memikat hatinya.

Sayyidah Rahma adalah salah satu mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis di Universitas terkemuka di Jawa Timur.

Wanita itu dicurigai telah dibiayai oleh sekelompok teroris untuk mengambil studi ahli bedah. Sebelumnya ia adalah seorang Dokter yang bekerja di puskesmas daerah Desa Wonocolo, Kedewan, dan Kawengan, di Kecamatan Kedewan. Lokasinya di perbatasan Blora (Jateng). Satu minggu sudah lelaki yang baru saja menolongnya itu memata-matai.

Seorang brigadir yang bekerja untuk Densus 88, lelaki itu ditugaskan untuk menyelidiki sekelompok orang yang akan bergabung dengan kelompok radikal di Suriah, dan Sayyidah adalah salah satu orang yang dicurigai terlibat.

Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 adalah satuan khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk penanggulangan terorisme di Indonesia. Pas**an khusus ini dilatih khusus untuk menangani segala ancaman teror, termasuk teror bom. Beberapa anggota juga merupakan anggota tim Gegana.

Sudah hampir satu bulan lelaki itu menyamar sebagai dosen di Universitas ini, etika profesi adalah mata kuliah yang ia ajarkan. Pilihan mata kuliah termudah, yang dipilihkan Bram, pimpinannya. Dia dipilih karena hanya dia salah satu brigadier yang banyak mengetahui tentang ilmu kedokteran, ia juga adalah salah satu anak buah Bram yang cerdas. Beberapa penyamaran yang dilakukannya pun selalu berhasil.

Lelaki yang sudah mengabdikan diri untuk negara selama 10 tahun itu terkenal cukup berani, ia tak takut untuk menghadapi serangan apapun. Baginya teroris adalah musuh terberat yang harus dimusnahkan di Indonesia.

Sayyidah Rahma, adalah target yang akan membawanya menuju gembong Teroris yang akan membawa beberapa warga lainnya menuju Suriah. Eru Brijaya, nama yang ia gunakan dalam penyelidikan kali ini.

Data Sayyidah lengkap sudah ditangan, mulai dari usia, tempat tinggal, kebiasaan dan banyak hal. Sayyidah adalah putri dari Abdul bin Khalik, lelaki yang dicurigai menjadi pemimpin laskar islam garis keras yang dibiayai kelompok radikal asal Timur tengah, lelaki itu masih dalam penyelidikan. Abdul belum terbukti secara sah terlibat dalam kelompok tersebut.

***

“Assalamualaikum!” ucap Eru pada semua mahasiswanya. Sayyidah duduk paling ujung dekat dengan jendela kelas, cahaya matahari masuk menyinari wajah, membuat mata wanita berbalut cadar itu terlihat berkilat seperti ada sayatan pisau.

“Waalaikumsalam!” jawab semua mahasiswa, wanita itu kini bersitatap langsung dengan Eru.

Lelaki berusia 32 tahun itu berharap Sayyidah tertarik dengan dirinya, hingga mau membuka diri. Plan B adalah rencana kedua yang dilakukan Eru untuk mengenal pribadi Sayyidah lebih jauh setelah gagal mengetahui identitas dirinya lewat wajah.

Sejak awal Bram meminta agar Eru meyakinkan institusinya bahwa wanita yang kuliah bersamanya adalah Sayyidah, putri dari Abdul Khalik yang selama ini mereka cari. Namun, sayang wanita itu hampir tidak pernah sedetik pun melepas cadar. Pernah sekali, agen wanita sengaja dikirim untuk membantunya. Agen itu bahkan berulang kali mengikuti Sayyidah sampai ke toilet wanita, sayangnya cadar itu memang tak ia buka meski dengan sesama jenis.

Eru perlu mencocokkan wajahnya dengan foto wanita yang Bram kirim. Untuk itu Plan baru dilakukan, berharap wanita yang kini tertunduk di mejanya itu mau membuka diri.

Sampai tak lama wanita bermata indah itu mend**gak dan memandang serius akan mata kuliah yang Eru sampaikan, bagi lelaki bermata sedikit sipit itu adalah hal mudah untuk mendekati wanita. Hanya sepersekian detik lewat tatapan, wanita sudah takluk dalam genggaman.

Sayangnya wanita itu berbeda, sejak awal memang dia unik. Tak terpengaruh dengan kharisma seorang dosen muda yang gagah juga tampan, di saat semua mahasiswi lainnya mempertanyakan identitas Eru, ia justru sibuk dengan segudang aktivitas lainnya.

Eru Brijaya adalah nama samaran yang ia gunakan kali ini, sudah satu bulan lebih ia mengikuti Sayyidah, namun tak satupun tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ia adalah putri dari Abdul. Keseharian wanita ini adalah melakukan perkuliahan di rumah sakit swasta, setelahnya ia kembali pulang. Perkuliahan yang ia dapatkan sungguh padat. Mulai pukul delapan lagi sampai ketemu depalan malam, bahkan jika ada tambahan bisa saja ia menginap.

Sulit sebenarnya untuk menyelidikinya. Namun, tidak ada cara lain selain terus mengikutinya.

Kadang sesekali ia membantu warga yang membutuhkan pertolongan di sekitar rumah tempat tinggalnya dan tanpa menuntut bayaran.

Aktivitas lainnya ia memiliki kegiatan di majelis taklim. Kegiatan ini dilakukannya setiap dua pekan sekali kadang sepekan sekali. Tergantung dari jadwalnya. Kegiatan yang dilakukan malam hari, tak sedikit pun mengendurkan rasa lelah di kelopak matanya. Majelis taklim yang ia ikuti, terbuka untuk umum, tak seperti yang lelaki itu bayangkan sebelumnya.

Wanita itu sangat tertutup, tak memiliki kerabat bahkan sahabat. Dan tak ada tanda-tanda orang lain tinggal di rumahnya yang jaraknya tak jauh dari rumah sakit tempat ia belajar. Kesehariannya hanya berjalan kaki, dan menggunakan kendaraan umum. Belum bekeluarga dan keberadaan orang tuanya masih dalam pencarian pihak densus 88.

“Ok selesai!” ucap Eru, mengakhiri mata kuliahnya. Semua mahasiswa bangkit meninggalkan ruangan, begitupun dengannya, wanita bergaun hitam yang sejak tadi enggan menatapnya.

“Tunggu! Sayyidah!” ucap Eru seraya tersenyum.

“Boleh kita bicara?” lanjutnya lagi.

Dalam diam wanita itu mengangguk. Ia dekati Eru kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan dirinya.

“Saya sedang mencari seorang dokter yang ingin beramal di Desa Poncokusumo, banyak petani apel disana yang terserang penyakit kulit. Saya pikir setelah mengenalmu tadi, kamu mau ikut.”

“Maaf Pak … saya tidak bisa, jadwal saya sudah penuh. Sebagai seorang dokter resident saya rasa, Bapak paham betul itu,” jawab Sayyidah menunduk. Di luar dugaan, dipikirnya wanita itu akan menerima setelah mendapat bantuan darinya.

“Iya saya paham. Tapi kegiatan ini tidak menuntut kehadiranmu setiap pekan atau bulannya. Kamu bisa datang ses**amu. Di sana belum ada dokter jaga, yang ada hanya bidan yang terkadang memerlukan pendapat dokter akan penyakit pasien mereka. Dengan contact jauh kamu bisa membantunya.”

"Tetap saja tidak bisa Pak. Saya rasa Bapak lebih paham, jika etika seorang dokter mengobati pasien harus melihat secara jelas dan merasa pasien tersebut. Mohon maaf Pak," lirihnya lagi seraya mengatupkan dua tangan kemudian bangkit.

Eru mendesis, pertama kali ia gagal menarik perhatian seorang perempuan. Wanita muslimah seperti dia memang sulit untuk ditaklukan. Ia usap wajahnya dengan kasar, menarik napas panjang dan mulai jenuh dengan penyelidikan ini.

Hari itu, seperti biasa ia ikuti pergerakannya. Mulai dari rumah sakit, sampai pukul delapan malam tepatnya wanita itu kembali menuju kediamannya.

Rumah kontrakan yang ditempatinya bersebrangan persis dengan kamar kos yang disewa brigadier bertubuh tinggi tegap ini. Jendela yang berhadapan persis membuatnya mudah untuk mengikutinya.

Dalam lelah ia duduk di kursi tua menghadap persis ke arah rumah Sayyidah. Cahaya lampu dari dalam belum meredup, sesekali pantulan bayangannya terlihat dari luar. Mulai ia melangkah, duduk di kursi terlihat jelas dalam bayangan hitam.

Sampai ketika hari sudah semakin larut, dan lampu rumah wanita itu satu persatu padam. Terpejamlah mata, hingga kemudian ia dibangunkan oleh beberapa orang yang datang membuka paksa pagar rumah Sayyidah.

Derit pagar tua itu berbunyi nyaring, hingga membuatnya sadar dan bangkit dari kursi. Dua lelaki dan satu perempuan, terlihat cemas menggedor-gedor kediaman Sayyidah.

Bergegas Eru ambil jaket juga topi dan keluar dari kamarnya. Ia diam, di balik di dinding hingga tak lama wanita bercadar itu membuka pintu.

"Ada apa?"

“Dokter, ada yang butuh bantuan!” teriak seorang warga seraya mengatupkan dua tangan karena cemas. Wanita berniqab itu berlari ke dalam, dan tak lama keluar lagi dengan tas jinjing ditanganya.

Eru keluar dari persembunyiannya dan mengikuti mereka. Sayyidah berjalan menyusuri lorong-lorong kecil, langkahnya begitu cepat, dan gelapnya malam tak sedikit pun mengendurkan semangatnya.

Tak lama mereka masuk ke dalam sebuah rumah, rumah pinggir kali yang terlihat reyot tak layak tinggal, hanya beratapkan asbes tua dan beralaskan semen. Seorang wanita terbujur kaku dan lemah hendak melahirkan. Sayyidah menggulung lengan pakaiannya, dan mengenakan sarung tangan. Ia memasukkan jarinya ke dalam untuk mengetahui pembukaan.

“Ambil gunting saya di tas, api dan alkohol cepat!” teriaknya. Eru terperangah, tak satupun yang membantunya. Hanya seorang Bapak, yang bingung karena tak ada biaya.

“Ayo bu … di buat santai saja, tarik napas!” ucapnya seraya memasukkan beberapa jari ke bagian bawah sang Ibu yang tertutup selimut. Keadaan itu dibiarkan terbuka, beberapa orang bahkan bisa melihat dari jendela juga pintu yang sudah sulit tertutup, karena ramainya warga.

Suara rintihan terdengar, wanita yang Sayyidah tangani hendak melahirkan. Semua warga berkerumun. Beberapa wanita paruh baya datang membantu.

“Dokter apa yang bisa kami bantu!”

“Siapkan selimut dan air hangat bu, juga teh manis!” teriak Sayyidah.

“Eeeeee!” teriak sang calon Ibu.

"Jangan mengejan dulu Bu, tahan baru pembukaan 9. Sebentar sedikit lagi," ucapnya seraya menyiapkan segala macam peralatan. Wanita itu terlihat tenang, ia singkat hijabnya ke belakang dan beberapa keluarga ia minta untuk keluar ruangan. Ia tutup pintu, hingga tak terlihat lagi apa yang dilakukan di dalam. Hanya suara-suara yang terdengar nyaring.

Sampai pembukaan itu sempurna. Suara Sayyidah lantang terdengar.

“Ayo bu, bismillah, sudah pembukaan sepuluh. Ibu bisa!"

Terdengar teriakan sang Ibu sembari melepaskan dzikir. Lelaki yang mengawasinya di luar pun menurut dalam kepanikan. Tidak ia rasakan bagaimana wanita itu tergabung dalam kelompok radikal. Bahkan dalam kegelapan ia masih berjuang membantu warga yang kesulitan. Pikirannya kini tak lagi terfokus pada siapa Sayyidah, tapi pada sikapnya yang sudah kesekian kali membantu warga tanpa mengharap imbalan. Dan kejadian ini adalah kesekian kali sejak ia mengikutinya.

Tak lama suara tangisan bayi terdengar, “Alhamdulillah …, ” sorak sorai suara warga terdengar lega.

Lelaki itu duduk di sudut tembok, seraya mengusap peluh karena penuhnya warga. Sampai pintu itu terbuka dilihatnya Sayyidah sedang menggend**g bayi yang sudah rapi dengan selimut di luarnya.

Sejenak terlihat gaunnya sedikit basah dam kotor. Ia bersihkan diri, kemudian setelah semua terkendali ia pamit. Mengatupkan dua tangan seraya memberikan resep untuk keluarga.

"Jika ada apa-apa, jangan sungkan hubungi saja," jawabnya lembut. Sampai sekejap semua netra menatapnya dan berucap terima kasih. Ia hanya menunduk malu dan pamit menerobos kepungan warga.

Dalam diam Eru terenyuh, sepasang netra menatap Sayyidah sungguh-sungguh. Sayyidah tak seharusnya ia ikuti. Ia adalah wanita baik, hatinya begitu tulus. Gelar Dokter sangat pantas melekat di dirinya.

Diikuti terus wanita itu dari belakang. Tak lagi untuk memata-matai. Namun, lebih untuk memastikan jika dia kembali dalam keadaan aman.

# # #

Ikut PO, klik wa.me/6285280110081

Address

Bukittinggi
26191

Telephone

+6285280110081

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when AZ ZAHRA BookStore posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to AZ ZAHRA BookStore:

Share

Category