01/03/2021
By Isrina Sumia
Part sebelumnya
Pagi itu ketika semua mata menatapku. Asya hanya diam di pelukan. Tangannya erat mencekram jaketku, ia ketakutan. Dan aku seperti masuk ke dalam dunianya yang gelap. Kosong matanya seakan berusaha menarikku untuk masuk ke dalamnya. Bagaimana bisa aku membayangkan jika adikku telah direnggut kesuciannya.
Bersamanya aku masuk ke dalam rumah, dan dari semua mata hanya Bibi Nati yang kulihat berderai air matanya.
"Bi, tolong bantu siapkan semua kebutuhan Asya," kataku dan kakek seperti mengekor di belakang lalu berkata.
"Andra! Kamu sah di mata hukum, tapi belum sah di mata agama. Kalian tidak bisa tinggal bersama, tunggu sampai Asya melahirkan, baru kalian bisa menikah lagi dan serumah!" seru kakek, dan begitu saja keraguanku padanya muncul.
Entah, apapun yang dikatakan olehnya, mulai saat ini harus kuragukan. Karena hanya dia satu-satunya lelaki di rumah ini. Aku tarik Asya dari pelukan, memegang kedua pundaknya erat lalu mengatakan padanya untuk menungguku di kamar.
"Andra sudah dewasa, Kek. Andra tahu harus apa!" jawabku ketus.
"Justru karena kamu dewasa! Kalian tidak bisa hidup bersama!"
"Andra tak ada sedikit pun berniat menjadikan Asya istri Andra. Selamanya Asya adik Andra. Andra sayang sama dia sebagai kakak bukan suami! Jadi kakek nggak usah cemas, Andra hanya ingin melindungi dia. Itu saja!" kataku dan tiba-tiba saja terlihat Bibi Nati semakin meneteskan air mata di sudut ruang.
"Melindungi dia dari apa? Rumah ini adalah tempat yang aman buat Asya. Di kota kalian akan tinggal di mana? Di kamar kos?" Suara kakek meninggi aku semakin yakin saja jika yang diprediksikan temanku benar.
"Andra akan sewa rumah!"
"Dengan apa? Kuliah kamu saja, kakek yang bayar!"
"Andra punya pekerjaan sampingan, Kek!"
"ANDRA!" Suara Ibu menggelar memotong ucapanku, sementara kakek beringsut dan perlahan duduk di kursi seraya memangku kepalanya. Aku diam, belum pernah aku melawan perkataannya. Lelaki yang selama ini berperan sebagai pengganti Bapak bagiku itu terduduk lemah, napasnya tersengal. Tak ingin merasa bersalah aku masuk ke kamar lalu duduk, menarik napas panjang. Mencoba mengimbangi pikiranku. Sampai tak lama Ibu masuk dan lagi-lagi menegur.
"Kamu itu kenapa mendadak menjadi seperti ini? Nggak sopan dengan kakek! Kamu harus ingat Andra, siapa yang menafkahi keluarga kita!" rutuk Ibuku. Lalu, seperti asap terempas dari lilin yang meredup. Terlepas bayangan ketika Bapak menutup mata. Saat itu, kami kembali dari rumah kontrakan menuju rumah kakek. Tiada harta yang kami bawa, karena Bapak pekerja serabutan. Saat itu sudah ada Asya juga Bibi Nati di rumah, karena Paman Karim sudah meninggal lebih dulu sebelum Bapak.
Masih teringat. Bagaimana Kakek, menerima kami dengan hangat di rumahnya. Dan ketika Paman Abdi datang, sebuah rapat kecil diadakan. Saat itu aku baru saja lulus SMA, sedang Seyna baru duduk di tingkat satu SMP.
[Bagaimana Abdi, kita diberikan lagi amanah untuk merawat anak yatim. Mereka keponakanmu]
[Abdi, sudah habis-habisan membiayai Asya juga Nati, Pak. Kalo ada rezeki Abdi kasih tapi kalo nggak ada gimana? Untuk Sari, Andra, Seyna dan Zahra. Abdi belum ada kepikiran. Bisnis juga lagi susah. Andra sudah besar, dia bisa kerja]
[Sari akan kerja kok Mas, Pak. InsyaAllah masih kuat.]
Aku yang duduk saat itu di samping Ibu, melihat begitu teduh kakek menatapku dengan ketiga adikku.
[Ya sudah begini saja. Urusan keluarga Sari itu tanggung jawab Kakek. Kakek masih ada kebon juga tanah. Sari kalo mau kerja, cari kerja yang ringan-ringan aja. Kasihan Zahra masih kecil.] katanya cukup bijak, sampai kuyakin jika dia adalah penyelamat kami.
Paman Abdi fokus dengan Asya dan Bibi Nati, sedang kakek dengan keluarga kami. Aku paham, Paman Abdi pasti pengeluarannya cukup banyak. Ia harus membiayai Asya sekaligus Bibi Nati yang buta warna juga buta huruf dan sering mendapat omelan dari orang yang mempekerjakannya. Sedang Ibu ada aku juga Seyna yang kuyakin kami lebih stabil dibanding Asya dan Ibunya.
Lalu, dengan keadaan ini apa mungkin kakek pelakunya atau Paman Abdi yang sudah mati-matian menghidupi Asya? Aku diam, sampai tak lama bentakkan Ibu membuyarkan lamunanku.
"Sana minta maaf!" teriak Ibu membuat semua menjadi tak karuan.
Aku keluar lalu melihat kakek sudah tak lagi berada di tempat duduknya. Jika dipikirkan lagi, bagaimana aku bisa menyelidiki jika aku di Jakarta. Kupikirkan ucapan Kakek, mungkin belum saatnya aku kembali ke Jakarta. Ada hal yang harus dicari tahu sebelum aku meninggalkan semua.
Kutepis semua dan beralih ke kamar Asya. Bibi Nati terlihat ragu untuk mengepak barang-barang Asya, sementara gadis bermata sendu itu seakan menghadirkan penuh harap di matanya untuk pergi bersamaku.
"Andra … boleh Bibi bicara?" tanyanya lembut, dan aku mengangguk.
"Asya tunggu di kamar ya. Ibu mau bicara dengan Mas Andra," gadis itu mengangguk lalu menunduk.
Bibi berjalan menuju dapur. Ada bale-bale bambu di sana yang berhadapan persis dengan tungku perapian. Setahun sekali Ibu dan Bibi Nati pasti membuat dodol betawi di tempat ini, mereka akan menggunakan wajan besar dan tertawa bersama saat membuatnya. Aku teringat ketika cipratan dodol panas itu menyentuh kulitku. Bibi Nati adalah orang yang mengobati lukaku, juga Asya.
"Ndra," sapanya membuyarkan semua kenangan yang hampir saja membuatku terjun ke dalamnya.
"Maafkan Bibi. Tapi … sejujurnya Bibi memikirkan nasib Asya nanti."
"Maksud Bibi?"
"Apa kamu sungguh-sungguh takkan menganggap Asya sebagai seorang perempuan? Wanita?" tanyanya dan aku diam mematung melihat matanya yang hampir penuh dengan air yang siap membanjiri wajahnya.
"Andra tak pernah kepikiran ke sana Bi. Bahkan ingin menyentuhnya selayaknya lelaki pun tidak. Andra sayang dengan Asya sama seperti Andra menyayangi Zahra juga Seyna. Tak ada yang beda. Maafkan Andra Bi, Andra paham maksud Bibi. Tapi Andra hanya ingin melindungi Asya. Karena Andra yakin, Asya tak berzina tapi diperkosa!" Air mata itu runtuh juga, ia menunduk mengusap wajahnya kasar dan menarik napas panjang.
"Kalo begitu untuk apa kamu bawa Asya. Sebaiknya tidak usah Ndra. Nanti, Setelah Asya melahirkan kamu ceraikan saja dia," ia terisak, dan kutahu mungkin berat baginya mengetahui jika kelak putrinya akan menjanda, di usianya yang begitu belia. Namun, aku bisa apa. Bahkan sebuah rasa pun tak ada, tidak ada hasrat apalagi keinginan untuk bersama.
"Bukan itu masalahnya Bi. Masalahnya adalah Asya mengalami tekanan mental. Seseorang seperti memaksa dia untuk diam, dan Andra harus tahu siapa orangnya. Asya tak nyaman untuk tinggal di rumah ini. Bi, kita harus cari tahu siapa yang melakukan ini pada Asya. Dan membuatnya menyesali perbuatannya."
"Lalu? Setelah itu, apa semua itu bisa menyembuhkan luka Asya? Tidak Ndra. Yang dia butuhkan hanya masa depan yang lebih baik."
"Itu alasan Andra membawa Asya. Masa depan, selamanya jika orang itu tak dihukum, selamanya Asya akan diam."
"Kamu benar, Asya memang berubah menjadi pendiam sejak dua bulan yang lalu."
"Dua bulan lalu?"
"Ya. Saat itu, dia pulang sekolah begitu sore. Dan dia langsung masuk kamar."
"Apa dia cerita sesuatu?"
"Tidak, maafkan Bibi Ndra. Tapi Bibi justru cemas, jika kenyataan pahit harus ia terima lagi. Saat kamu pergi meninggalkan Asya. Baiknya jika memang kamu tak ingin melanjutkan ini semua, tinggalkan saja Asya dan ceraikan nanti ketika Asya telah melahirkan, " katanya menunduk.
Suara napasku semakin tak karuan, amarahku membara karena beban ini semua berada di pundakku. Keyakinanku tetap, semua harus dipecahkan sebelum terlambat. Orang yang melakukan itu harus mati di penjara atau setidaknya mau bertanggungjawab. Tak terasa tanganku terkepal dan menahan emosi yang begitu perih. Sampai tak lama terdengar suara kakek memanggilku.
Aku bangun dari duduk dan menemuinya yang duduk di ruangan depan. Ia masih terlihat sama, ada raut kecemasan di wajahnya. Ia keluarkan sebuah amplop dan memberikannya padaku. Aku duduk dekat, dan dia terlihat biasa saja, tak gugup atau merasa bersalah seperti yang pernah kusangkakan
"Apa ini Kek?"
"Ajak Bibi Nati juga kalo kamu mau bawa Asya. Sewa tempat yang lebih besar. Biaya hidup di Jakarta tak murah, kakek pinjam uang itu dari Haji Narmin barusan. Tinggallah di sana, tapi ingat pesan kakek. Kalian tidak boleh sekamar," katanya dan begitu saja aku merasa bersalah.
Napasku menjeda sejenak percakapan kami. Kukembalikan uang tersebut lalu memohon maaf atas semua kesalahan yang kulakukan. Tak pantas rasanya menuduh sebelum ada bukti.
"Sepertinya Andra akan menunda dulu untuk ke Jakarta."
Kakek diam, "kenapa?" tanyanya dan aku semakin maju mendekat.
"Ada yang harus Andra selidiki, Kek."
Mata kakek mendelik, "selidiki?"
"Ya," jawabku berharap bisa melihat mimik dan gesture wajahnya.
"Apa yang mau kamu selidiki?"
"Kek. Apa kakek tak merasa, jika Asya bisa saja korban pemerkosaan?" tanyaku dan kakek beringsut, diam.
"Kakek sempat berfikir ke sana. Tapi, masalahnya kejadiannya kapan? Kenapa Asya tak pernah bercerita?"
"Itu yang sedang Andra cari tahu kek."
"Perkuliahanmu bagaimana? Sudahlah, toh juga mereka sudah tahu jika Asya adalah istrimu. Membuka semuanya hanya menyebarkan aib saja."
"Aib? Ini bukan aib! Andra sedang mencari keadilan untuk Asya!"
"Lalu bagaimana kamu mencarinya? Berapa lama kamu harus mengorbankan waktu untuk menyelesaikan masalah ini. Jawaban itu semua hanya ada di Asya. Bawa dia dan ibunya, selesaikan kuliahmu. Tutup kasus ini, anggap anak Asya adalah anakmu. Jika kamu tidak mau, biar kakek yang menafkahinya."
Aku diam, menangkap sesuatu hal yang janggal. Mengapa begitu sulit bagi Kakek untuk membuka suara. Dan mengapa, kakek begitu takut akan sebuah aib. Kecurigaanku semakin bulat.
"Perkuliahan Andra tinggal menunggu sidang proposal setelah itu skripsi dan lulus. Kakek nggak perlu cemas," rutukku seraya pergi meninggalkan lelaki tua itu dan pergi dari rumah.
Motor membawaku kepada angin. Berharap ada petunjuk yang bisa kudapatkan. Meski sedikit kucerna ucapan kakek, jika semua jawaban ada di Asya. Selamanya jika ia tak membuka suara maka masalah ini akan tertutup. Aku berkelana, mengedarkan pandangan, rerumputan liar dan pepohonan jagung terlihat memenuhi sisi kanan dan kiriku. Semilir udara sedikit mengejutkan ruang tengkukku. Sesekali aku menarik napas panjang dan memandang pada langit juga pematang sawah.
Sampai mataku terhenti pada sebuah kumpulan remaja yang sedang asik berkumpul di pelataran rumah tua, di tengah-tengah rerumputan. Motorku melambat, ada beberapa yang kukenal dari mereka. Dan begitu saja napasku menjadi tak karuan saat netra ini berhadapan dengan keberadaan adikku di tengah-tengah pemuda berseragam itu. Seyna duduk tertawa dengan beberapa gadis juga pemuda lainnya, dengan sebatang rokok di tangannya.
Panas. Emosi membakar jiwa. Aku menepi, dan berlari ke arahnya.
"SEYNA!" teriakku. Adikku menoleh ke arahku dan terlihat biasa. Ia jauhkan puntung rokok lalu menginjaknya. Ketika suaraku menggelegar semua diam dan Seyna bangkit menemuiku. Aku tarik lengannya dan menariknya untuk pulang.
"Apaan sih Ka!" rutuknya ketus seraya mengempaskan tanganku.
"Kamu ngapain di sini? Kamu tuh harusnya sekolah!"
"Sekolah pulang cepet, kak!"
"Jangan bohong kamu ya. Ayo pulang!" kataku. Kutarik tangannya dan ia meraung-raung mencoba melepaskan genggaman tanganku.
"Kakak mau apa? Kakak mau ngadu ke kakek?" tanyanya menyeringai.
"Maksud kamu apa sih?"
"Kak, Seyna udah gede. Seyna bisa jaga diri. Lepas!" rutuknya, ia berlari menjauhiku dan mengajak semua temannya pergi dari tempat mereka duduk sebelumnya.
Lalu, begitu saja tengkukku bergidik. Mengapa melihat keadaan Seyna justru membuat batinku lebih hancur dibanding melihat Asya. Gadis itu tak sedikit pun memberi hormat bahkan menghargai ucapanku. Ia pergi dengan santainya bersama kumpulan pemuda itu.
Kupejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan berdoa agar tak terjadi sesuatu apapun yang menimpanya. Aku diam, lalu memutuskan untuk ke sekolah tempat aku, Seyna dan Asya sekolah.
Tina di sekolah, perasaan ini semakin tak karuan, dan semakin menjadi ketika melihat bangunan berwarna hijau ini tertutup rapat dengan tulisan siswa sedang belajar.
Kuparkirkan motor di depan gerbang lalu masuk perlahan. Riuh suara-suara guru mengajar dan siswa membuatku semakin gamang dengan sikap Seyna. Ruang guru terpampang jelas di sana. Aktivitas belajar masih dilakukan. Ketika kumasuk, semua menyambutku karena beberapa dari mereka juga guruku dulu.
"Andra! Alhamdulillah kebetulan kamu datang, Nak. Ibu mau bicara denganmu," wanita paruh baya itu bernama Hanif. Dia guruku yang kini pasti mengenal Asya juga Seyna. Aku diajaknya masuk ke dalam ruangan, dan kami berbicara di sana.
"Kamu pasti mau beritahu alasan Asya dan Seyna tak masuk sekolah kan?"
Aku diam lalu gelagapan.
"Jadi beritahu Ibu, ada alasan apa sampai Asya tak masuk? Ibu sebenarnya sudah mau ke rumah kalian. Kemarin Seyna bilang jika Asya sakit. Tapi ini sudah satu minggu Asya tak datang, dan hari ini Seyna juga tak masuk. Sebenarnya Asya sakit apa Ndra? Ibu mau beritahu dia, jika nilai rapot dia lulus untuk masuk syarat seleksi beasiswa di departemen pendidikan."
Aku beringsut. Lalu menarik napas panjang.
"Beasiswa?"
"Ya."
Kabut kini menutupi pandanganku. Dan semua mimpi Asya telah hancur.
"Terus ada satu hal lagi yang ingin ibu beritahu."
"Katakan Bu."
"Ini tentang Seyna. Belakangan dia juga jarang tak masuk, dengan beberapa teman lainnya. Ibu khawatir, dia justru nongkrong nggak jelas di luar sana. Karena ada yang melapor jika mereka membolos."
Kutarik napas dalam-dalam. Keduanya begitu membuatku sesak.
"Bu, Boleh saya bertanya?"
"Silahkan Ndra."
"Apa Asya di sekolah memiliki musuh? Atau orang yang tidak s**a dengannya?"
"Hmmm, setahu Ibu tak ada. Justru Seyna yang sering membuat ulah."
"Ulah?"
"Ya. Dia sama sekali tak takut dengan siapapun. Saat tidak s**a ia akan bertengkar dengan temannya. Selalu seperti itu."
"Apa Seyna pernah bertengkar dengan Asya?" tanyaku cemas.
"Sepertinya tidak, memangnya ada apa Ndra? Apa terjadi sesuatu dengan Asya?" Mata Bu Hanif mendelik, rasa ingin tahu begitu besar terbaca.
"Tidak ada apa-apa Bu. Maafkan Seyna ya bu. InsyaAllah saya sebagai kakak akan menasehatinya dan mendidiknya lebih baik lagi. Kemudian untuk Asya, sepertinya ia takkan melanjutkan sekolah bu."
"Loh! Kenapa?"
"Asya memutuskan untuk menikah bu. Dia takut saya pergi, makanya meminta agar saya nikahi dan Alhamdulillah kemarin kami sudah sah."
Wanita di depanku diam. Tiada raut wajah kebahagiaan di sana. Karena kuyakin, ia pun berpikir sama. Mengapa seseorang tega menikahkan Asya di usianya yang masih belia.
"Ibu ikut senang. Meski sebenarnya sangat disayangkan kenapa Asya harus memilih untuk menikah muda."
Aku menunduk malu.
"Oh ya, ini surat pemanggilan orang tua untuk Seyna juga Asya. Berhubung kamu sudah datang, jadi surat ini diabaikan saja ya."
"Baik, bu."
Aku bangkit, mendadak begitu saja perasaanku menjadi tak karuan. Mengapa Seyna dan Asya seperti memiliki hubungan khusus. Pelan aku merambat menuju pintu keluar, sampai tak lama Bu Hanif menghentikan langkahku. Ia mendekat lalu berkata.
"Ibu baru ingat, jika tiga bulan lalu Asya pernah melapor jika ada teman-temannya yang merokok di kantin. Dan saat itu, saat guru BK memanggil mereka, ada Seyna di antara mereka. Apa ini ada kaitannya dengan ...."
Mataku kembang kempis mendengarnya. Sesak dan mulai merangkai satu per satu setiap kejadian. Jika benar semua ini terjadi, maka Seyna pun bisa menjadi penyebab kehancuran Asya.
"Tidak bu, terima kasih."
Lemas aku melangkah, sampai kusadari jika penyelidikan justru bermula di sini. Bukan kakek, paman Abdi, tapi Seyna adikku sendiri.
Air mataku terbang, seperti ada beban di dada yang membuatku menjadi tersangka. Aku kembali ke rumah, buru-buru menemui Asya.
Meski sepanjang perjalanan pikiranku terbang memikirkan Seyna. Begitu keras perangainya membuatku begitu berat menanggung kata Imam di pundak. Bagaimana jika aku tak bisa menjaga adik-adikku? Bagaimana jika Seyna penyebab Asya kehilangan masa depannya?
Batinku cemas. Sampai tak sadar aku sudah tiba di rumah. Kakek terlihat duduk di pelataran rumah, jemari dan mulutnya bergerak searah seperti sedang berdzikir. Aku menerabas masuk ke dalam kamar Asya. Dan begitu saja langkahku terhenti. Diam aku mematung pada seorang gadis berkerudung coklat yang tersinari wajahnya dengan cahaya pagi. Ia diam, matanya sendu, terlihat begitu rapi dengan pakaian serba hitam. Tak banyak bicara, ia mendekat ke arahku. Meraih punggung tanganku dan menempelkannya di hidung.
"Asya ... Asya sudah ikhlas dengan keadaan Asya. Mas Andra tak usah mencari tahu, siapa yang salah, karena itu hanya melukai perasan Asya. Asya ikhlas, ikhlas dengan bayi ini, ikhlas dengan Mas Andra. Ikhlas," ucapnya sesenggukan.
"Tapi, jika Mas Andra mau melepas Asya nanti. Asya juga ikhlas. Tak apa Mas. Asya masih ada Ibu, juga punya Allah yang bisa memberikan masa depan yang lebih baik untuk Asya juga anak Asya. Maafkan Asya yang sudah merepotkan Mas Andra ya. Maaf ...."
Kutarik tubuhnya, lalu mendekapnya erat. Ia sesenggukan menangis di pelukanku. Dan aku tenggelam bersamanya. Kukatakan padanya, seraya mengusap kepalanya yang telah terbungkus hijab.
"Mas janji, akan bersama Asya. Asya mau ikut Mas Andra?"
Ia mengangguk-angguk lalu melirih, "Asya sayang Mas Andra." Kulepaskan semua gundah dan ketidaknyamanan. Membiarkan Asya tenggelam bersamaku, setidaknya sampai dirinya telah terbebas dari belenggu, ketika itu aku akan meninggalkannya.