Pena Hijrah

Pena Hijrah Semua Berita ada disini dengan sumber terpercaya!

Kesombongan Menghalangi HidayahPembaca yang budiman, a’azzaniyallahu wa iyyakum, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ...
05/03/2026

Kesombongan Menghalangi Hidayah

Pembaca yang budiman, a’azzaniyallahu wa iyyakum, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan dalam sebuah hadits bahwa tidak akan masuk surga orang yang ada di dalam hatinya terdapat kesombongan. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “tidak akan masuk surga, orang yang ada di dalam hatinya sebesar biji sawi kesombongan”. Lalu ada seorang lelaki dari sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: “wahai Rasulullah, salah seorang dari kami ingin agar bajunya bagus, demikian p**a sandalnya bagus, apakah itu termasuk kesombongan wahai Rasulullah?”. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Adapun kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia“ (HR. Muslim, no.91).

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa kesombongan menghalangi seseorang untuk masuk ke dalam surga. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga menjelaskan hakikat kesombongan, bahwa kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh manusia. Ketika suatu kebenaran telah sampai kepada seseorang, berupa Al Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, kemudian ia menolaknya karena kelebihan yang ia miliki atau kedudukan yang ia miliki. Maka ini menunjukkan adanya kesombongan dalam dirinya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan, sombong itu menolak kebenaran, dan kebenaran itu adalah apa yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, berupa Al Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Betapa banyak kesombongan yang menyebabkan seseorang terhalang dari kebenaran. Lihatlah iblis la’anahullah, ia tidak mau sujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam karena kesombongan yang ada dalam hatinya. Allah Ta’ala berfirman: “ia enggan dan sombong sehingga ia pun termasuk orang-orang kafir” (QS. Al Baqarah: 34). Lihatlah Fir’aun, ia merasa merasa sombong dengan kelebihannya, ia merasa sombong dengan kedudukan yang ia miliki. Sehingga ia menolak dakwah yang disampaikan Nabi Musa ‘alaihisshalatu was salam. “Kami utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa” (QS. Yunus: 75). Maka lihatlah wahai saudaraku, orang yang bersombong diri biasanya ia tidak bisa mendapatkan hidayah dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Dan Subhaanallah… dalam hadits ini seorang sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, “wahai Rasulullah, salah seorang dari kami ingin agar bajunya bagus, demikian p**a sandalnya bagus, apakah itu termasuk kesombongan?”. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam seakan mengatakan, “itu bukan kesombongan, Allah itu indah dan mencintai keindahan”. Artinya pakaian yang bagus bukan termasuk kesombongan sama sekali, bahkan itu suatu hal yang dicintai oleh Allah karena menunjukkan keindahan sebagai suatu nikmat yang diberikan oleh Allah. Bahkan memperlihatkan kenikmatan adalah bentuk rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah s**a melihat tampaknya bekas nikmat Allah pada diri hamba-Nya” (HR. Tirmidzi, no.2819. Ia berkata: “hasan”, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’).

Akan tetapi kesombongan itu ketika seseorang menolak kebenaran atau ia menganggap remeh orang lain. Baik karena orang yang ia remehkan itu miskin atau ia lebih rendah derajatnya dalam masalah ilmu dan amalan shalih.

Lanjut baca: https://muslim.or.id/27448-kesombongan-menghalangi-hidayah.html
Ust. Abu Yahya Badrusalam, Lc.

BAHAYA MAKSIAT DIBULAN RAMADHAN Hakikat dosa kemaksiatan di bulan Ramadan serta bahayanyaSudah menjadi keharusan bagi se...
05/03/2026

BAHAYA MAKSIAT DIBULAN RAMADHAN

Hakikat dosa kemaksiatan di bulan Ramadan serta bahayanya
Sudah menjadi keharusan bagi seorang muslim, baik itu di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya untuk selalu berusaha melawan hawa nafsunya yang senantiasa menyuruh dirinya kepada keburukan. Dengan demikian, hati dan jiwanya itu menjadi tenang dan selalu mendukung dirinya dalam berbuat kebaikan. Seorang muslim juga wajib bagi dirinya untuk memerangi musuh Allah Ta’ala, yaitu iblis laknatullah dan bala tentaranya, sehingga ia selamat dari keburukan dan tipu daya mereka.

Bulan Ramadan merupakan bulan yang paling mulia. Bulan yang di dalamnya penuh ampunan, rahmat, dan keutamaan. Oleh karena itu, amalan kebaikan di dalam bulan Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya. Begitu pun maksiat-maksiat pada bulan Ramadan dosanya menjadi lebih berat dan lebih besar.

Dosa di bulan puasa bukan berarti menjadi berlipat ganda sebagaimana pahala, hanya saja kadar dan nilainya lebih besar dibandingkan ketika maksiat itu dilakukan di luar Ramadan. Karena sejatinya, hakikat dosa tidaklah sama dengan hakikat pahala. Allah Ta’ala berfirman,

مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (QS. Al-An’am: 160).

Di dalam kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir disebutkan,

“(maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya). Tidak lebih dari itu, sesuai dengan besar dan kecilnya keburukan tersebut. Perbuatan syirik akan dibalas dengan siksa yang kekal di neraka. Orang beriman yang berbuat maksiat akan dibalas dengan balasan setimpal sesuai dengan siksaan yang telah dijelaskan ukurannya apabila ia tidak bertaubat. Adapun bagi orang yang telah bertaubat dan amalan kebaikannya mengalahkan amal keburukannya, atau Allah memberikan rahmat dan karunia ampunan-Nya kepadanya, maka ia tidak akan disiksa.”

Walaupun dosa di bulan Ramadan itu tidak dilipatgandakan, tetap saja ia lebih parah dari dosa bermaksiat di bulan-bulan lainnya. Di dalam kitab Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih, beliau menyebutkan perkataan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,

قال الشيخ تقي الدين: المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان

“Syekh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumnya dilipatgandakan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut.”

Banyak sekali dalil-dalil yang mendukung kaidah ini. Diantaranya,

وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Siapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih” (QS. al-Hajj: 25).

Baru sebatas keinginan untuk berbuat kezaliman di Mekah saja sudah Allah Ta’ala berikan ancaman berupa siksa yang pedih. Di sisi lain, kalau itu dilakukan di luar tanah haram (Mekah) maka Allah tidak akan menghukumnya dengan siksaan kecuali ketika kezaliman itu telah dilakukan.

Selengkapnya https://muslim.or.id/73446-bahaya-maksiat-di-bulan-ramadan.html

BACA DZIKIR INI SETELAH SHALAT SUBUH DAN MAGHRIBRasulullah ﷺ bersabda: 'Barangsiapa setelah shalat Maghrib dan Shubuh me...
25/05/2022

BACA DZIKIR INI SETELAH SHALAT SUBUH DAN MAGHRIB

Rasulullah ﷺ bersabda:
'Barangsiapa setelah shalat Maghrib dan Shubuh membaca:

اإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

LAAAILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU YUHYII WAYUMIITU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAIN QODIIR.

Artinya:
Tiada Tuhan yang haq disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu baginya. Hanya milikinya segala kerajaan dan hanya milikinya segala puji, baik yang hidup atau mati, Dialah Dzat yang kuasa atas segala sesuatu.

sebanyak 10x, Allah akan tulis setiap satu kali 10 kebaikan, dihapus 10 kejelekan, diangkat 10 derajat, Allah lindungi dari setiap kejelekan, dan Allah lindungi dari godaan syetan yang terkutuk."
(HR. Ahmad IV/227, at-Tirmidzi no.3474)
___________________⁣⁣

Riba Maisir GhararAnda boleh tak setuju dengan saya. Tapi inilah realita. Kaum modern akan mengatakan sedia payung sebel...
25/05/2022

Riba Maisir Gharar

Anda boleh tak setuju dengan saya. Tapi inilah realita. Kaum modern akan mengatakan sedia payung sebelum hujan.
Tapi bagi kami, cukup Allah سبحانه و تعالى, Rasulullah ﷺ, dan jamaah kaum beriman.

BERDOA DENGAN UCAPAN:“YA ALLAH AMPUNILAH AKU JIKA ENGKAU MENGHENDAKI”Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah be...
25/05/2022

BERDOA DENGAN UCAPAN:
“YA ALLAH AMPUNILAH AKU JIKA ENGKAU MENGHENDAKI”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda,
“Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berdo’a dengan ucapan: “Ya Allah, Ampunilah aku jika Engkau menghendaki”, atau berdo’a: “Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki”, tetapi hendaklah meminta dengan mantap, karena sesungguhnya Allah ta'aala tidak ada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu”. (HR.Bukhari no.6339 dan Muslim no.2679)
Dan dalam riwayat Muslim, disebutkan:
“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Ia berikan”.
Kandungan bab ini:
1. Larangan mengucapkan kata: “jika engkau menghendaki” dalam berdoa.

2. Karena [ucapan ini menunjukkan seakan-akan Allah merasa keberatan dalam mengabulkan permintaan hamba-Nya, atau merasa terpaksa untuk memenuhi permohonan hamba-Nya]. 3. Diperintahkan untuk berkeinginan kuat dalam berdoa.

4. Diperintahkan untuk membesarkan harapan dalam berdoa.

5. Karena [Allah Maha Kaya, Maha luas karunia-Nya, dan Maha Kuasa untuk berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya].
Sumber: kliksunnah

25/05/2022

Kata Allah dalam Al Qur'an
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
"Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah Aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." [Qs. AliImran: 31]
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu." [Qs. Alahzab: 21]

Jangan lupa follow & Support .khalidbasalamah

24/05/2022

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
___________________________

👤 Ustadz Firanda Andirja

💻 Judul full video : dosa dosa yang tidak disadari kaum wanita

📱 Link full video : https://youtu.be/dfdrxnyGen8
___________________________

Semoga bermanfaat
🔃 Silahkan Repost semoga bermanfaat

KISAH AMIR BIN AL-AKWA, MENDAPAT SYAHID DI PERANG KHAIBARAmir bin Amr bin al-Akwa, merupakan saudara dari Salamah bin Ak...
11/05/2022

KISAH AMIR BIN AL-AKWA, MENDAPAT SYAHID DI PERANG KHAIBAR

Amir bin Amr bin al-Akwa, merupakan saudara dari Salamah bin Akwa, seorang remaja yang diberi gelar oleh Rasulullah ﷺ sebagai Pas**an Pejalan Kaki Terbaik. Sehingga sahabat Amir lebih dikenal di kalangan umat Islam dengan nama Amir bin Akwa.
Dua saudara bani al-Akwa Aslam ini mengikuti perang Khaibar untuk memerangi kaum Yahudi. Kala itu, Amir bin al-Akwa mengundangkan sebuah syair untuk membangkitkan semangat para mujahid di medan perang:
"Kalau tidak karena engkau (wahai Muhammad), tidaklah kami mendapat hidayah, tidak melaksanakan salat dan membayar zakat. Kami dicukupkan dengan kelebihan engkau, maka turunkanlah atas kami ketenangan, Dan teguhkanlah kaki-kaki kami menghadapi musuh dalam peperangan ini…!!"
Nabi ﷺ diberitahu para sahabat tentang syair yang dilantunkan sahabat Amir tersebut. Beliau menanyakan siapa yang membaca syair itu.
"Amir bin Akwa, wahai Rasulullah…!!" kata seorang sahabat.
"Semoga Allah mengampuni Amir!!" kata Rasulullah ﷺ, yaitu pertanda beliau senang dengan apa yang dilakukannya.
Demikian juga dengan para sahabat yang menangkap pertanda itu. Jika beliau mengkhususkan berdo'a kepada seseorang dalam suatu pertempuran, maka ia akan menemukan Syahid di jalan Allah. Sahabat Amir juga memahami hal ini, ia menjadi sangat senang dan bersemangat dalam menggempur para musuh di hadapannya.
Saat pertempuran berkecamuk dengan sengitnya, lalu muncul seorang bernama Marhab, seorang pahlawan Yahudi yang sudah sangat dikenal akan keberanian dan kepintarannya dalam mengolah pedang di daerah Khaibar.
Di saat yang sama, ia lalu menantang duel sahabat Amir sambil menyombongkan nama besarnya di hadapan kaum muslimin. Seketika itu juga sahabat Amir meloncat ke hadapan Marhab sambil mengucapkan perkataan untuk mengimbangi kesombongan Marhab,
"Penduduk Khaibar tahu, akulah Amir, pahlawan perang yang perkasa, menyerbu musuh seorang diri tanpa takut apa-apa…!!"
Akhirnya keduanya bertempur dengan sengit, sepertinya kekuatan mereka berimbang. Pada suatu kesempatan, posisi Amir sedang berada di atas angin dan sangat menguntungkan, ia siap untuk segera memberikan pukulan terakhir dengan pedangnya untuk menghabisi perlawanan Marhab.
Namun tak disangka-sangka, hulu pedangnya melentur dan ujung pedangnya berbalik mengenai ubun-ubun kepalanya sendiri hingga ia tewas seketika. Pas**an muslim yang melihat peristiwa tersebut spontan berkata, "Kasihan Amir, ia terhalang memperoleh mati syahid…!!"
Melihat saudaranya gugur, Salamah bin Akwa yang berada tak jauh dari tempat itu merasa kecewa dan menyesal atas kejadian yang menimpa Amir. Ia memiliki argumen yang sama dengan kebanyakan sahabat lainnya, yaitu Amir mati karena bunuh diri, walau itu dilakukan tanpa sengaja. Tentu saja ia kehilangan pahala berjihad dan kematian sebagai syahid.
Ketika perang usai, Salamah menceritakan peristiwa yang menimpa saudaranya kepada Nabi ﷺ. Sambil meneteskan air mata, ia bertanya, "Wahai Rasulullah, benarkah pahala Amir gugur karena kematiannya tersebut?"
Rasulullah ﷺ dengan arif memberikan jawaban yang menentramkan, "Ia gugur sebagai pejuang (yakni mati syahid), bahkan ia memperolah dua macam pahala. Dan sekarang ini ia sedang berenang di sungai-sungai surga…!!!"
Akhirnya hati Salamah menjadi senang setelah mendengar penjelasan Nabi ﷺ. Bahkan kepergian saudaranya yang telah syahid itu telah menambah semangatnya untuk terus berjuang membela panji-panji agama Allah.

11/05/2022

Berbuat baiklah kepada istri kalian

"KISAH SAHABAT MULIA HUDZAIFAH MENJADI MATA-MATA NABI SAAT PRANG KHANDAQ"Ketika itu sedang terjadi perang Khandaq di Mad...
11/05/2022

"KISAH SAHABAT MULIA HUDZAIFAH MENJADI MATA-MATA NABI SAAT PRANG KHANDAQ"
Ketika itu sedang terjadi perang Khandaq di Madinah, dengan cuaca dingin yang gelap dan mereka sudah dikepung selama 45 hari.
Pada hari ke- 44 perang Khandaq terjadi, kaum Quraisy menyerang besar-besaran dari pagi hingga magrib.
Sampai para sahabat dan Nabi Muhammad telat melakukan salat ashar, hingga dilakukannya salat ashar pada waktu magrib.
Saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata kepada para sahabat untuk tidak menyalakan obor, agar para musuh tidak mengetahui posisi muslimin.
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata lagi barangsiapa yang bisa menyebrang ke area musuh dan membawa informasi, maka dia akan menjadi rekan Nabi di surga nanti.
Namun ketika itu tidak ada dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memberikan jawaban.
Ada dua riwayat, yang pertama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan “Hudzaifah Berdirilah”
Riwayat yang kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengelilingi para sahabat dan Hudzaifah berkata jika dia sedang kedinginan dan tidak memiliki selimut.
Kecuali selimut kecil yang diberikan istrinya, yang hanya bisa digunakan sampai lutut saja.
Lalu tiba-tiba Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak sengaja menyentuh kaki Hudzaifah yang dingin dan berkata “Siapa ini?”
Hudzaifah pun menjawab “Hudzaifah Ya Rasulullah”
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata lagi “Berdiri wahai Hudzaifah, kau yang bertugas”
Hudzaifah pun berdiri dan pergi ke area musuh untuk mencari informasi.
Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan hanya cari informasi saja lalu p**ang dan jangan melakukan apapun.
Ketika itu Hudzaifah pergi menyelinap ke pas**an sebanyak 10.000 itu, cuaca yang awalnya sangat dingin namun tiba-tiba menjadi hangat.
Pada saat itu bersamaan dengan Abu Sufyan yang balik dari benteng Quraizhah, lalu berkata kepada pas**annya “Berkumpullah ada sesuatu yang ingin saya katakana dan pastikan kalian mengenal orang-orang di sebelah, jangan sampai ada penyusup”
Akhirnya Hudzaifah yang ikut berkumpul mendengar perkataan Abu Sufyan, namun dia tidak melakukan apapun walau sedang memegang panah.
Karena dia mengingat wasiat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak melakukan apapun.
Lalu karena Hudzaifah takut saat ditanyai nama, dia melakukan hal yang cerdik.
Dia memegang tangan orang di sebelah kiri dan bertanya “Siapa kamu?” dan bertanya lagi kepada orang disebelah kanan “Siapa kamu?”
Hal itu membuat Hudzaifah tidak ditanyai oleh orang di sebelahnya.
Saat itu Abu Sufyan berkata untuk p**ang, dan Hudzaifah pun juga ikut p**ang.
Dan memberikan informasi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa kaum Quraisy telah bubar.
Hudzaifah telah menyelesaikan misinya dan tidur dengan p**as hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan menyenggol kakinya dan berkata “Bangunlah wahai tukang tidur”
Pada saat Hudzaifah bangun dan melakukan salat subuh, dan melihat pas**an Ahzab sudah bubar.
Sumber: Youtube Hidayah Indonesia

KEMBALIKAN HATIMU PADA FITRAHNYA ! Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA hafidzahullah Berbicara tentang hati be...
07/05/2022

KEMBALIKAN HATIMU PADA FITRAHNYA !

Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA hafidzahullah Berbicara tentang hati berarti membicarakan tentang bagian tubuh manusia yang paling penting dan utama, karena baik atau buruknya seluruh anggota badan manusia tergantung dari baik atau buruknya hati.[Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam kitab Syarhu Shahîhi Muslim, 11/29]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuhnya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.[HSR. Al-Bukhâri, no. 52 dan Muslim, no. 1599]

Di samping itu, hati merupakan tempat tumbuh kembangnya iman kepada Allâh Azza wa Jalla yang merupakan landasan utama kebaikan dan kemuliaan hidup seorang hamba di dunia dan akhirat. Ini berarti, mengusahakan perbaikan hati sama dengan mengusahakan perbaikan iman dan menyempurnakan pertumbuhannya.

🌐 Telegram: https://t.me/hijrahofficial1

Address

Bekasi

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pena Hijrah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share