Mutiara Balige Bookstore

Mutiara Balige Bookstore Toko buku, perpustakaan, ruang baca yang disediakan oleh Mutiara Balige Hotel untuk membangkitkan & meningkatkan literasi warga Balige dan sekitarnya.

Kenapa kita berutang kisah pengkhianatan Yudas?Karena darinya kita belajar untuk tidak berpikir dan merasa seperti Yudas...
24/03/2026

Kenapa kita berutang kisah pengkhianatan Yudas?

Karena darinya kita belajar untuk tidak berpikir dan merasa seperti Yudas, dalam mencintai Tuhan. Dengan bahasa yang lembut, novel ini menggambarkan secara rinci perasaan dan pikiran Yudas, sejak awal pertemanannya dengan Yesus sampai akhir pengkhianatannya yang mengejutkan, bahkan bagi dirinya. Perasaan dan pikiran Yudas barangkali mewakili perasaan dan pikiran kita ketika apa yang kita harap dari Tuhan tak muncul-muncul di hadapan kita, setelah menunggu dan pergumulan yang panjang. Saat ada masalah sulit lalu dihadapkan dengan Firman-Nya, muncul godaan, apakah Firman ini berlaku juga buat saya? Rasanya Firman ini hanya berlaku untuk orang itu, bukan saya. Novel ini memberi kita pemandangan yang jelas, bahwa meski kita melihat secara dekat banyak mukjizat Yesus terjadi pada banyak orang, tidak serta kita menundukkan pikiran dan perasaan kita, dan taat kepadanya.

Bacalah novel ini untuk sebuah pengalaman baru dalam membaca kisah Yudas.

Ratapan di Ujung Jalan
Sebuah novel oleh Eykel Tarigan
Rp65.000
Dapatkan di Toko Buku Mutiara Balige atau pesan ke WA 0822-5329-9110

Novel Ratapan di Ujung Jalan karya Eykel Tarigan sudah tersedia di toko buku Mutiara Balige. Harga Rp65.000 (harga promo...
11/03/2026

Novel Ratapan di Ujung Jalan karya Eykel Tarigan sudah tersedia di toko buku Mutiara Balige. Harga Rp65.000 (harga promosi).

Fiksi kristiani tentang Yudas Iskariot. Mendalam dan mengesankan.

BacaDiBaligeHalo warga Balige. Ikutan yuk! Bawa buku yang sedang kalian baca, lalu kita ngobrolin buku di sini. Ditunggu...
21/02/2026

BacaDiBalige

Halo warga Balige. Ikutan yuk!

Bawa buku yang sedang kalian baca, lalu kita ngobrolin buku di sini. Ditunggu ya.

Warna-warna sudah bukan merah kuning hijau biru aja loh!Apa warna favoritmu?
03/02/2026

Warna-warna sudah bukan merah kuning hijau biru aja loh!

Apa warna favoritmu?

Apa Kabar Honor Penulis Berbahasa Batak? Ngobrol dengan penulis itu memang asyik ya. Apalagi ngomong soal honor. Hmm.Ban...
01/02/2026

Apa Kabar Honor Penulis Berbahasa Batak?

Ngobrol dengan penulis itu memang asyik ya. Apalagi ngomong soal honor. Hmm.

Bang M Tansiswo Siagian , penulis novel Sortauli, bicara terus terang soal honor menulis. Ternyata, Sortauli adalah novel pertama yang ditulisnya dalam bahasa Indonesia. Artinya, buku-buku sebelumnya ditulis dalam bahasa Batak. Dan faktanya, menulis dalam bahasa Batak lebih menguntungkan.

Berikut tanya-jawab kami dengan beliau:

TBMB: Honor sebagai penulis berbahasa Batak, cukupkah untuk biaya sehari-hari di Toba?

MTS: Menulis itu buat saya kegiatan mengasyikkan, ada kepuasan tersendiri. Secara psikologis, menguntungkan karena saya bisa menyampaikan ide, nilai-nilai, moralitas dan karakter Batak Toba kepada pembaca saya. Secara finansial, menulis dalam berbahasa Batak Toba lebih menguntungkan dibanding menulis dalam bahasa Indonesia. Mungkin karena penggemar tulisan saya lebih banyak orang Batak Toba dan usia 40 tahun ke atas. Jujur, hasil menulis novel mencukupi biaya hidup sehari-hari.

TBMB: Buku yang paling menguntungkan secara materi?

MTS: Novel Amangbao Parsinuan. Buku itu dicetak ulang, dan hasilnya, saya bisa membangun rumah yang kami tempati sekarang.

TBMB: Wah, ini baru berita. Ada pesan untuk penulis-penulis muda berbahasa Batak?

MTS: Menulis, menulis, dan menulis. Awalnya mungkin tidak menggembirakan secara finansial tetapi percayalah, jika rajin menulis, dengan sendirinya makin dikenal, dan makin banyak peluang. Bicara tentang peluang, karena menulis, saya dilirik pemerintah. Beberapa waktu lalu Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumut menggandeng saya dalam kegiatan Marturiturian ke sekolah-sekolah di Kabupaten Toba.

TBMB: Ngomong-ngomong, Bang Tansiswo Ketua Pelaksana Balige Writers Festival tahun ini ya? Apa manfaat kegiatan BWF untuk penulis di Toba?

MTS: Buat saya pribadi, BWF membuat saya kenal beragam penulis Nusantara yang keren-keren. Di Festival ini, para penulis saling berbagi pengalaman. BWF tahun ini akan dilaksanakan akhir Juli. Hadir, kan?

TBMB: Pasti, d**g!

Eh, ada Naftali di Toko Buku Mutiara Balige. Tanya-jawab imajiner Toko Buku Mutiara Balige dengan Calon Pembeli hari ini...
31/01/2026

Eh, ada Naftali di Toko Buku Mutiara Balige.

Tanya-jawab imajiner Toko Buku Mutiara Balige dengan Calon Pembeli hari ini:

CP: Ini novel Ita Siregar yang baru, Kak? Tentang apa sih?

TBMB: Betul, Dik. Novel ini tentang Naftali cewek Jakarta metro dan Thiru cowok India konservatif. Cerita cinta mereka dengan bumbu budaya, keluarga, keyakinan, sosial, dan lain-lain.

CP: Pada Satu Festival di kaver buku itu apa maksudnya? Latar cerita di festival ya?

TBMB: Pertemuan Thiru dan Naftali memang di acara festival. Festival sastra tepatnya, Dik.

CP: Oh gitu. Tapi, kenapa begitu?

TBMB: Iya, penulisnya datang ke satu festival sastra dan terinspirasi bikin festival serupa. Saking seringnya bikin festival dia dijuluki ratu festival oleh beberapa teman dekatnya. Sejak tahun 2010 dia bikin festival, dan tidak di satu kota. Di Jakarta, di Makassar, di Balige, di Tahuna. Hihi.

CP: Hahaha... nggak capek tuh? Mobile juga penulisnya ya.

TBMB: Nanya terus. Jadi beli ndak, Dik?

CP: Jadi d**g, Kak. Berapa harganya?

TBMB: Sembilan puluh ribu.

CP: Nggak diskon, Kak?

TBMB: Belum, Dik. Biasanya kami diskon pas bulan bahasa atau hari-hari lain terkait buku. Pantau Instagram kami ya, Dik.

CP: Oke. Mauliate, Kak.

TBMB: Sama-sama. Ditunggu kunjungan berikutnya ya, Dik.

CP: Siap, Kak.


Kenapa sebuah kota penting diarsipkan?Taroetoeng beruntung punya mata Dian Purba  untuk memikirkan kota, tokoh-tokoh yan...
31/01/2026

Kenapa sebuah kota penting diarsipkan?

Taroetoeng beruntung punya mata Dian Purba untuk memikirkan kota, tokoh-tokoh yang pernah hadir di dalamnya, kejayaan masa lalu, dan kondisi sekarang. Masa depan kota bisa terbaca di sini, bukan?

Sudahkah warga Tarutung membacanya?

Tersedia di Toko Buku Mutiara Balige Jalan Tarutung 120 Balige.

Harga Rp89.000.


Pengarang M Tansiswo Siagian  menandatangani novelnya, Sortauli Putri Pendeta, untuk Sovia Simanjuntak , ajudan Bunda Li...
29/01/2026

Pengarang M Tansiswo Siagian menandatangani novelnya, Sortauli Putri Pendeta, untuk Sovia Simanjuntak , ajudan Bunda Literasi, Ibu Astita Simanjuntak.

Selamat membaca, Sovia, pesan sang pengarang.

Wah, fans baru nih!

Sortauli,lahir dari peristiwa keseharian yang dilihat dan kegelisahan yang mendesak di dalam hati seorang pengarang. Tok...
28/01/2026

Sortauli,

lahir dari peristiwa keseharian yang dilihat dan kegelisahan yang mendesak di dalam hati seorang pengarang. Tokoh perempuan muda ini dicipta untuk menyampaikan unek-unek pengarangnya.

Sesuai judul buku, Sortauli adalah seorang putri pendeta. Dia menjadi sumber kesadaran pengarang, karena dalam buku dikisahkan Sortauli tidak mencontoh perilaku orangtuanya yang pendeta, karena sikap yang jauh dari kesalehan. Tokoh novel ini justru melawan dengan keras dan berani, cara dan keinginan orangtuanya. Sortauli jauh dari perumpamaan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Malah, Sorta terpental jauh ketika lahir dari orangtua yang tunduk pada sikap hedonisme dunia.

Novel ini memberi harapan bahwa masyarakat sebubrah apa pun, ada tersembunyi kebijakan dan kebajikan.

M Tansiswo Siagian berkata, setelah novel ini terbit tahun 2024 lalu, banyak pembaca yang juga para pendeta, mengaku apa yang disampaikan di dalam novel, benar adanya, terjadi dalam masyarakat. Menanggapi itu M Tansiswo akan berkata, itu hanya kisah fiksi. Tentu saja, fiksi dengan latar fakta.

Memang benar bahwa salah satu fungsi sastra adalah cermin di mana masyarakat bisa melihat kehidupan sosial dan budaya pada saat buku itu ditulis.

M Tansiswo Siagian adalah pengarang yang tinggal di Toba belakangan ini. Dia terutama menulis cerita dalam bahasa Batak. Beberapa penghargaan telah didapatnya. Sehari-hari dia menulis, berkebun dan berladang bersama istri tercinta, sesekali siaran di radio tentang budaya Batak. Bersama Ita Siregar , Tonggo Pardede, Grace Doloksaribu, dll, ia menyelenggarakan festival bagi penulis:

Novel 203 halaman ini diterbitkan oleh tahun 2024.

Harga buku Rp75.000

Sastrawan asal Balige, emang ada?Ada d**g. Namanya Bokor Hutasuhut, lahir pada 2 Juni 1934 di Balige.Bokor sekolah di HI...
26/01/2026

Sastrawan asal Balige, emang ada?

Ada d**g. Namanya Bokor Hutasuhut, lahir pada 2 Juni 1934 di Balige.

Bokor sekolah di HIS di Soposurung Balige tahun 1946, lanjut ke SMP Excelcior di Medan tahun 1953 dan masuk SMA Setia Budi Bagian C (bahasa dan sastra), tetapi pindah ke SMA Pembaruan ketika naik kelas dua. Ia tidak lulus ujian akhir SMA karena Bahasa Indonesianya dinilai tidak mencukupi. Padahal, cerpennya Datang Malam yang dimuat di majalah Kisah, waktu itu oleh pemerintah dijadikan bahan mata ujian akhir Bahasa Indonesia bagi siswa SMA bagian B-I di seluruh Medan.

Tahun 1950-an ia mendirikan Gabungan Sastrawan Muda di Medan dan membuka cabang di setiap kota dan kabupaten di Sumatra Utara. GSM bergiat menggelar pertunjukan teater dan kegiatan sastra di Sumatra Utara.

Tahun 1962 ia ke Jakarta, terlibat dalam organisasi dan kegiatan sastra. Pada Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI) tahun 1964, ia menjabat sebagai Sekjen. KKPI dihadiri 350-an pengarang dan disponsori pendukung Manifes Kebudayaan.

Manifes Kebudayaan merupakan perlawanan 20 seniman Indonesia terhadap Lekra. HB Jassin menulis surat kepada Bokor pada 22 September 1964, meminta pertimbangan agar mencari jalan ke luar agar kaum Manifes tidak terus dianiaya oleh Lekra yang berlindung di balik Pemimpin Besar Revolusi waktu itu.
Menurut Hardi dalam Kompas, 4 Februari 2001, Bokor dan Pram saling serang dalam perang wacana tentang orang revolusioner atau bukan.

Karya-karya Bokor berkisah latar budaya, kehidupan sehari-hari dan pandangan hidup masyarakat Batak. Ayahnya seorang pendakwah yang pergi ke desa-desa, dan Bokor sering diajak. Saat bersama itulah ia banyak bertanya kepada ayahnya tentang adat budaya Batak, menyikapi sesuatu hal, apa yang harus dilakukan bila bertemu binatang buas. Hal-hal itu mengendap dalam pikirannya, kemudian tertuang dalam Novel Penakluk Ujung Dunia.

Ketika terbit tahun 1965, novel itu banyak mendapat tanggapan di antaranya dari HB Jassin, Jakob Sumardjo. Terbit ulang tahun 1988 oleh PT Pustaka Karya, dan ketiga oleh Penerbit Lingkup pada 2024, dalam rangka Balige Writers Festival.

Address

MUTIARA BALIGE HOTEL/Jalan Tarutung No. 120
Balige
22312

Opening Hours

Monday 08:00 - 18:00
Tuesday 08:00 - 18:00
Wednesday 08:00 - 18:00
Thursday 08:00 - 18:00
Friday 08:00 - 18:00
Saturday 08:00 - 18:00
Sunday 08:00 - 18:00

Telephone

+628151653447

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mutiara Balige Bookstore posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Mutiara Balige Bookstore:

Share

Category