07/11/2025
"Anak yang bermasalah di sekolah, biasanya sedang berteriak minta dipahami di rumah."
Belakangan ini ramai kasus guru yang dilaporkan karena menampar muridnya.
Ada yang katanya merokok di sekolah, ada juga yang manjat pagar sampai roboh.
Reaksi publik pun terbelah — ada yang membela guru, ada juga yang membela anak.
Tapi kalau kita mau jujur dan tenang sejenak…
Anak yang berperilaku “nakal” di sekolah, sering kali sedang membawa luka dari rumah.
Seperti kata Sarah Ockwell-Smith dalam bukunya Gentle Discipline,
“Perilaku anak adalah bahasa dari perasaannya.”
Anak yang melawan bukan selalu karena ingin menantang, tapi karena belum tahu cara lain untuk mengekspresikan diri.
Namun di sisi lain — guru juga manusia.
Bayangkan menghadapi 30 anak dengan karakter dan emosi berbeda, sementara di rumah, banyak orang tua mendidik satu anak saja masih sering kehilangan sabar.
Guru bukan malaikat, mereka pun bisa sampai di batas lelah dan marah.
Tentu saja, kekerasan tidak bisa dibenarkan. Tapi kita juga perlu berhenti selalu membela anak tanpa melihat akar masalahnya.
Kadang, rasa sayang yang berlebihan justru berubah jadi pembelaan yang membutakan.
Kita menutup mata terhadap kesalahan anak, menganggap nakalnya hal sepele, padahal di situlah awal kebiasaan buruk terbentuk.
Jangan sampai anak tumbuh tanpa tanggung jawab karena terlalu sering dibela.
Didik dengan kasih, tapi juga dengan batas yang jelas.
Bersikap lembut bukan berarti selalu membenarkan — tapi tetap tegas dalam cinta.
Mari berhenti melihat kasus seperti ini hanya dari sisi emosi.
Karena anak yang “bermasalah” tidak lahir tiba-tiba — mereka tumbuh dari rumah dan lingkungan yang perlu kita perbaiki bersama.
💬 “Butuh satu kampung untuk membesarkan seorang anak.”
Dan kampung itu termasuk: orang tua, guru, dan kita semua.
Disalin dari halaman Islamic parenting