09/05/2016
Sial atau beruntung..
Suatu pagi, saya bertanya kepada peserta training :" misalnya anda bangun terlambat menuju ke bandara.
Secara kalkulasi jelas tidak mungkin terkejar.
Tapi anda teruskan perjalanan ke bandara. Eh lha kok macet parah. Menurut anda sial atau beruntung???
Peserta :"sial bu.. sudah bangun telat ehh kena macet"
Saya : "lha.. ternyata penerbangan pesawat anda tertunda selama 4 jam. Sehingga anda bisa naik pesawatnya, alias tidak tertinggal pesawatnya. Ini anda sial atau beruntung??
Peserta :"waah beruntung bu".
Saya :" nah diruang tunggu yang sama, ada orang yang mengejar kerjasama bisnis. Kalau terlambat ia akan kehilangan proyek bernilai milyaran rupiah.
Gara² delay pesawatnya, dia kehilangan proyek itu. Menurut anda, orang itu sial atau beruntung??
Peserta : " sial d**g bu ".
Saya : "nah, tapi beberapa bulan kemudian ternyata orang lain yang memenangkan proyek tersebut tertipu sampai milyaran rupiah.
Gara² pesawat delay 4 jam, orang itupun tidak kena tipu. Orang tersebut sial atau beruntung.
Peserta : "ya beruntung bu".
Dari percakapan diatas, nampak bahwa sebenarnya penilaian kita atas peristiwa bisa berubah seiring berjalannya waktu.
Ya, seiring waktu. Lalu kejadian setelahnya, maka penilaian kita atas suatu peristiwa, bisa berbalik 180°.
Sebuah peristiwa yang kita katakan sial pada suatu waktu, 6 bulan, 1 tahun, 10 tahun mendatang bisa jadi malah kita syukuri.
Mungkin saja, ada kejadian pagi ini, kemarin, 1 tahun lalu, 5 tahun lalu yang masih sulit diterima. " Beruntung dimananya??jelas jelas saya disakiti dan blaa bla blaa..
Mungkin seperti itu penilaian anda. Tapi, lihat saja seiring waktu berlalu.
Karena semua hal dalam hidup tidaklah tetap. Semuanya mengalir, semuanya berubah..
Penderitaan dimulai, saat kita kaku dalam melakukan penilaian. Kita terus menerus memegang penilaian atas sebuah peristiwa yang tidak enak. Dan menutup mata terhadap peristiwa selanjutnya.
Padahal sesungguhnya, peristiwa selanjutnya itu akan menjelaskan fungsi dari peristiwa yang tidak enak sebelumnya.
Kita akan tersesat di Jakarta, kalau menelusuri kota Jakarta tahun 2016 dengan menggunakan peta jakarta tahun 1950.
Kita perlu meng-update peta kota Jakarta yang kita miliki. Karena Jakarta teruslah berubah.
Demikian p**a, kitapun akan tersesat dalam hidup, saat kita tidak mengupdate peta penilaian kita atas suatu peristiwa.
Kita melihat orang dengan penilaian jadul. Kita menilai peristiwa dengan peta kadaluarsa.
Bisa jadi orang yang kita benci 5 thn lalu sekarang sudah berubah 180° menjadi orang baik. Lalu mengapa masih menjadi ganjalan dan penderitaan bagi kita??
Karena kita masih memegang erat peta lama dalam menilai orang tersebut..
Mari kita selau mengupdate peta kehidupan kita..
Selamat senin pagii :)